Pergolakan hidup yang tak henti-hentinya berlangsung secara sistematis, kadang melumpuhkan akal sehat dan entah mana yang dikedepankan. Segalanya terlihat kabur, air mata yang kadang diam-diam menetes tanpa bermaksud riuh. Bantal kumal yang menjadi saksi dan menyimpan segala curah berabad-abad lamanya.

Ribuan kali diri mencoba menguatkan, diam-diam suka menangis di pojokan menyesali untuk mengulangi lagi. (?) Diri yang tak pernah kunjung berubah, yang terlalu banyak merebahkan tubuh di tempat tidur, tidak kunjung keras terhadap hidup. Padahal rindu melampui batas-batas. Diri keras terhadap orang lain tapi tidak padanya, mencoret dan mendiamkan sampai mati siapa saja yang mencoba membunuh diam-diam.

 

Kadang, ia berjalan pelan-pelan menyusuri lubang-lubang dan berubah wujud menjadi arwah pada klason-klason usang, orang-orang marah dan akan selalu cepat marah. Suara Adzan tidak mampu menumbuhkan bibit-bibit dan tak kunjung menumbuhkannya. Dunia nyata dan dunia maya yang terhubung satu linier, nyatanya semakin menambah konflik-konflik bathin dan pikiran. Diri memang butuh istirahat, tapi istirahat macam apa ?

 

Cinta . . .

 

Itulah yang harus digengam kuat-kuat, sebagaimana letto selalu mengulang “ Kemana kau pergi cinta ? “ Iya, cinta yang kaya akan makna universal. Aku ambil hikmah dari Mamak, Mamakku tidak menghabiskan hidupnya untuk lelah pada pergulatan tokoh dan deretan ideologi, tapi Mamak kaya akan cinta. Setiap kali aku berkali-kali nakal, berkali-kali tidak becus melakukan pekerjaan, Mamak tetap memberikanku makanan yang lezat, yang aku suka.Bukankah itu pertanda bahwa Mamak sudah melakonkan Cinta, mamak tidak sempat memikirkan itu apa. Segala celotehnya mungkin sudah patut aku renungi dalam-dalam untuk benar-benar aku konversikan dalam tindakan nyata, tidak lagi hanya angin lalu.

Mamak, menua meski belum terlalu tua, meski aku selalu memiliki firasat aku akan mati terlebih dahulu, entah kenapa begitu. . .

 

Diri masih sesak sejak semalam, sumpah harus ia ucapkan kembali. Bagaimana seseorang yang ia kira dapat mengantarkan ke jalan pulang. Semalam pergi begitu saja, dengan keluhan bahwa diri terlalu banyak bertanya, terlalu fanatik. Sejak membaca pesan tersebut, ia melihat jam seperti akan menghancurkan diri. Adakah terlalu lainnya ? Ada, benaknya.

Dibawah sumpah ia berkata “ Tidak akan pernah  mengajukan pertanyaan yang remeh- tidak akan pernah bertanya terus menerus- tidak akan pernah bertanya sebelum mencari tahu- Tidak akan pernah- Tidak akan pernah Kepada SIAPAPUN- “

 

Cuma Yang Terdalam, tidak akan berlalu demikian. Itulah mengapa kita perlu bersandar padanya, Setulus mungkin. . .

 

1/

Kepada siapa saja yang pernah mengantarkan kepada suatu jalan pulang. Terimakasih, hanya doa-doa yang mampu dirapal.

2/

Meminta maaf atas segala gerak-gerik yang menyebabkan horizontal patah dimana-mana

3/

Sendiri, akan selalu seperti itu. Bahkan Mati.