Search

Pengeja rasa

Perempuan gila yang melakukan perjalanan menemukan bentuk

Month

January 2017

Apakah kekasihku adalah kau ?

Apakah kekasihku adalah kau ?

Advertisements

Haruskah hidup dengan ISME ?

Haruskah hidup dengan Isme ?

Saya tidak sedang menulis sebuah agenda meditasi, apalagi membayangkan seseorang bernafas tanpa pikiran yang memenuhi kepalanya, rasannya sulit. Tapi bisakah ?

Saya sering merenung belakangan ini, bagaimana jika seseorang benar-benar tidak pernah membaca buku dalam hidupnya ? tidak pernah mengenal pemikiran orang lain ? sekalipun tahu, tapi benar-benar tidak mengenal. Pikiran saya  langsung mengarah kepada, Ibu saya.

Ibu saya orang¬† kuno, dia hanya menjalani hidup dengan baik, istilahnya “jalani saja” sementara saya sebagai anak, berkali-kali berkecamuk karena terus menerus bertanya “benarkah saya harus menjalani hidup ini dengan jalani saja ?” Bertahun-tahun lamanya, saya racuni kepala saya dengan pemikiran yang orang diluar sana bilang, hebat dan dapat menyelamatkan hidup saya yang sekarat ini. Tapi kenyataannya pada suatu titik, segala isme yang telah meracuni saya tidak membantu. Justru membuat saya banjir air mata…

Saat saya berkali-kali dihadapkan pada situasi tidak enak, isme bilang saya harus memaafkan dan penuh kasih sayang. Padahal batin saya saat itu marah bukan main, isme yang lain bilang, tidak apa-apa marah, yeah itu normal. Isme-isme yang kita yakini itu, kita praktekan dalam hidup, atau hanya sekedar menjadi guyonan lalu lintas.

Terbit banyak buku, mengenai bagaimana menjadi ideal, tapi saat kita melakoni apa yang dituliskan buku.Tidak sesuai kenyataan,mereka bercanda berlebihan. . . .

Haruskah kita hidup dengan isme ?

Blog at WordPress.com.

Up ↑