Search

Pengeja rasa

Perempuan gila yang melakukan perjalanan menemukan bentuk

Month

July 2015

Aku ingat

“kalian yang pernah mesra serta baik dan simpatik kepadaku
tegaklah ke langit luas
atau awan yabg mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa
kita tak kan pernah kehilangan apa-apa ”

-Gie

Pada suatu masa dan urutan waktu yang acak. Aku mengingat semuanya dengan detail begitu jelas. Peristiwa demi peristiwa yang meninggalkan jejak.

Aku ingat ketika kecil aku bisa selalu berambut layaknya laki-laki.Aku juga ingat ketika aku tertidur di kursi dan ayah akan menggendongku ke tempat tidur. Aku ingat bagaimana Mama berjuang mati-matian agar aku sembuh. Aku ingat, dokter yang menjadi langganan dan pada suatu hari aku melihat ia bosan denganku. Bosan karena aku terus menerus sakit dalam waktu yang dekat. Pada akhirnya aku memutuskan untuk tak lagi mamanggil dokter ke rumah. Aku berhenti meminum obat, berhenti bertemu dokter. Dia kira aku ini pengemis yang meminta sakit terus menerus kepada Tuhan?

Aku ingat masa-masa sekolah dasar dimana aku begitu sendirian. Aku selalu mengeluhkan bahwa kepala kusakit. Sakit setiap hari. Aku juga ingat bahwa pada masa sekolah dasar aku tak henti-hentinya bertengkar dengan Tuhan. Tuhan adalah biang segala sumber kekacauan dan kesedihan yang terus menerus menimpa hidupku. Aku ingat bagaimana hampir setiap hari aku ingin mati bunuh diri. Aku juga ingat di depan rumah nenek, aku mengutuk Tuhan berkali-kali. Menghabiskan air mata dimalam panjang dan apalagi kalau bukan bertanya pada Tuhan, apa mau ia?

Aku ingat saat sekolah dasar Mereka yang punya teman adalah mereka yang bisa mengambil alih. Mereka yang pintar, yang cantik. Aku ingat mati-matian membenci sikap guru aku kala itu. Ia melakukan diskriminatif besar hanya karena aku tak pandai dalam matematika. Aku kala itu duduk di ruang kepala sekolah dan guru aku putus asa. Putus asa sekali, hanya karena aku dan beberapa teman tidak pandai matematika. Sejak itu aku bersumpah kalau kelak aku di izinkan menjadi guru aku tidak akan seperti itu. Aku tidak akan konyol seperti itu.

Aku ingat momen dimana sudah lebih belasan tahun aku menjadi agen Neptunus, rajin nengirimkan surat ke markas.

Aku ingat ketika aku dibawakan sesuatu yang aneh oleh ayah dan Mama, itu alat terapi dan aku memakainya sepanjang aku tertidur. Aku tak lagi pusing terus menerus. Aku bisa dikatakan sembuh. Aku juga ingat bahwa alat itu dibeli dengan cincin emas kakak perempuanku dan satu ternak Ayah.

Aku tahu itu.
Aku ingat ketika aku begitu tertarik pada kajian psikologi saat sekolah menengah pertama. Aku ingat bagaimana aku tak jajan di kantin dan membiarkan diri kelaparan karena jajanan kantin tak ada yang seenak masakan mama. Aku ingat kartu perpustakaan yang berwarna merah muda yang sudah penuh aku pinjam buku ini itu.
Aku ingat sekali. Ketika aku mendapat peringkat terus menerus wajah Mama begitu bahagia.

Aku ingat ketika aku harus di operasi, aku ingat bau obat yang menyeruak di penjuru rumah sakit. Aku ingat bagaimana tubuhku digunjangkan terus menerus oleh Mama karena sempat kritis. Aku ingat warna-warni selang yang menempel pada tubuh. Aku ingat setiap detik, rasa sakit luar biasa karena jahitan di tubuh. Aku ingat tak bisa tertawa, bicara, atau merintih. cuma bisa diam. Mengerak-gerakan mata atau menangis.
Aku juga ingat pada usia empat belas tahun, aku akhirnya berdamai dengan Tuhan.

Aku juga ingat, teman-teman sekelas menjenguk . Guru-guru menengah pertama yang jauh lebih baik. Aku ingat bagaimana Bu Trini mengali potensi dalam diriku. Aku punya sesuatu yang bisa membuatku jauh lebih hidup. Menulis dan Membaca.

Aku tiba-tiba ingat aku tak pernah memiliki gairah di masa sekolah menengah atas. Aku melakukan pemberontakan halus. Aku juga ingat bagaimana aku tak suka ilmu pengetahuan alam. Guru-guru yang sampai saat ini Di kepalaku yang membekas adalah sifat tua yang konyol. Aku ingat aku tak pernah antusias, aku tak ikhlas. Aku menjalani sepanjang tahun dengan keyakinan ” semua ini akan berlalu ”

Aku juga ingat memiliki Lima orang guru pada masa menengah atas yang benar-benar aku sayangi. Cuma mereka penghibur setiap kejenuhan di carut maunya sistem pendidikan yang kacau.

Aku juga ingat, ketika aku masuk HTI dan aku yang akhirnya tak dapat bertahan karena ternyata aku memiliki pandangan yang jauh berbeda. Aku tak suka sesuatu yang di doktrin. Mereka yang selalu berlagak sebagai tangan kanan Tuhan. Mereka yang begitu mudahnya melebelkan kafir. Mereka yang tak mau di ajak duduk bersama. Tapi aku juga harus ingat bahwa mereka adalah salah satu kekayaan.

Aku ingat bagaimana wajah kuyu aku datang ke sekolah tinggi filsafat islam dan bertemu seseorang untuk mendiskusikan perpecahan gerakan dakwah di Indonesia. Aku yang limbung dan kecewa oleh mereka yang hanya mengandalkan kesalehan luar. Aku ingat setiap rasa kecewa itu. Aku yang hampir-hampir kehilangan harapan atas agama. Aku yang begitu bingung dengan banyak hal.

Suatu hari pada usiaku pada masa sekolah menengah atas. Aku ingat bagaimana aku terus menerus kehilangan makna hidup. Keinginan untuk pergi entah kemana selalu menghujam pikiranku kuat-kuat.

Aku ingat bagaimana aku selalu bersedih memandang banyak hal. Tatanan dunia yang gemuruh. Orang-orang yang tak henti-hentinya mengeruk ke untungan. Aku telah patah hati terhadap kehidupan dunia. Aku ingat sekali bahwa aku n mengunci diri di kamar dan tak sekolah selama berhari-hari. Tak ada yang bisa aku ajak berbagi. Semua orang disekitarku sarat akan prasangka dan tak mengerti bagaimana jalan pikiranku yang sesungguhnya.

Aku ingat Bu Trini yang bilang bahwa aku tak bisa dijangkau lagi olehnya. Aku yang orang-orang kira bahwa aku gila. Aku ingat setiap kritik dan kekhawatiran mereka. Tapi aku punya alasan kuat. Aku tak mau hidupku berjalan layaknya manusia bodoh. Padahal firman pertama Tuhan adalah ” Bacalah!”
Aku juga ingat bagaimana semua orang mendikte aku ini itu. Mengingat perubahan diriku sesuai kepala mereka. Aku juga ingat semua orang bosan ketika aku jatuh sakit. Akhirnya jika aku sakit aku memilih diam, ekspresi mereka begitu membekas dalam kesadaranku.

Aku juga ingat bagaimana aku selalu dihadapkan pada mereka yang menyandang status “kerabat ” yang berlaku bukan lagi seperti “kerabat” aku juga ingat bagaimana orang-orang selalu meremehkan dan mencaci maki serta menghina. aku ingat semua perkataan mereka yang membuat aku menangis diam-diam, yang akan aku syukuri karena ternyata Tuhan tak suka aku diperlakukan seperti itu.

Aku ingat bagaimana dingin gunung membuat semua tulangku menggigil. Aku yang dalam keadaan sakit dan memaksa untuk terus mendaki. Aku ingat setiap rasa lelah yang aku lewati di bebatuan curam. Dan terbayar dengan taburan bintang yang menyebar di atas kepalaku.
Aku ingat semua kelelahan panjang hidup yang tak bisa aku mengerti. Aku ingat bagaimana semua hal menyakitkan dalam hidupku selalu tak ada apa-apanya dengan mereka yang lebih luas biasa.

Aku ingat bagaimana akhirnya aku bercerita pada Gede Prama dan menemukan akar masalah. Aku mulai banyak membaca spiritualitas hindu dan Tasawuf.
Aku ingat bagaimana setiap waktunya aku mulai berdamai bukan hanya dengan Tuhan tapi dengan banyak hal. Aku ingat bagaimana Tuhan memberikan aku teman -teman dunia maya yang memberikan perenungan panjang

Aku ingat pertama kali Sewestawan memposting suratku untuk Gie di statusnya.
Aku ingat bagaimana ia selalu mengomentari banyak hal dan menuliskan itu di statusnya. Aku ingat ia yang agak kacau seperti aku di tahun-tahun yang lalu. Kesan yang mendalam sekali. Ia mencari Tuhan. Ia patah hati sekali. Aku tak yakin ia menyadarinya. Ia akan menutup akun facebooknya aku sedih. Tapi itulah hidup. Sudah laku tapanya ia harus begitu.

Aku ingat Ka Budi yang mengajarkan aku banyak hal. Apa itu teater, gerakan kiri, dan filsafat yang membuat aku betah diskusi dengannya seharian. Ia yang mengajak ke laut hanya untuk mendengar ombak. Ia yang telah menanggap aku sebagian adiknya sendiri.

Aku ingat bagaimana Bang Khafi begitu menarik perhatianku. Di masa-masa aku begitu kecewa, ia menuliskan banyak hal yang se-pemikiran denganku. Ia yang baik hati menjawab pertanyaanku. Ia yang mau berbagi cerita. Ia yang bilang tulisanku bagus. Meski aku tetap tak yakin.

Aku ingat bagaimana Mbah Arif mau mendengarkan banyak hal dariku. Ia yang tatapan matanya meneduhkan ia yang mengarahkan aku ke banyak hal. Ia yang pengalaman spiritual nya membuat aku tersenyum. Ia yang begitu mencintai anak-anak. Ia yang suaranya lembut tapi jika marah aku sampai diam ketakutan.

Aku juga ingat ka Wely yang mau kopdar dan menjemputku ketika di Bandung. Mengajak aku jalan-jalan dan mentraktir ini itu. Ia yang mencintaiku karena Allah. Ia yang aku sayangi.

Aku ingat Mas Azka yang puisinya bagus sekali, ia yabg lucu dan rendah hati. ia yang kurang mengerti bahasa gaul. ia yang baik

Aku ingat Ka Leni yang hari kelahirannya sama sepertiku. Wajah kami yang hampir mirip. Pandangan kami, kekecewaan kami yang sama. Ia yang selalu menyesatkan diri di alam Indonesia. Ia yang anak tunggal dilematis. Ia yang membawaku melihat dunia yang tak terbatas.

Aku ingat Bang Ragil yang pernah membuat aku senyum seharian karena segala pernyataan konyol nya. Ia yang kritis. Ia yang berprinsip. Ia yang sayang ibunya dan ia yang selalu ingin memiliki teman seperti Harta. Ia yang begitu baik padaku.

Aku ingat kak Ira yang telah aku repotkan selama aku kuliah. Ia yang begitu lembut menggenggam tanganku saat tidur karena dingin. Ia yang suaranya selalu aku rindukan. Ia yang puisi.

Aku ingat Mas Doni yang buku kembali menjadi manusia begitu luar biasa. Ia yang rendah hati dan mau berbagi ilmu padaku.

Aku ingat Mbak Qonita yang susah payah mau mengantarkan aku ke Jalan Pulang, ia yang mau membantu aku belajar menerjemahkan. Berbagi banyak hal dan menghadiahkan tasbih cantik untukku

Aku ingat Uda Arif yang sudah aku kenal selama hampir empat tahun. Ia yang dulu begitu menyebalkan. Ia yang terpasung kenangan. Ia yang baik hati dan mengalah atas sifat-sifatku yang di luar dugaan. Ia dan aku yang sama-sama berusaha ke jalan pulang.

Aku ingat Bang Aldo yang tertarik dengan Nietzche, bang Aldo yang pikirannya banyak yang bilang ia kacau. Bang Aldo yang bagiku salah jurusan, ia yang mau berfikir sendiri dan tak suka dibariskan.
Aku ingat mas Sebastian yang telah memberikan aku pengetahuan luar biasa tentang meditasi zen. Ia yang mau mendengarkan aku. Ia yang telah berjasa padaku. Ia yang menyadarakaku tentang sesuatu hal.

Aku ingat Uda Alfathti yang selalu menginspirasi, ia yang perjalanan kembali ke Tuhan penuh jatuh bangun. Ia yang selalu bersedia menyampaikan banyak hal. Ia yang saat ini sedang sakit. Semoga ia diberkahi usia yang panjang.
Aku ingat Mbak Nyutz yang lucu, yang selalu menghibur jagad facebook. Ia yang sisi lainnya membuat aku terkejut. Ia yang selalu rajin membulli jomblo.
Aku ingat Bang Taufik yang selalu di buli, ia yang tekun belajar Filsafat, ia yang juga baik dan mau berbicara hal-hal tak jelas padaku. Ia yang tak pelit membagikan makalah luar biasa.
Aku ingat Bang Merah yang luar biasa jenius, iya yang mengkritik banyak hal yang membuka pandanganku. Ia yang kecewa, ia yang masih mau menjalani hidup.
Aku ingat Bang Arifin yang bersedia menjadi agen neptunus ku. Ia yang sudah tujuh kali mengirimkan surat ke markas. Ia yang tak kehilangan mimpinya.

Aku ingat ka Risna yang suka berbicara dengan semut sama sepertiku, ia yang perenungan nya dalam. Ia yang begitu lembut dan mau mengkritik beberapa hal dariku.
Aku ingat Bu Gayatri yang tulisanku membuat aku menuliskan hal yang sama disini. Ia yang luar biasa, ia yang tangguh, ia yang cerdas luar dalam.
Aku tak tahu mengapa aku bahagia mengenal dan bersama mereka. Mereka yang ikut menyumbangkan banyal hal dalam hidupku meskipun barangkali mereka tak menyadarinya.
Aku ingat aku kerap ketakutan jika harus sakit mati kesepian.
Aku yang telah lahir dan merenungi kelahiran.

Jakarta 16 Juli 2015

Advertisements

Kepada Gie ( Surat ke Enam bulan Juli)

Mengenanglah..

Mengenanglah bahwa kita pernah bernafas pada satu ruang. Pada waktu yang lalu sekarang dan (nanti). Kita akan melesat bagai bintang jatuh. Kita pernah menembus kedalaman hutan. Kita pernah membuat percakapan abstrak. Kita pernah bergurau atas hal-hal yang tak (lucu).
Mengenanglah…
Kita pernah bernafas pada aroma pekat kota. Kita pernah mengitari rumput-rumput helai tersipu. Kita memanjat pohon yang Di Bawahnya mengalir sungai jernih berharta ikan segar.
Aku tak tahu harus pulang kemana, harus mati di tanah mana. Atau kita harus di simpan dalam arca, Gie? Atau kita harus dikembalikan ke angkasa karena kita adalah sepasang makhluk lain yang bertapa di Bumi?
Mengenanglah Gie.
Pada barisan demonstrasi panjang. Pada gas air mata yang berjalan lewat pori-pori. Pada deretan wajah petugas yang hatinya hampa. Pada dunia yang sakit, pada mereka yang terus bergerak pada kehampaan.
Mengenanglah Gie.
Aku akan bergerak bagai komet. Aku akan membakar rindu di kedalaman hutan sana. Aku akan berdiri bersama doa-doa yang menggendong dunia..
Mengenanglah Gie..
Sebab melupakan tak pernah fasih kita lakukan.

Jakarta 13 Juli 2015
***
…………….

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑