Saya pernah marah dengan seseorang yang seharusnya dekat sekali dengan saya. Selama bertahun-tahun lamanya. Saya menyimpan perasaan marah itu. Sendirian. Setiap malam fase remaja, saya habiskan untuk mengotori pikiran dan batin saya untuk menyalahkan apa yang telah dia lakukan terhadap saya. Saya marah dan dia berhutang kata maaf. Maaf atas semua yang telah terjadi.

 

Lalu, saat duduk di bangku SMA saya sadar bahwa apa yang telah saya lakukan adalah tidak baik untuk kehidupan dan kesehatan saya. Saya akhirnya, berkenalan seni menerima. Saya sungguh telah memaafkan dia.

 

Dia tak lagi berhutang kata maaf. Saya seperti terlahir kembali, saya menjadi pribadi yang baru. Karena marah yang saya produksi sendiri itu telah pergi. . . .

 

Sejak saat itu…. Saya berusaha untuk tidak lagi menjadi manusia pemarah yang tidak pada tempatnya. Apalagi jika perasaan marah itu hanya membawa dampak buruk untuk kehidupan saya. Dan di tahun 2019 ini saya akan berusaha mengikuti ritme agar setenang itu . . . 🙂