Surat Terbuka Untuk I.W : Yu, Mau Panjang atau Pendek ?

“Jangan katakan yang jilbab panjang Teroris

Apa kamu mau yang tidak berjilbab dikatakan Pelacur ? “

-anonim-

Dear Yu,

Hari ini padahal kita melakukan jabat tangan dan memohon maaf dan tidak beberapa lama dari itu, saya meminjam ponsel kamu. Tapi saat kamu sedang hendak melangsungkan ibadah, saya tahu kamu membicarakan sesuatu yang menyakitkan untuk saya. Sepanjang saya tahu pembicaraan kamu itu, yang lagi-lagi mengatasnamakan dan menyeret Jilbab dengan embel-embel panjang dan soal kemarahan saya  beberapa hari yang lalu memang cukup luar biasa membuat seruangan hening. Kamu menyimpulkan sesuatu yang benar-benar delusi loh Yun.

Sepanjang perjalanan pulang  yang saya ingat cuma pembicaraan kamu itu dan tentu saja menulis ini berarti benar-benar ada dorongan kuat. Saya ndak bisa tidur kalau belum membicarakan ini. Saya ndak marah ketika kamu membicarakan saya, bener deh saya ndak marah. Tapi dengan embel-embel ‘jilbab panjang nggak semuanya baik’ Saya cukup kaget, ketika kalimat itu muncul dari bibir kamu. Serius loh Yu..

Dear Yu.

Pertama-tama saya mau ngucapin banyak terimakasih loh ya karena kamu sudah menamkan sebuah informasi kedalam alam bawah sadar kamu, bahwa semua yang berjilab  panjang itu baik. Ya, meskipun kamu akhirnya berkata “gak semuanya baik” , informasi yang kamu terima berubah karena kamarahan saya pada seseorang yang terlampiaskan di ruang kelas. Padahal kamu itu harusnya tahu Yu, saya ini manusia pasti ada baik dan buruknya. Jilbab harus menjadi motivasi saya untuk berlaku baik, namanya manusia Yu, suka lalai kan ? itu sebabnya Allah-kita Maha Pengampun.

Yu sayang,
kamu tahu sacred anger, ngga ? Kemarahan yang diungkapkan karena melihat ada sebuah ketidakberesan? Yesus ngamuk sampe nebalikin meja karena pedagang  berjualan di Bait Allah ? Muhammad yang marah kepada Ibn Al-Lutbiyyah karena pemungut pajak yang satu ini terima suap ? Ahok bentak-bentak Departemen PU dan minta mereka memotong anggaran ? Jokowi yang lempar map karena anak buahnya pada ngga datang di kantor kelurahan saat beliau sidak ??? Sacred anger brings beauty to the world, at least, your world.*

 

Yu, kamu emang tahu kenapa saya bisa semeledak itu ? kenapa saya sampai mengebrak meja sekeras itu dan berbicara yang lumayan kasar sama seseorang itu ? kamu tahu ndak apa masalahnya ? Hayooo ngaku Yu,  tahu ? apalagi kronologis kemarahannya.

Gini loh Yu, saya itu paling males sama energi marah, anak-anak suka marah-marah dikelas kadang yang nggak marah jadi ikut marah juga kan ? meskipun semua berusaha kontrol emosinya masing-masing. Lah Yu, pada hari itu kamu yakin tahu apa yang melatarbelakangi saya sampai ngamuk gitu ? Tahu ndak ?  Padahal  seingat-ingat saya ndak pernah marah sampai seperti itu sama siapapun terkhusus perempuan , orang yang masuk terdekat. Loh berarti inikah masalah yang lumayan besar loh Yu, ini masalah yang benar-benar membuat tata kesabaran saya berantakan, coba aja Yu kamu ada diposisi saya , coba deh rasain.

Yu,

Kamu pernah mikir nggak ? siapa yang diam-diam sakit hati kalau kamu marah-marah di depan kelas, atau ketika kamu marah-marah pada saat saya selesai ngepel dan ada yang nginjek. Kamu marah banget, sampai ada yang negur kemarahan kamu. Kamu pernah diam-diam merenung nggak siapa aja yang sakit hati sama kemarahan kamu yang meledak itu, bukan Cuma sekali loh yu,

Yu,

Ada loh yang ngomongin kamu di belakang , ngomongnya sama saya lagi. Mereka sakit hati yu sama cara marah kamu yang berlebihan, kamu tahu jawaban aku apa ? “ Ya, Maklumin aja dia emang anaknya agak keras “ Loh itu jawaban cukup netral kan ? emang kamu agak keras kan ? kamu pernah ngomong gitu ke saya. Tanpa kamu ngomongpun saya sudah mengerti karakter kamu, kamu memang cepat meledak tapi cepat reda. Dan perhatikan jawaban saya Yu, saya nggak bawa-bawa “ Ya, gak semua yang jilbabnya pendek baik “ no no no itu terlalu memojokan, saya ndak pernah bicara  yang menyeret simbol-simbol tertentu.

Yu,

Sebenarnya saya berharap , orang-orang tak lagi bicara sesuatu yang sebenarnya mereka tak tahu akar masalahnya, menarik kesimpulan atau salah kaprah. Al-Qur’an sudah menyinggung soal Prasangka: Dan lagi-lagi semoga kamu dengar analogi pak Yasin tadi, bahwa wadah tidak menjamin tapi isinyalah yang membuat wadah itu mahal. Kalau saya berlaku kasar, berlaku tidak menyenangkan maka kalau bisa, salahkan saya bukan tampilan saya. Apalagi Jilbab, saya benar-benar sensitiv kalau masalah ini Yu, Jilbab dan Akhlak adalah masalah yang berbeda. Saya meminta maaf kalau kemarahan saya tempo hari membuat kamu hari ini membuat kesimpulan semacam itu. Lain kali, saya berharap kamu bisa marah dan membenci saya, tanpa membawa apa yang saya kenakan. Sekali lagi saya meminta maaf.

Semoga kamu mengerti, dengan rasa sayang saya menuliskan ini. Saya suka senyum kamu, suka sekali kalau kamu lagi makan banyak gitu J Terimakasih sudah menegur saya.

P.s : Tulisan bercetak miring dari salah satu paragraf http://www.gurudanpenulis.com/8surat-terbuka-untuk-laire-siwi-laire-sayang-kamu-tahu-lsquosacred-angerrsquo-nggarsquo