Memejam, rumput melambai-lambai di istana, suara ringkih kuda setelah perang kerap menghantui. Jari-jari, seperti malam-malam kemarin. Beku

Jiwa tak cukup kuat, semua seolah memainkan peran menjadi metafor-metafor yang pelan-pelan lenyap. Telalu tegak sendiri, membiarkan ratusan pasukan mati, tanah telah dihujani darah dan kesedihan.

Sebuah tanya yang bertubi-tubi, setengah putus asa mengumpulkan banyak kekuatan dari segala penjuru. Kekuatan yang menjauh, kerajaan yang hancur, bangunan yang rubuh. Besi baja percuma. Sekarang pulau jawa tertutup kabut.

Puteri telah meninggalkan mahkota, pada suatu purnama

Di depan keraton. Kesendirian tak jadi menakut-nakuti, dupa-dupa telah lama mati. Sesaji tela membakar (dirinya) sendiri. Di luar sana, perang masih saja terjadi, di dalam diri perang tak pernah usai. Menumpang singah, atau tinggal berabad-abad lamanya.

 

Hilang begitu saja, semua kejayaan, semua keluarga. Para perempuan mati menusnahkan diri menghadap ke selatan, dikebumikan ke timur. Kelak, segala ruh akan berakhir sendiri-sendiri.

Pada sebuah purnama, yang telah bersumpah meningalkan mahkotanya. Jari-jari yang lelah meraih bintang.

 

 

Semarang.