akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. makin lama makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apagunanya kritik-kritik saya? apa ini bukan semacam onani yang konyol? kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian. -Gie-

Gie, saya menulis kembali setelah lama terdiam dan sibuk memikirkan apa saja yang sebenarnya tak jelas. Masih muda masih dalam masa pergulatan yang hebat. Tapi saya senang, saya masih memiliki waktu untuk memperbaiki segalanya. Konsep-konsep saya memang belum matang, saya masih berada pada tahap : pada awalnya adalah bagaimana mengamati.

Mengamati yang menceburkan diri , mencoba melesat masuk pada kegilaan orang-orang yang berani melampaui diri, pada mereka yang mengingikan hidup di kaki mereka, tapi sayang. Hidup justru yang lebih kejam mempermainkan mereka.

Gie, pagi ini saya mengenang, dengan seduhan teh hijau yang harumnya pekat, saya sekali lagi merindukan kamu. Apakah kita dahulu adalah pengantin yang batal menikah ? atau dulu, bahu kita pernah bersinggungan pada masa demonstran dimana gas air mata memecah belah kerumunan ?

Gie, benar memang katamu “ Hidup adalah keberanian menghadapi yang tanda tanya “

Saya perempuan yang sungguh kadang dilematis, diam-diam menuliskan segala kegelisahan yang selalu melintas di mata lalu tidur di pikiran, apakah saya harus seperti tokoh wayang Gandari yang matanya tertutup ? tapi sayang, telinga Gandari tidak tersumpal. Saya bingung Gie, peradaban apakah yang sedang saya hadapi ini , selain teknologi yang berkembang sedemikian fasis.

Gie, saya sudah menghancurkan diri saya di jurusan yang saya tempuh,dengan tidak pedulinya saya ketika dicap keledai karena nilai saya terjun bebas. Penjara bernama intuisi pendidikan membuat kadang saya muak, ada keinginan menuntut ilmu ke guru-guru di pedalaman terjauh sana agar jiwa saya tak semakin kering begini, tapi terlanjur…..

saya sudah menghabiskan beberapa waktu untuk bergulat. Kadang, saya ingin sekali memiliki edo-tensei dan menghidupkan kamu juga Ahmad Wahib, dua orang itu saja. Hmm,,, tambah Gusdur boleh ?

Gie, saya rindu kamu. . .