Prabu.

Tanah air ini, tempat kelahiran kita, tempat kita kemudian disemayamkan. Tempat, dimana kita pada akhirnya saling kembali menemukan tubuh-tubuh untuk membaca apa yang alfa. Tangis masih saja terdengar lirih, masih saja menyisahkan jantung yang dedah.

Prabu.

Selalu ada malam dimana mimpi enggan mencair, aku ingat bagaimana tegap tubuhmu  menjadi tempat aku bersandar. Pernah dalam gelap, air mataku jatuh, jatuh di dadamu di dadaku.

Prabu.

Aku perlahan memulihkan ingatan, waktu itu hampir senja, hampir senja. . . kita masih saja diburu oleh pasukan. Aku tak mau jadi tahanan, aku tak mau di perlakukan biadab. Tapi, Prabu…

Dia menusuk tubuhmu dengan sebilah keris. Matamu membelak, s-a-k-i-t. Disusul guntur yang maha dasyat, disusul hujan. Dan berakhir dengan aroma melati yang ganjil.

Jika saja saat itu aku melayangkan sumpah angkara murka, barangkali yang musnah adalah anak-anak tak bersalah. Maka denagn seganap luka di batinku, aku berlari kesana-kemari.

Prabu.

Sepanjang Blora dan Demak yang penuh dengan desingan pedang, aku selalu takut menoleh kebelakang, aku takut ada sesuatu yang membawa aku pergi. Aku lebih suka mati kearah selatan dari pada terbunuh oleh musuh. Bagaimana nasib puteri sepertiku ini, prabu ? katakan padaku . . .

Prabu

Pundak kiriku terluka, kain-kain juga sobek tersangkut kayu-kayu yang menyakitkan. Hutan yang menyedihkan, kereta putih aku tinggalkan. Dengan sisa pasukan yang sedikit itu, aku diobati oleh seseorang yang baik hati. Untuk pada akhirnya, aku pergi pada suatu rumah.

Di keraton, pada suatu purnama, ketika luka-luka tak mampu bicara tentang sakitnya peperangan.

 

Semarang.