Seperti yang telah kami rencanakan, aku dan kamerad serta ka Lundu dan ka Ria ( mereka adalah para pemai teater, kameradku adalah seorang astrada )  kami berempat pergi ke Pantai Jakarta.

Tengah malam sabtu seperti ini jalanan banyak di penuhi oleh muda mudi yang pacaran, bahkan sepanjang jalan dermaga kau mungkin akan mendapati puluhan pasangan yang berjejer entah membincangkan apa.  Aku sempat terdiam lama ketika memperhatikan puluhan gembok yang bertulisakan nama pasangan masing-masing, gembok itu terkunci dan aku yakin kunci itu di buang secara sembarang. Dengan dalih cinta mereka akan bertahan sampai kapanpun. Hatiku mendadak miris, kupikir hanya anak sekolah yang akan melakukan ini, aku ingat ketika aku duduk di sekolah dasar aku dan teman-teman acap kali menulis nama orang yang kita suka di belakang buku, berharap cinta itu abadi. Aku bahkan pernah mengukir nama seseorang di atas cetakan tanah liat berbentuk hati, lantas memasangkan tali emas, aku menyimpannya di bawah tumpukan baju tapi kemudian cetakan itu pecah. Dan, seseorang yang pernah aku tuliskan di sana telah aku lupakan dan sudah aku anggap tidak penting lagi.

 

Sewaktu berjalan mencari tempat yang nyaman, orang-orang banyak yang memperhatikan kehadiranku, mereka seolah-olah terheran-heran seorang perempuan berhijab dan  memakai rok panjang berwarna hitam tengah berjalan dengan seorang pria gondrong, berkacamata dan kurus di sampingnya. Aku memang amat merasa seperti di perhatikan, kameradku juga mengiayakan, namun aku dan kamerad seolah-olah tidak memikirkan apa yang ada di kepala orang-orang. Aku justru membuat lelucon sepanjang jalan. Aku teringat akan keputusan-keputusan dan segala tindakan gilaku yang aku lakukan, misalnya malam ini aku keluyuran di pantai Jakarta, tampak mencolok di antara muda-mudi yang pacaran.  Sudah lama aku menganggap Jakarta sudah tak memiliki sekat antara malam dan siang, aku tidak pernah takut keluar malam selama itu aman ( maksudku bersama orang yang aku kenal, dan pergi dengan minimal tiga orang ) orang-orang mungkin menanggap aku perempuan tidak benar. Terserah, aku bahkan sudah tidak peduli dengan komentar orang-orang yang sok tahu, kenal diriku saja tidak.

 

Kami berempat menemukan tempat yang nyaman untuk menikmati lampu-lampu yang bercahaya, di Pantai Jakarta kau tidak bisa mengharapkan deburan ombak yang bisa membuat kau terhipnotis, tidak ada. Di Jakarta tidak ada deburan ombak, kecuali jika kau berwisata di pulau Seribu.

Di sebuah tembok besar, aku bersusah payah menaikinya, ka Lundu langsung tertidur diatas batu, telinganya di sumpal oleh musik. Sementara ka Ria  melakukan hal yang sama tidur di sampingku, menyumpal telinganya dengan musik.

Yang duduk dan terjaga hanya aku dan kameradku, ada saja yang kita bicarakan seoalh-olah kita berdua memang tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Malam itu aku bertanya tenyang hubungan kameradku yang kandas bersama kekasihnya, mendengar ceritanya tubuhku seperti ikut terbelah. Aku membayangkan adegan demi adegan dan ekspresi kameradku ketika ia ditinggal menikah oleh kekasihnya. Padahal hubungan mereka sudah berjalan hampir delapan tahun.

 

Di penghujung kisah sedihnya, kameradku berkata bahwa bisa jadi itu kesalahnya , katanya dulu saat bertemu kekasihnya ia hanya memohon pada Tuhan untuk di dekatkan, dan Tuhan memang mengabulkan doanya untuk dekat tapi Tuhan tidak mempersatukan mereka dalam hubungan pernikahan. Aku teringat akan tulisan seseorang, bahwa apapun yang kita minta seharusnya lengkap. Tidak usah sepotong-sepotong begitu. Tapi aku yakin, mungkin itu jalan terbaik yang diberikan Tuhan untuk kameradku, saat-saat seperti ini seharusnya aku menyetel lagu “ kasih tak sampai-padi “.

 

Sudah sebulan ini emosiku sebanarnya datar-datar saja, bahagia yang tidak bahagia sekali, sedih yang tidak sedih sekali, atau marah yang berlebihan seperti yang acap kali dulu sering aku lakukan. Aku menjadi lebih tenang dari biasanya dan bagiku itu membahagiakan. Mendengar pengalaman-pengalaman kamaredaku yang memang menakjubkan membuat aku seperti melewati banyak pintu, aku suka mendengar cerita-ceritanya yang unik dan terkesan gila itu. Aku juga bercerita pada kameradku bahwa aku dihubungi seseorang yang dulu pernah berjanji ingin menikahiku setelah aku cukup umur, namun ia kemudian menghilang begitu saja. Dan aku benar-benar tidak peduli, baru baru ini aku tahu bahwa sampai detik ini ia bahkan belum menikah. Saat ia mengubungiku aku hanya membalas dengan seperlunya saja, aku tidak pernah membutuhkannya apalagi mencintainya.

 

Kami terus melanjutkan percakapan dengan sangat serius, aku bahkan sampai tidak mengantuk. Kameradku tidak setuju dengan hubungan bernama ‘pacaran’ katanya, pacaran adalah sebuah kebohongan yang di sepakati bersama, baginya cinta tak harus di ucapkan apalagi diresmikan lewat hubungan yang rentan rusak. Aku setuju dengan apa yang ia anut, sejak dulu aku bahkan tidak pernah menjalin hubungan pacaran dengan siapapun. Aku tidak suka digiring, aku tidak suka dilarang-larang sementara orang tuaku saja tidak pernah melarang apa yang aku inginkan. Bagiku pacaran adalah konsep yang menjenuhkan, bayangkan kau harus berbalas pesan atau menghubungi pacaramu setiap hari untuk menanyakan hal-ha yang sebenarnya sangat sempele sekali, sudah makan ? selamat tidur, sedang apa  ?

Aku tertawa bersama kameradku, rupanya ia satu prinsip urusan asmara denganku. Walaupun aku suka menulis, namun tentunya aku lebih suka lelaki yang sangat panik ketika aku menghadapi bahaya, di banding dia bergalau ria memikirkan aku dan menuliskannya di status facebook. Cinta adalah kata kerja, tidak perlu di tulisakan dan di ungkapkan itu tetap cinta tidak pernah berkurang nilainya.

 

Aku jadi teringat teman dunia mayaku namanya Jingga, ia menuliskan masalahnya panjang lebar di inbox facebook, bahwa ia ingin menikah dengan pria seniman yang ia cintai tapi tidak di beri restu oleh keluarganya. Orang-orang selalu menyangkan bahwa menghabiskan hidup dengan pria seniman akan membuat hidup  kita melarat, keuangan yang tak pasti konon menajadi muasabnya. Aku miris membaca pesannya di Facebook.

 

Obrolan panjang tentang cinta malam itu, membuat perasaanku benar-benar kosong, pasalnya aku sedang tidak berada di posisi membangun cinta, atau kasmaran. Aku sedang melenyapkan semuanya , termasuk cinta yang pada saat ini tidak terlalu penting.