Pertunjukan teater malam minggu kemarin, mengingatkan aku akan kesedihan-kesedihan dalam hidupku. Intonasi para pemain dan ekspresi mereka seakan-akan memaksa kepalaku untuk terus memikirkan kegagalan-kegagalan dalam hidupku, atas apa saja yang telah aku pilih secara sembarangan tanpa bertanya pada A.

Sebelum menginjakkan kaki di gedung miss Tjiji, aku ceritakan perasaanku di bus Transjakarta dengan voulume suara yang sekecil mungkin, tapi kupikir orang-orang tetap saja bisa mendengar ceritaku, aku ceritakan pada guruku yang sepertinya sudah aku anggap kakak perempuanku, bahwa hidupku bahkan tidak berani berkata “tidak” bahkan untuk urusan yang nyata yaitu pilihan jalanku. Belakangan ini semenjak penawaran-penawaran untuk masuk ke suatu harakah, di bawah naungan partai yang kurasa masyarakat banyak yang tidak menyukainya. Aku merasa ada awan gelap yang sedang menyinggahi hidupku, bukan tentang ajakan-ajakan mereka, bukan itu. Tapi ini semua membuat aku merenungi keputusan-keputusan dalam hidupku yang aku kurasa aku ambil secara sembarangan.

Saat ini entah kenapa aku merindukan usia 12. 13, 14 tahun, saat aku merasa sanggup berdiri tegap diantara kenyataan-kenyataan menyakitkan. Ternyata menjadi dewasa dan semakin mengerti kan banyak hal, membuat tulang belulangku terasa sakit dan panas, seperti ada bara api yang di masukkan ke dalamnya. Bahkan dalam seminggu ini aku terus menerus di hantui oleh mimpi buruk, di mimpiku keluargaku satu persatu mati dan dikuburkan di depan mataku. Aku ingat bagaimana aku menangis sejadi-jadinya ketika dalam mimpi ayah tercintaku di makamkan, di mimpi itu bahkan aku bisa melihat kakak perempuanku ambruk. Seseuatu dalam kehidupan nyata yang mungkin belum aku temui. Terbangun dari mimpi-mimpi buruk, membuat aku terjaga beberapa jam. Kadang aku panggil mama dan menyuruhhnya untuk menemani aku tertidur. Kalau tidak seperti itu, aku mungkin tidak akan tertidur.

Kesalahan dalam hidupku lagi, saat menuliskan paragraf ini aku benar-benar merasakan kesedihan yang amat dalam. Aku merasa hidupku terlalu banyak digantungkan kepada orang lain.  Misalnya bagaimana takdir mengutukku untuk terus menerus merasa bersalah dua kali lipat dari anak-anak pada umumnya. Lalu apapun yang akau lakukan, kesalahan-kesalahan yang menyebabkan orang tuaku kadang mengumpatku, menyumpal telinggaku dengan kekesalan mereka atas tindakan-tindakan hidupku yang acuh, aku terkukung bertahun-tahun dalam egoisme.

Pagi ini aku bahan berpikir nakal, jika tuan Izrail mencabut nyawaku pagi ini aku siap, aku bahkan akan menyambutnya sebaik mungkin, memangnya apa arti kematian sekarang atau nanti ? apakah besok aku bisa menjamin diriku bahwa aku bisa berbuat lebih baik ? Aku tertawa sendirian, sekaligus menangisi sesuatu dalam hati.

 

Bahkan dalam hubungan aku dengan Tuhan , seringkali jatuh bangun.

Aku pernah bertanya pada seseorang, apakah ia pernah kehilangan makna hidup ? ia menjawab bahwa ia sering merasakan itu. Dan saat ini aku kehilangan makna hidupku, aku kehilangan semanggat untuk menginjakan kaki di kampus. Orang tua yang menjelaskan apa saja dengan marah-marah membuat aku lebih suka memilih tidur dan membaca puluhan buku yang aku pinjam dari perpustkaan. Meski aku tahu bahwa aku terkena teguran tersebab absensiku pada semester ini yang membuat mereka menggelengkan kepala. Padahal sudah aku katakan bahwa aku sedang sakit, aku lebih suka tertidur dari pada membuat teman-temanku tertular karena virus. Dan masuk kembali ke penjara dengan keadaan sehat (aku lebih suka menyebut intuisi pendidikan yang kaku apapun itu dengan sebutan penjara )

Pementasan teater itu bahkan aku akhiri dengan kegelisan sepanjang jalan, tema kebebasan yang mereka pilih membuat aku tercabik-cabik. Ya, aku mungkin tidak pernah bisa bebas dari kebebasan itu sendiri, tapi setidaknya bebas itu ada di dalam hatiku, walau tidak abadi itu cukup membuat aku berkata “ aku cukup bahagia sampai saat ini bukan ? “

Rasanya, aku ingin memeluk tubuhku sendiri dan membisikan sesuatu bahwa aku harus menghadapi kehidupan yang gila ini.Apapun yang terjadi ….

Jakarta 3 September 2014