Mengenanglah..

Mengenanglah bahwa kita pernah bernafas pada satu ruang. Pada waktu yang lalu sekarang dan (nanti). Kita akan melesat bagai bintang jatuh. Kita pernah menembus kedalaman hutan. Kita pernah membuat percakapan abstrak. Kita pernah bergurau atas hal-hal yang tak (lucu).
Mengenanglah…
Kita pernah bernafas pada aroma pekat kota. Kita pernah mengitari rumput-rumput helai tersipu. Kita memanjat pohon yang Di Bawahnya mengalir sungai jernih berharta ikan segar.
Aku tak tahu harus pulang kemana, harus mati di tanah mana. Atau kita harus di simpan dalam arca, Gie? Atau kita harus dikembalikan ke angkasa karena kita adalah sepasang makhluk lain yang bertapa di Bumi?
Mengenanglah Gie.
Pada barisan demonstrasi panjang. Pada gas air mata yang berjalan lewat pori-pori. Pada deretan wajah petugas yang hatinya hampa. Pada dunia yang sakit, pada mereka yang terus bergerak pada kehampaan.
Mengenanglah Gie.
Aku akan bergerak bagai komet. Aku akan membakar rindu di kedalaman hutan sana. Aku akan berdiri bersama doa-doa yang menggendong dunia..
Mengenanglah Gie..
Sebab melupakan tak pernah fasih kita lakukan.

Jakarta 13 Juli 2015
***
…………….