Pada sebuah ruang.

Surat Terbuka Untuk Seorang Teman : Teman,Kamu Tahu ‘Depresi’ Nggak ?

Apa yang secara tidak sadar saya lakukan malam itu adalah menjelaskan betapa dalamnya keputusasaan saya. Saya tidak tahu lagi bagaimana cara hidup. Dan tampaknya tak seorang pun menyadari betapa ketakutannya saya. Tak seorang pun mau mendengarnya.

Masalahnya adalah ketika orang memutuskan bahwa apa yang tampaknya seperti sebuah usaha bunuh diri “hanyalah” sebuah teriakan minta tolong, mereka kadang-kadang menyimpulkan bahwa panggilan tersebut tidak perlu dijawab. Bahkan, mereka memutuskan lebih baik tidak menanggapi, karena pasien tersebut tidak boleh didorong untuk melakukakan tingkah neurotis semacam itu. Dia mesti belajar untuk menunjukkan rasa sakit dengan cara yang sederhana dan langsung, tanpa mengambil jalan simbolisme yang berlebihan seperti itu. tetapi, saya telah mencoba menjelaskan ketakutan dan kebingungan saya, sejelas yang saya mampu, dan tetap tak ada bantuan yang datang.

 -Karen Armstrong, Menerobos Kegelapan

Dear teman.
Kita saling kenal sebelumnya, bahkan orang bilang dimana ada kamu disitu ada saya. Saya mengerti dengan kondisi saya yang begini saya butuh istirahat yang entah bagiamana harus saya lakukan.
Teman,
Semalam adalah hari maulid Nabi kita yang kita sayangi, sudah beberapa kali saya berdoa dengan rasa yang campur aduk, saya bilang begini dengan Allah :” ya Allah, aku tak memiliki kesabaran layaknya Nabi, tapi tolong berikan aku kesabaran setidaknya sedikit saja dari kesabaran Nabi ” Lalu, tiba-tiba saja saya ada suara di batin saya , berkata “ Nabi yang jelas-jelas baik saja hidupnya tak diperlakukan dengan baik, diasingkan, diusir, di bilang gila, dilempari batu. Lah kamu yang jelas-jelas berlumuran dosa begitu loh kok nesu-nesu ? emangnya kamu siapa sih sampai semua orang harus berlaku baik dengan kamu ? ”

Teman,
awalnya saya mencoba menganggap segala celotehan-sindiran kamu sebagai angin lalu, bahkan sikap kasar kamu ke saya, yang bahkan teman-teman sampai harus memperingatkan kamu. Saya berusaha keras sekali untuk tidak peduli. Saya selama ini mencoba untuk diam. Barangkali saya memang pantas dihadiahi sikap kurang ajar macam ini dari kamu, saya kira saya pantas mendapatkan semua ini. Bukankah kamu sendiri yag bilang di bbm bahwa apapun yang kamu lakukan itu terserah kamu ? iya, saya siapa sih ?

Teman,
waktu saya tahu kamu menaruh perasaan lain ke saya, disaat bersamaan saya ragu, sebab beberapa kali kamu membentak saya dengan luar biasa kerasnya. Konyol bukan ? mengaku sayang tapi sekaligus menyakiti. Dan kalau kamu merasa saya terus menyakiti kamu baik dengan sikap atau apapun, saya meminta maaf. Saya sudah berusaha mengambil jalan damai dengan kamu, memulai semuanya dari awal. Saya ingin baik-baik saja dengan kamu, dengan banyak orang. Tapi ternyata kamu merespon berbeda.

Teman,
Saya tak bisa menjelaskan banyak hal kenapa saya bersikap yang sering disalapahami oleh orang lain, mengambil keputusan yang barangkali menyakiti kamu. Asal kamu tahu, hidup saya sudah cukup pedih dengan hal-hal brengsek macam ini. Saya lebih tahu diri saya, dibandng siapapun. Sekalipun ada yang mengaku-aku mengenal saya, itu pun tak terlalu tahu.

Teman,
Sejak kejadian dimana kecurigaan kamu saya benarkan dengan fakta, kamu menjadi orang yang jauh sekali, saya tak bisa lagi meraba perilaku kamu. Kamu jadi membuang muka setiap kali saya bertemu, tapi tetap bercanda sana sini dengan yang lain. Kamu juga melakukan tindakan dengan memojokkan saya, menyindir saya, yang padahal bisa kamu lakukan dengan menulis di bbm atau berbicara langsung dengan saya. Dan terakhir adalah puncaknya kemarin, saat kamu menyindir saya dengan ucapan ” harusnya.. harusnya ” pada seorang teman yang duduk di belakang saya. Baru pada akhirnya kamu bilang saat saya menoleh, menghadapkan diri ke kamu, ” Kritik sana harusnya… harusnya ” Saat itu saya lagi-lagi cuma bisa diam dengan perasaan berkecamuk.

Teman
Saya sudah tak tahan lagi dengan segala perilaku kamu yang mengganggu kestabilan mental saya. Di surat terbuka ini saya akan mengakui bahwa memang semasa hidup saya, saya pernah mengalami depresi minor beberapa kali. Barangkali kamu bisa temukan jejak-jejaknya di blog saya. Bukankah kamu sudah membacanya ?

Kamu tahu gejala depresi ?

  1. Mood yang depresi, sedih dan tertekan hampir sepanjang hari, dan hampir setiap hari. Dapat berupa mood yang mudah tersinggung pada anak-anak atau remaja.
  2. Penurunan kesenangan atau minat secara drastis dalam semua atau hampir semua aktivitas, hamper setiap hari, hamper sepanjang hari.
  3. Suatu kehilangan atau pertambahan berat badan yang signifikan (5% lebih dari berat tubuh dalam sebulan), tanpa upaya apa pun untuk berdiet, atau suatu peningkatan atau penurunan dalam selera makan.
  4. Setiap hari (atau hampir setiap hari) mengalami insomnia atau hipersomnia (tidur berlebuhan).
  5. Agitasi yang berlebihan atau melambatnya respons gerakan hampir setiap hari.
  6. Perasaan lelah atau kehilangan energi hampir setiap hari.
  7. Perasaan tidak berharga atau salah tempat ataupun rasa bersalah yang berlebihan atu tidak tepat hampir tiap hari.
  8. Berkurangnya kemampuan untuk berkonsentrasi atau berpikir jernih atau untuk membuat keputusan hampir setiap hari.
  9. Pikiran yang muncul berulang tentang kematian atau bunuh diri tanpa suatu rencana yang spesifik, atau munculnya suatu percobaan bunuh diri, atau rencana yang spesifik untuk melakukan bunuh diri.

Sumber: diadaptasi dari DSM IV-TR (APA, 2000)

Teman,
semalam sekitar pukul sebelas malam, saya sms ke beberapa teman, jumlahnya empat orang, dengan sms yang barangkali tidak mereka mengerti apa maksudnya dan bagaimana mereka harus menanggapi sms macam itu yang datang saat menjelang tengah malam. Tapi saat bersamaan dengan semua pesan itu, saya sedang menangis sejadi-jadinya, saya sampai harus menyumpalkan kain ke mulut saya, agar teman sekamar saya tak tahu dan tak mendengar bahwa malam itu saya sedang hancur.

Saya ingat banyak hal, dan segala ingatan traumatik tersebut berkumpul pada malam itu, puncak. Sejak saya Tk saya selalu diasingkan oleh teman-teman yang superrior macam kamu, teman yang selalu menarik perhatian, teman yang kalau bicara di dengarkan. Saya ingat sekali , waktu itu di ayunan saya bermain sendiri, saya bilang pada ayunan tersbeut ” bahwa sendiripun tak apa-apa” saya diasingkan entah kenapa, saya selalu disindir, saya selalu dijauhi. Dan saya selalu diam.

Sialnya, saar Sekolah Dasar saya mendapat perlakukan yang sama, bahkan lebih buruk. Saya hanya memiliki lima orang kawan yang benar-benar dekat, bahkan saat sekolah dasar saya selalu mendapat perlakuan menyakitkan verbal maupun fisik. Saya dijauhi, dibenci dengan alasan yang tak jelas. Bukan hanya teman-teman yang seperti iitu melakukan pada saya, tapi juga guru saya. Kamu bisa membayangkan betapa menyedihkanya hari-hari yang berlangsung seperti itu ? SETIAP DETIKNYA KAMU SEPERTI DIHADAPI DENGAN BUNUH DIRI.

Sayangnya, keluarga saya tak tahu banyak dengan segala macam yang menimpa saya. Saya tumbuh dengan pikiran yang berbeda dari anak pada umumnya, lalu saat saya SMP, saya lebih banyak berdiam diri di perpustkaan, orang-orang tak banyak yang mendekati saya. Dari situ saya mati-matian mempelajari psikologi, bahkan sejak SD saya mati-matian membaca ulang apa itu ” Ansietas (adalah kondisi yang ditandai dengan kecemasan dan kekhawatiran berlebihan atas peristiwa kehidupan sehari-hari tanpa alasan yang jelas untuk mencemaskan/ mengkhawatirkannya. )

saya harus bertengkar dengan pikiran-pikiran saya yang tidak saya mengerti bagaimana polanya. Dan tentu saja keinginan atau bayang-bayang bunuh diri kerap menghantui saya. Dan ketika saya SMA itu adalah masa dimana akhirnya saya mengalami depresi minor beberapa kali. Saya lari dari kenyataan yang membuat saya semakin muak dengan kehidupan, disaat yang bersamaan saya justru tertarik dengan filsafat dan tasawuf.

Saya ingat sekali, di tengah keputasaan saya pada hidup, saya dengan gemetar mengetikan permintaan tolong kepada salah satu tokoh spiritual hindu, Gede Prama. Dan setelah itu saya kira saya selesai, saya ingat sekali kata beliau apa yang sedang beralngsung jangan pernah dilawan dengan apa yang seharusnya. sebab itu akan meinmbulkan penolakan yang akan berakibat timbul konflik dalam diri seseorang.

Teman,
saya tulis ini anggap saja saya sedang melakukan sebuah terapi diri. Saya harus melewati mimpi-mimpi buruk karena saya meredam masalah ini, bahkan dalam mimpi perlakuakn buruk kamu terulang jelas terus menerus. saya anggap semua baik-baik saja, padahal batin saya menolak itu. Kalau setelah membaca surat ini kamu justru semakin benci dengan saya, saya terima, kamu memang sedang menghadapi orang depresi. Saya tak sedang mengancam kamu, saya hanya ingin berbagi kisah pahit saya, yang menjadi alasan, mengapa saya sampai serapuh ini dan menuliskan ini.

Tak ada yang benar-benar kuat mampu bertahan dengan orang yang memiliki gangguan mental, keadaan yang mudah depresi, emosi yang naik turun dan segala macam hal diluar wajar. Tapi kamu harus tahu, setiap orang itu “gila” hanya saja nilai gila itu adalah hasil kesepakatan banyak orang. Kamu dikatakan gila kalau kamu memakai daster dan dengan pedenya ke pasar, sebab masyarakat membentuk itu, sedih memang.

Setiap kali saya bercerita hal menyedihkan macam ini, respon-respon teman , sahabat atau apalah cuma sampai pada ambang ” sabar ya, ndak usah dipikirin ” Saya sudah muak dengan ucapan macam itu, barangkali saya hanya butuh ditenangkan, dipeluk dan dikuatkan. Bukan hanya dengan ungkapan macam itu, saya sadar tak ada yang mengerti luka seseorang selain diri-nya sendiri. Tak ada.

Teman,
saya sudah mencoba jalan meditasi, yoga, sampai kombinasi meditasi dzikir. Saya sudah mencoba hal-hal itu meski belum maksimal. Saya sudah berusaha sekuat mungkin menyembuhkan masalah saya sendiri.

Terakhir, setelah membaca ini kamu semakin tak karuan kepada saya, saya berusaha terima itu, saya harus tetepa berada disini, kasihan orang tua saya. Saya harus tetap berada disini, apapun yang terjadi. Kamu bisa dengan mudahnya mengungkapkan kekesalan kamu dengan cara yang kamu suka, tapi akibat dari itu saya harus mengalami ini lagi, sebab apa yang kamu lakukan membuka luka lama saya sejak kecil.

saya memohon maaf jika kamu merasa kamu disalahkan , tidak. Jujur demi apapun saya hanya ingin berbagi cerita ini, supaya saya sedikit lebih tenang.

Dunia ini menyedihkan, layak kita akhiri, mari bunuh diri.