Itu adalah jarak Jakarta-Semarang.

Ya, sekarang saya sedang menetap disini, entah sampai kapan. Saya sedang merenovasi otak serta tatanan hidup saya, barangkali sendiri, barangkali bersama seseorang, atau kelompok. Tak ada yang benar-benar jelas.

Saya memutuskan jauh dari keluarga saya, meski mau tak mau saya masih harus menggantungkan biaya sehari-hari saya pada kedua orang tua saya, yang harusnya sudah tak perlu melakukan ativitas yang mengguras banyak tenaga. Saya masih kelimpungan membiayai kehidupan saya sehari-hari, kadang saya membiarkan diri saya kelaparan bukan main. Kadang saya merasakan diri saya kenyang. Kadang saya tak ingin apa-apa, apapun.

Saya menjadi kacau akhir-akhir ini, banyak buku yang belum saya khatamkan. Saya juga harus bergelut dengan serangkaian deadline tulisan, yang bahkan EYD saja, saya masih bobrok bukan main. Tapi toh, atas kejanggalan hidup yang terus menimpa saya, saya bahagia…

Saya bisa menemukan harga nasi kucing seribu, saya bisa menyesatkan diri di lembah-lembah dan berteriak sendu di bawah air terjun. Hal yang harus saya bayar mahal ketika saya di Jakarta. Tapi saya janji, minimal tahun 2016 saya sudah berheni mengantunggkan biaya dari keluarga saya.

 

Saya ingin lepas….