Search

Pengeja rasa

Perempuan gila yang melakukan perjalanan menemukan bentuk

Month

September 2014

(Lagi) Surat Untukmu Gie.

(Lagi) Surat untukmu Gie.

Jumat kemarin aku ke toko buku langgananku. Hampir satu jam aku tidak menemukan buku yang menarik untukku beli. Di tengah keputusasaanku, aku melihat satu buku yang sangat menarik, terlebih karena kata pengantar ditulis oleh Ayu Utami, salah satu penulis perempuan terbaik negeri ini. Judul buku itu Sarongge karya Tosca Santoso.

Kau tahu Gie, ketika aku membuka buku itu di metro , sempurna hatiku teraduk perasaan bersalah, rupannya buku itu tentang perjuangan aktivis untuk menjaga hutan di sekitaran lereng Gunung Gede Pangrango. Seketika itu yang aku ingat adalah dirimu, bahkan aku hanya sanggup membaca buku itu di Metro sampai dua puluh halaman. Sepanjang perjalanan pulang aku terus menerus di hantui rasa bersalah.

Di benakku berputar-butar kalimat semacam: Kenapa buku ini berkaitan erat tentang puisi yang kau tulis Gie ? apa Tosca sengaja menulis ini untukmu ? tapi kurasa tidak, ini terlebih karena keadaan disana yang menyedihkan. Salah satu contoh untuk hutan-hutan di negeri ini. Buku ini membuatku sakit Gie.

Gie, maaf jika aku sampai detik ini belum menyelsaikan novel garapanku ( sebetulnya berisi surat-surat panjang ) yang memang benar-benar aku alamatkan padamu. Bahkan dalam jeda kepenulisan itu, kau datang ke dalam mimpiku. Aku titipkan permintaan maaf ini kepada salah satu kenalanku di Facebook, namanya Zaini aku menyandarkan sebutan abang di depan namanya. Setelah mengobrolkan hal-hal remeh ia bercerita bahwa ia dan kawan-kawannya akan pergi ke tempat pelitisanmu.

Kalau kau mau tahu Gie, sebenarnya aku iri sekali. Aku mendadak rindu dengan pohon Rasamala. Di Taman Gunung Gede Pangrango, rasamala yang menakjubkan dapat dilihat di jalur Cibodas-Cibereum, pada ruas kilometer pertama setelah pendakian. Ahli Botani memperkirakan rasamala itu sudah berumur 200 tahun. Apa kau juga menjumpainya Gie ? Menakjubkan sekali Rasalama itu bahkan sudah menyaksikan (mungkin) jutaan para pendaki yang lalu lalang di trek itu.

 

Hal-hal yang aku temui belakangan ini membuatku lagi-lagi merasa perlu menuliskan ini untukmu, sekedar memberi kabar setelah aku beberapa waktu ini menghilang. Meski aku masih sering mengajakmu berbicara hal-hal lucu di negeri ini.

Gie, kenyataanya kita membiarkan banyak orang tertindas di berbagai tempat, atau bisa jadi di samping rumah kita, sementara kita mengeruk keuntungan dari kehidupan yang gila ini. Seolah-olah kita sedang membangun kekayaan untuk keturunan-keturunan kita. Hal ini lah yang sekarang terjadi di berbagai pelosok hutan-hutan kita yang dekat dengan rumah penduduk. Semua ini terasa menyedihkan Gie, dan aku selalu ingin membagikan ini kepadamu. Sampai bertemu di suratku selanjutnya.

Menangis disinilah, sayangku

Edelwis kita yang mati

September yang menyulutkan api di lembah kasih

Menyisahkan rerumputan kering yang membelah lembah

Jangan mati seperti ini, sayangku

Hutan-hutan yang menjadi suram

Suryakencana yang tak lagi indah

 

 

 

 

 

 

Pergolakan Hidup. ( lembar pertama )

 

Pertunjukan teater malam minggu kemarin, mengingatkan aku akan kesedihan-kesedihan dalam hidupku. Intonasi para pemain dan ekspresi mereka seakan-akan memaksa kepalaku untuk terus memikirkan kegagalan-kegagalan dalam hidupku, atas apa saja yang telah aku pilih secara sembarangan tanpa bertanya pada A.

Sebelum menginjakkan kaki di gedung miss Tjiji, aku ceritakan perasaanku di bus Transjakarta dengan voulume suara yang sekecil mungkin, tapi kupikir orang-orang tetap saja bisa mendengar ceritaku, aku ceritakan pada guruku yang sepertinya sudah aku anggap kakak perempuanku, bahwa hidupku bahkan tidak berani berkata “tidak” bahkan untuk urusan yang nyata yaitu pilihan jalanku. Belakangan ini semenjak penawaran-penawaran untuk masuk ke suatu harakah, di bawah naungan partai yang kurasa masyarakat banyak yang tidak menyukainya. Aku merasa ada awan gelap yang sedang menyinggahi hidupku, bukan tentang ajakan-ajakan mereka, bukan itu. Tapi ini semua membuat aku merenungi keputusan-keputusan dalam hidupku yang aku kurasa aku ambil secara sembarangan.

Saat ini entah kenapa aku merindukan usia 12. 13, 14 tahun, saat aku merasa sanggup berdiri tegap diantara kenyataan-kenyataan menyakitkan. Ternyata menjadi dewasa dan semakin mengerti kan banyak hal, membuat tulang belulangku terasa sakit dan panas, seperti ada bara api yang di masukkan ke dalamnya. Bahkan dalam seminggu ini aku terus menerus di hantui oleh mimpi buruk, di mimpiku keluargaku satu persatu mati dan dikuburkan di depan mataku. Aku ingat bagaimana aku menangis sejadi-jadinya ketika dalam mimpi ayah tercintaku di makamkan, di mimpi itu bahkan aku bisa melihat kakak perempuanku ambruk. Seseuatu dalam kehidupan nyata yang mungkin belum aku temui. Terbangun dari mimpi-mimpi buruk, membuat aku terjaga beberapa jam. Kadang aku panggil mama dan menyuruhhnya untuk menemani aku tertidur. Kalau tidak seperti itu, aku mungkin tidak akan tertidur.

Kesalahan dalam hidupku lagi, saat menuliskan paragraf ini aku benar-benar merasakan kesedihan yang amat dalam. Aku merasa hidupku terlalu banyak digantungkan kepada orang lain.  Misalnya bagaimana takdir mengutukku untuk terus menerus merasa bersalah dua kali lipat dari anak-anak pada umumnya. Lalu apapun yang akau lakukan, kesalahan-kesalahan yang menyebabkan orang tuaku kadang mengumpatku, menyumpal telinggaku dengan kekesalan mereka atas tindakan-tindakan hidupku yang acuh, aku terkukung bertahun-tahun dalam egoisme.

Pagi ini aku bahan berpikir nakal, jika tuan Izrail mencabut nyawaku pagi ini aku siap, aku bahkan akan menyambutnya sebaik mungkin, memangnya apa arti kematian sekarang atau nanti ? apakah besok aku bisa menjamin diriku bahwa aku bisa berbuat lebih baik ? Aku tertawa sendirian, sekaligus menangisi sesuatu dalam hati.

 

Bahkan dalam hubungan aku dengan Tuhan , seringkali jatuh bangun.

Aku pernah bertanya pada seseorang, apakah ia pernah kehilangan makna hidup ? ia menjawab bahwa ia sering merasakan itu. Dan saat ini aku kehilangan makna hidupku, aku kehilangan semanggat untuk menginjakan kaki di kampus. Orang tua yang menjelaskan apa saja dengan marah-marah membuat aku lebih suka memilih tidur dan membaca puluhan buku yang aku pinjam dari perpustkaan. Meski aku tahu bahwa aku terkena teguran tersebab absensiku pada semester ini yang membuat mereka menggelengkan kepala. Padahal sudah aku katakan bahwa aku sedang sakit, aku lebih suka tertidur dari pada membuat teman-temanku tertular karena virus. Dan masuk kembali ke penjara dengan keadaan sehat (aku lebih suka menyebut intuisi pendidikan yang kaku apapun itu dengan sebutan penjara )

Pementasan teater itu bahkan aku akhiri dengan kegelisan sepanjang jalan, tema kebebasan yang mereka pilih membuat aku tercabik-cabik. Ya, aku mungkin tidak pernah bisa bebas dari kebebasan itu sendiri, tapi setidaknya bebas itu ada di dalam hatiku, walau tidak abadi itu cukup membuat aku berkata “ aku cukup bahagia sampai saat ini bukan ? “

Rasanya, aku ingin memeluk tubuhku sendiri dan membisikan sesuatu bahwa aku harus menghadapi kehidupan yang gila ini.Apapun yang terjadi ….

Jakarta 3 September 2014

Tidak ada (kebahagiaan abadi) untuk Perempuan Mahabarata

Perempuan-perempuan Mahabarata, kalau kita coba renungi dan pilih siapakah perempuan Mahabarata yang bahagia ? murni sekali mengalami kebahagiaan ? atau setidaknya tidak terlalu bermasalah ? Bagi saya tidak ada. Perempuan-perempuan mahabarata seakan-akan digariskan untuk hidup menderita. Bahkan Rukmini yang cantik itu, istri Khrisna saya rasa juga menderita rindu yang bertabuh terus menerus, tersebab kesibukan khrisna yang harus pergi kemana-mana.

Dimulai dari penderitaan Gandari

 

Gandhari yang harus menikah dengan seseorang pria buta, bahkan ia tidak diberikan kewenangan untuk berkata “tidak” atas pernikahan yang telah di atur ayahnya. Bagaimana bisa seseorag perempuan seperti Gandari yang sangat takut dengan kegelapan justru hidupnya di isi dengan kegelapan ? namun sebagai seorang perempuan Gandari tabah akan nasib yang memeluknya. Ya, Gandari seorang ibu yang katanya merasakan mati hingga seratus kali ketika anak-anaknya dibantai habis pada perang barthayuda.

Kedua, Amba.

 

 

 

Perempuan luar biasa yang berani berkata “tidak” dan memilih untuk memperjuangkan cintanya, meski yang ia cinta sudah mati di depan mata. Amba adalah sosok perempuan berani, sosok peremuan yang berani berteriak lantang pada sebuah tradisi yang selalu menempatkan perempuan untuk tunduk pada kekuatan. Bahwa perempuan berhak memilih jalan hidupnya.

 

Ketiga adaah Kunti, perempuan yang pernah membuang putranya dan menghanyutkannya di aliran sungai gangga. Ini adalah bentuk perlakuan buruk tetapi kalau kita mau coba pahami, rasa hormat dan tahta ayahnya lah yang membuat kunti membuang karna. Tapi itulah takdir, seakan-akan telah direncanakan semuanya. Selama hidupnya kunti menyaksikan anak-anaknya tidak bisa hidup tenang, anak-anaknya selalu menempuh ujian demi ujian begitupun dirinya.

Keempat, Drupadi . Pada kelahirannya yang tidak di inginkan, ayahnya berdoa bahwa ia akan menjadi perempuan yang menderita terus menerus. Maka terjadilah penderitaan itu bahkan sampai akhir hidupnya. Bagaimana ia dipermalukan dan selalu dikatakan sebagai seorang pelacur karena menikah dengan lima pandawa. Bagaimana ia harus menyaksikan perang besar dan kehilangan kelima putranya. Betapa hancurnya perasaan dia dan mencoba menerima ketika Arjuna menikah lagi. Hidupnya seakan-akan dipenuhi oleh tangisan.

Kelima, Subadra. Ya, istri kedua arjuna dalam kitab mahabarta ia adalah istri yang paling disayang arjuna. Kenapa bisa demikian ? padahal arjuna memiliki banyak istri ? yap, itulah sifat manusia yang sebenarnya tidak akan bisa adil. Drupadi saja lebih mencintai arjuna. Dan arjuna lebih mencintai subadra. Subadra harus menjalani belasan tahun tanpa arjuna di sampingnya, membesarkan abhimanyu seorang diri.

Tidak ada yang bahagia bukan ?

Blog at WordPress.com.

Up ↑