Ramai orang membicangkan tentang fenomena Jilboobs ( para perempuan yang menutup aurat tapi kain penutup kepala tidak menjulur sampai ke dada, sehingga lekukan tubuh terbentuk ) saya sebagai perempuan muslim yang menutup auratnya mempunyai pendangan tersendiri mengenai fenomena ini.

Jujur, saya menutup aurat berangkat dari pakaian yang biasa-biasa saja, saat itu usia kelas enam SD saya masih menggunakan jins ketat dan kaos-kaos panjang atau jaket plus kerudung paris yang tipis. Lalu ketika masuk ke Sekolah MTs saya masih menggunakan stlye yang sama, sampai pada akhrnya ketika kelas tiga MTs saya berubah penampilan saya secara perlahan-lahan, saya mulai tampil dengan rok panjang dan meninggalkan jins ketat. Pada masa itu saya mengikuti latihan beladiri, celana longgar olahraga menjadi stlye saya sampai sekarang jika berada di rumah atapun keluar rumah dengan jarak dekat. Sudah dapat dipastikan celana jins tidak pernah ada di lemari saya. Yang ada hanya celana olahraga dan rok-rok.

Lalu bagaimana pandangan saya tentag Jilboobs ? Weell, rangkulah mereka bukan justru dihina dan dicibir, saya selalu melatih diri saya untuk tidak merasa lebih baik dari siapapun. InsyaAllah saya terus melatih itu. Nah bagaimana dengan Jilboobs ? well mereka itu saudara-saudara kita, sesama muslimah. Sesama muslim jadi tolong jangan di hina seperti itu, apalagi sampai men-shere foto mereka tampa di sensor wajahnya. Coba pikirkan perasaan mereka ketika masyarakat sekaan-akan mengutuki mereka. Menurut pandangan saya itu hanya soal berjalannya suatu ilmu pengetahuan, kalian tahu hijrah itu sendiri kan ? saudara-saudara kita itu sedang berusaha memperbaiki diri, jadi jangan buat mereka merasa sampai islamphobia ketika umat muslim banyak yang mecaci maki mereka. Plese, bukan seperti itu carannya. . . jika menurut pemahan anda itu tidak baik yo rangkul silakan sampaikan dengan kalimat yang baik dan penuh dengan kasih sayang dan yang terpenting adalah doakan.

Apa artinya shalat kita jika kita suka melebeli orang salah dan kita paling benar ? ada keseombongan religiusitas dalam diri kita. Merasa kita paling oke, merasa palaing berhak menghuni surga. Sekali lagi, mereka itu saudara kita tolong jangan di sakiti, sebaiknya di rangkul dengan hangat.

Saya teringat akan kisah, seorang teman yang memakai cadar, tetapi kemudian ia melepas cadarnya dan kini menggunakan pakaian yang kekurangan bahan. Hanya karena perlakuan teman se-pengajiannya yang menganggungkan ukhuwah ternyata kosong, tidak ada apalikasinya. Saya juga teringat kisah guru saya yang ketika kuliah tidak di jabatkan tangan oleh seniornya karena kerudungnya tidak lebar dan tidak memakai rok. MasyaAllah, sesombong itukah kita ? merasa paling baik ?

Semoga catatan ini bisa di jadikan refleksi, terutama untuk saya sendiri untuk tidak pernah merasa paling baik dan paling benar dalam hal apapun, apalagi jika menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan keimanan

ada kutipan menarik. . .

” Semoga menyampaikan kebenaran itu tidak disertai hawa nafsu untuk menghakimi dan merasa paling baik. Dan Allah tak akan tertipu oleh kata-kata baik namun diselubungi hawa nafsu sekecil apa pun itu  Coba hisab diri sendiri, benarkah kita sudah lepas dari hawa nafsu menghakimi saat menyampaikan kebenaran? Silahkan jawab masing-masing saja dalam hati secara jujur, tidak usah pamer di muka publik – Alfahtri Adlin- “