Search

Pengeja rasa

Perempuan gila yang melakukan perjalanan menemukan bentuk

Month

February 2015

Sosok Lapar

Ragil Cahya Maulana

 

 

Pada 25 Agustus 2014 22:28

Tepat pada malam itu saya dengan selengekan menyapa makluk yang tidak diketahui jenisnya ini yang saya taksir bertinggi 167 cm berkulit sawo matang hampir gosong. Sebelum itu saya suka memperhatikan statusnya yang kerap bersilweran di beranda dan membenak: “ Orang ini Laper kenapa ya ? kok kaya di novel yang aku lihat itu sih ? “

 

Justru disitulah uniknya. Bang Ragil adalah salah satu tukang bekicot, ia sering mengangkat isu-isu lapar. Seperti kalian semua sadari bahwa sesungguhnya lapar adalah salah satu hal yang sering riweuh dalam diri kita, ia Rajin menuliskan pikiran-pikiran warasnya dan ringan jempol, tidak pernah berdebat dan berniat menculik Jonru dan sangat rajin menabung.

 

Usut punya usut, ternyata Bang Ragil mempunyai perpustakaan pribadi yang tidak boleh sembarangan siapapun meminjam bahkan dari kalangan seorang putri seperti saya. Saya curiga ia memasang kamera CCTV dan menggunakan sensor pada lemarinya, agar pelaku yang mengambil bukunya secara diam-diam dapat ditangkap secepat mungkin.

 

Suatu hari nan cerah ia menuliskan begini di akun facebooknya :

Rezim Orde Rame

 

Di antara 1.723 akun (itulah jumlah ‘teman’ saya di fesbuk sampai detik ini), saya yakin lebih dari setengahnya sudah almarhum alias tidak aktif. Di antara yang masik bergentayangan pun, tak banyak yang benar-benar nginspiratif. Maksud saya, jarang ada oknum yang punyak kesadaran politis menggunakan fesbuk sebagai media penyampai ‘pesan’ untuk membawa ummat pada kemaslahatan dunia-akherat. Saya lebih sering bersua dengan pihak-pihak “nggak jellas”–meminjam istilah Menteri Tedjo, yaitu kaum ngehek yang hobi ngintelektuil dengan nyettatus gondal-gandul-ngalor-ngidul tapi minim signifikansi, komen asal njeplak, nyebar-nyebar tautan berisi inpo-inpo sesat, dan berbagai kelakuan daring ndak jelas lainnya. Mereka saya nobatken subagai rezim orde rame yang sangat berbahaya bagi stabilitas batin dan pembangunan jiwa. Sialnya, setelah kronologi akun ini berkola-kali saya cek, ternyata saya jugak adalah bagian dari mereka yang ndak jellas itu… Kalok kamu?

 

Disitu kadang saya merasa sedih

 

Suatu ketika ia merekam perbincangannya dengan ibunya dalam sebuah catatan facebook ia bilang bahwa ia akan  beternak, ibunya sempat ngedumel dan berkata “Lha, kowe iki kan mahasiswa to, Le. Tak sekolahno tinggi-tinggi kok malah pengen nandur karo ternak. Piye to akalmu “  dan pola percakapan yang hampir sama terjadi pada saya dan Mamak “ Itu Mak, aku gak mau disuruh-suruh orang dan repot-repot berebut busway soalnya kakinya pegel. Aku mau usaha mandiri aja. “ disisi lain kakak perempuan saya nyeletuk “ Anak gak jelas ! seniman tuh gak ada duitnya !!” Saya hanya diam dan senyum simpul , alih-alih langsung mengajak kakak saya nongkrong di Restoran Kapitalis.  Mamak saya sempat protes “ Itu kaya si Anu kerja di Bank gajinya gede, enak beli aja apa bisa “

 

Lama kemudian, ia muncul dengan sebuah pengumuman yang sangat memilukan bahwa ia akan menutup akun facebooknya. Dengan berat hati saya menyetujui tindakan sistematisnya tersebut. Pernah suatu hari ia bilang begini di statusnya : “Pokoknya, tiap orang yang kenal denganku pasti menyesal. Entah menyesal sebab baru kenal sekarang atau menyesal gegara merasa sebaiknya tak pernah kenal saja… Terserah kamu mau jadi orang yang mana, tapi aku tetap aku”  Pada tanggal 3 Febuari  12:04 Bang Ragil menuliskan dalam sebuah kolom komentar “ Alangkah menyedihkan jika hidup hanya untuk bekerja “ Diam-diam saya amini lagi.

 

.Menjelang penutupan akunya, setiap hari ia menganti foto profil dengan angka yang berajalan mundur, terhitung dari sepuluh. Dan setiap kali ia menganti foto profilnya, saya meninggalkan jejak komentar dan emot-emot sedih.

 

Saya sempat mewasiatkan kepada Bang Ragil untuk tidak lupa mengirimkan surat via pos kepada saya itupun jika sempat. Sebab barangkali juga mau meminjamkan satu buku yang tidak pernah bisa saya mengerti sampai sekarang. Ingat itu ! Meminjamkan ( saya merasa buku  saya harus selamat dengan dibaca beliau )

 

Barusan, saya berhasil mengajukan beberapa pertanyaan yang justru dijawabnya di luar dugaan. Ia melakukan sebuah usaha teror mental .

Tidak , saya berhenti bilang Bang Ragil lucu, ia baru lucu jika memposting Teori Kuantum dan menjelaskan Genetika. Belakangan ini saya menyadari sesuatu bahwa sepertinya Tuhan bermain facebook. Justru lewat dunia maya, saya melakukan perenungan-perenungan yang kerap membunuh Jantung saya. Dan yang turut ikut serta menyumbangkan perenungan itu adalah Bang Ragil. Saya tahu, sadar betul bahwa saya sedang dihapkan pada dunia layar, seseorang bisa menjadi siapa saja disini, tapi saya memilih menjadi diri saya sendiri. Yang bisa asal saja menyapa, tanpa ada basa-basi “Salam kenal, kamu tinggal dimana , anak mana ? kamu cakep “

 

Dan perbincangan kami yang terakhir , ia bilang begini :”  Aku ingin berhenti menuliskan hal-hal personal. Aku ingin aku-ku hilang “ sekejap membuat saya meleleh. Malam ini pukul 11:15 saya tidak usah-lah ya, menjelaskan mengapa saya menulis ini. Alih-alih untuk kenangan dan mengarsipkan sesuatu, hmm… saya rasa itu hanya efek panjangnya saja.

 

Selamat malam. . .

 

Jakarta , 22 Febuari 2015

Sebuah Sumpah

Pergolakan hidup yang tak henti-hentinya berlangsung secara sistematis, kadang melumpuhkan akal sehat dan entah mana yang dikedepankan. Segalanya terlihat kabur, air mata yang kadang diam-diam menetes tanpa bermaksud riuh. Bantal kumal yang menjadi saksi dan menyimpan segala curah berabad-abad lamanya.

Ribuan kali diri mencoba menguatkan, diam-diam suka menangis di pojokan menyesali untuk mengulangi lagi. (?) Diri yang tak pernah kunjung berubah, yang terlalu banyak merebahkan tubuh di tempat tidur, tidak kunjung keras terhadap hidup. Padahal rindu melampui batas-batas. Diri keras terhadap orang lain tapi tidak padanya, mencoret dan mendiamkan sampai mati siapa saja yang mencoba membunuh diam-diam.

 

Kadang, ia berjalan pelan-pelan menyusuri lubang-lubang dan berubah wujud menjadi arwah pada klason-klason usang, orang-orang marah dan akan selalu cepat marah. Suara Adzan tidak mampu menumbuhkan bibit-bibit dan tak kunjung menumbuhkannya. Dunia nyata dan dunia maya yang terhubung satu linier, nyatanya semakin menambah konflik-konflik bathin dan pikiran. Diri memang butuh istirahat, tapi istirahat macam apa ?

 

Cinta . . .

 

Itulah yang harus digengam kuat-kuat, sebagaimana letto selalu mengulang “ Kemana kau pergi cinta ? “ Iya, cinta yang kaya akan makna universal. Aku ambil hikmah dari Mamak, Mamakku tidak menghabiskan hidupnya untuk lelah pada pergulatan tokoh dan deretan ideologi, tapi Mamak kaya akan cinta. Setiap kali aku berkali-kali nakal, berkali-kali tidak becus melakukan pekerjaan, Mamak tetap memberikanku makanan yang lezat, yang aku suka.Bukankah itu pertanda bahwa Mamak sudah melakonkan Cinta, mamak tidak sempat memikirkan itu apa. Segala celotehnya mungkin sudah patut aku renungi dalam-dalam untuk benar-benar aku konversikan dalam tindakan nyata, tidak lagi hanya angin lalu.

Mamak, menua meski belum terlalu tua, meski aku selalu memiliki firasat aku akan mati terlebih dahulu, entah kenapa begitu. . .

 

Diri masih sesak sejak semalam, sumpah harus ia ucapkan kembali. Bagaimana seseorang yang ia kira dapat mengantarkan ke jalan pulang. Semalam pergi begitu saja, dengan keluhan bahwa diri terlalu banyak bertanya, terlalu fanatik. Sejak membaca pesan tersebut, ia melihat jam seperti akan menghancurkan diri. Adakah terlalu lainnya ? Ada, benaknya.

Dibawah sumpah ia berkata “ Tidak akan pernah  mengajukan pertanyaan yang remeh- tidak akan pernah bertanya terus menerus- tidak akan pernah bertanya sebelum mencari tahu- Tidak akan pernah- Tidak akan pernah Kepada SIAPAPUN- “

 

Cuma Yang Terdalam, tidak akan berlalu demikian. Itulah mengapa kita perlu bersandar padanya, Setulus mungkin. . .

 

1/

Kepada siapa saja yang pernah mengantarkan kepada suatu jalan pulang. Terimakasih, hanya doa-doa yang mampu dirapal.

2/

Meminta maaf atas segala gerak-gerik yang menyebabkan horizontal patah dimana-mana

3/

Sendiri, akan selalu seperti itu. Bahkan Mati.

Blog at WordPress.com.

Up ↑