Hidup saya , sudah saya persembahkan untuk orang lain, entah itu untuk keluarga saya, teman-teman saya dan siapapun yang pernah hadir di kehidupan saya. Maksudnya, saya tak mempersembahkan hidup ini untuk diri saya sendiri, kalau begitu saya akan mencari kebahagian dan kepuasaan-kepuasaan ataupun pembenaran-pembenaran untuk kebahagian saya sendiri. Kalau kalian pembaca setia tulisan-tulisan saya di blog ini, kalian akan mengerti, sebagian besar yang saya tulis adalah, orang-orang yang hadir di kehidupan saya. Sebab saya percaya, pertemuan dan perpisahan sudah ditakdirkan, saya suka sekali menyimpan orang baik dalam tulisan juga dalam hati, maksud saya agar saya selalu ingat akan kebaikan-kebaikan mereka dan kelak bisa membalasnya atau minimal bisa menjadi orang yang berlaku baik pada orang lain.
Saya rasa, saya perlu membuat kategori baru, ya anggap saja ini semacam arsip pembicaraan saya dengan seseorang, saya tak bermaksud membuatnya spesial itu bukan tujuan saya, tujuan saya adalah menulis agar saya ingat, lagi juga kalau saya menulis saya akan melakukan banyak perenungan.

Nokturnal dalam wikipedia Hewan giat malam atau hewan nokturnal adalah hewan yang tidur pada siang hari, dan aktif pada malam hari. Aktivitas yang merupakan kebalikan dari perilaku manusia (diurnal). Hewan nokturnal umumnya memiliki kemampuan pendengaran dan penciuman serta penglihatan yang tajam

p.s : Saya tak bermaksud menyamakan dengan hewan, saya pikir nokturnal cukup keren πŸ˜€

DIA BISA MENGHANCURKAN HIDUP SAYA.
Judul diatas, saya sengaja buat seheboh mungkin, sebab itulah yang saya tanggap ketika pelatih teater saya yang bernama Santo , menakut-nakuti saya yang sedang asyik makan sepiring nasi goreng. Cerita bermula saat saya ingin mendaftarkan diri ikut lomba membaca puisi. Saya , teman saya Fika dan guru bahasa saya ( sering saya ceritakan di blog ini bahwa beliau adalah guru Bahasa Indonesia saya semasa SMP, sampai saya lulus bertahun-tahunpun ia tetap dekat dengan saya, kami menjelma menjadi adik-kakak, atau bahkan ibu dan anak ) kami bertiga berangkat menuju Taman Ismail Marzuki ditemani oleh pelatih teater saya ( ia juga berkawan dengan guru saya ), lantas kami berempat memutuskan makan nasi goreng karena lapar.
Itu kedua kalinya saya ke TIM, sambil memakan nasi goreng, pelatih teater saya ( yang selanjutnya akan saya tulis Ka Santo ) memecah keseriusan makan nasi goreng
β€œ Kamu lahir tanggal berapa ? β€œ
β€œ 16 Juli kak β€œ
β€œ Serius ? β€œ
β€œ Iyalah serius β€œ
β€œ Gila, tanggal lahirnya sama kayak temenku yang namanya Budi β€œ
β€œ…..”
β€œ Kamu jangan kenal Budi deh, kamu bisa di ancurin sama dia, dia kerjaanya ngerusakin orang, orang bener di belok-belokkin sama dia β€œ
β€œ …. β€œ
Saya tidak menjawab, hanya senyum-senyum saja. Saat itu yang saya tanggap adalah β€œ Namanya Budi, dia bisa menghancurkan hidup saya ! β€œ
Pada tanggal 30 Maret, saya berkenalan dengan ka Budi lewat chat grup yang dibuat Bu Trini , di chat itu ada saya, ka Budi dan Bu Trini. Awalnya saya disuruh memanggilnya dengan sebutan β€œmas” entah kenapa saya kurang nyaman dengan panggilan tersebut, terkesan jaim. Jadi saya lebih memilih memanggilnya dengan sebutan β€œ kak” meski kadang saya menyesal kenapa dari dulu tidak memanggilnya dengan sebutan β€œabang” seperti yang dilakukan dengan adik fiksi saya Fatimah.
Saya menyukai Gie, menaruh hati pada sosok pria dengan nama lengkap Soe Hok Gie, yang kerap saya tulis dalam surat-surat, Gie adalah obrolan saya pertama dengan ka Budi, meski ka Budi sudah bilang bahwa Gie, baginya adalah tokoh pop.
Bahkan sampai saat ini saya tidak lagi melanjutkan apapun tentang Gie dengan ka Budi, membicarkan hal yang tidak menarik perhatian orang lain merupakan sesuatu ke sia-siaan.

Selanjutnya, pada tanggal 31 Maret , ka Budi mengirimkan dokumen pdf novel Totto Chan ke inbox facebook ia mengatakan

β€œnovel toto chan sangat inspiratif & saya selalu membagikan ke murid2 untuk bisa mengerti apa itu pendidikan sesungguhnya. biar jadi manusia merdeka haaa”

Bersambung . . .

Episode pertama,
Jakarta 20 Oktober 2014 diketik dalam rangka menjaga ingatan