Search

Pengeja rasa

Perempuan gila yang melakukan perjalanan menemukan bentuk

Category

Alam semesta

Perjalanan Hati : Ketika Bandung Mempertemukan Aku Dengan Manusia Maya

Senin, 3 Maret 2014

Setelah jauh-jauh hari merencanakan perjalanan ke kota Bandung dan beberapa kali gagal karena kesibukan, akhirnya pada hari ini saya bisa melangkahkan kaki ke Bandung, setelah membereskan semua keperluan. Saya menuju tempat dimana Bus menuju Terminal Leuwipanjang akan berangkat. Sempat kaget dengan penumpang di dalam bus yang di dominasi oleh kaum adam, sampai akhirnya saya akhirnya menemukan kursi yang masih kosong duduklah saya di pojok yang merupakan tempat favorit saya, karena bisa melihat pemandangan. Di seberang kursi saya duduk seorang pria tampan berwajah boyband korea yang memasang headseat di telingga nya. Lumayan, dapat sambutan kece.

Beberapa menit kemudian datanglah seoang ibu-ibu dan duduk di sebelah saya, kami sempat bertegur sapa membicarakan hal-hal remeh, dan selang beberapa menit datang pula, seorang pria tampan yang juga duduk di sebelah pria bertampang boyband korea itu, dalam hati lumayan dapat hiburan ( langsung di colok mata saya )

Berangkatlah bus itu mulai meninggalkan Jakarta, saya cukup senang karena ini merupakan perjalanan pertama saya sendirian. Yeah, akhirnya saya sendirian.

Sepanjang perjalanan menuju Bandung , saya hanya menghabiskan waktu dengan membaca sebuah novel dan bersms-ria dengan Kak Welly, kakak yang saya temui di dunia maya dan akan menjadi tempat tebengan tidur saya di Bandung, sebetulnya saya berani ke Bandung karena ka Welly. Ya hitung-hitung kopdar.

Bus meninggalkan kota Jakarta, tiba di Jawa barat mendung memeluk langit dan mengirim jutaan pasukan rinai membasahi jalanan. Dengan cuaca yang melankolis ini, beberapa kali ingatan lama menghujam pikiran saya, betapa saya ingat bahwa Bandung pernah betul-betul saya hindari, bersumpah-sarapah tidak akan menginjakan kaki di kota itu, tetapi sepertinya saya kualat -.- seiring mengeringnya luka sakit-perih itu. Saya mulai mencintai Bandung, memutuskan benar-benar akan bertekad meninggalkan Jakarta yang sudah tidak nyaman dijadikan tempat tinggal.

Saya tahu, Bandung bukanlah perjalanan kaki, bukan sekedar melangkahkan kaki ke tempat menyenangkan. Bukan ! saya tahu itu.

Bandung adalah perjalanan hati, perjalanan merebut semua impian yang retak di mana-mana , percaya pada kekuatan impian, percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin selama kita mengantungkan kepada Tuhan.

Jam 05.30

Bus merapatkan diri di terminal Leuwipanjang, Bandung baru saja diguyur hujan terbukti dari aspal yang basah. Dan, semua berubah saat negara api menyerang  ponsel saya mendadak pingsan, saya mencari tempat duduk dulu sebab saya membawa buku yang lumayan berat. Saya optimis ponsel saya bisa menyala karena saya membawa powerbank, tetapi hingga azan maghrib berkumadang ponsel saya tak kunjung mau sadar, bingunglah saya. Sebab ka Welly juga pasti binggung mencari-cari dimana saya. Dengan sedih saya berusaha mencari wajah seseorang yang kiranya bisa diminta pertolongan, begini-begini saya bisa mendeteksi dengan radar neptunus mana orang baik dan mana orang jahat . Hahahah..

“Mas, boleh minta tolong pinjam hp-nya , hp saya mati total saya gak bisa telepon kakak saya “

“Silakan atuh “ katanya dalam logat sunda dan mencopot kartu di ponselnya.

Setelah menghubungi ka Welly, akhirnya berkat pertolongan akang itu saya bisa betemu dengan ka Welly. Hebohhhhh lah saya, menceritakan kejadian bahwa ponsel say pingsan. Ah ternyata berpergian bisa saja menghasilakn hal-hal tidak terduga seperti ini. Oh iya, saya dan ka Welly itu bekum pernah bertemu sebelumnya, kami hanya bersahabat di dunia maya.

Saat ini ka Welly sedang menempuh pendidikan pascasarjana di ITB saya sangat berterimakasih kepada Tuhan , sebab saya tahu ini akan menjadi cerita awal atas takdir luar biasa selanjutnya.

Sambil bercerita heboh di motor sepanjang perjalanan ke tempat kostan , kami mampir dulu di sebuah rumah makan yang mneyuguhkan view kota Bandung malam hari, sebenarnya makananya tidka terlalu enak, tetapi saya lapar x.x . Sambil makan, kami bercerita banyak hal tentang perjalanan hidup kami maisng-masing dan percayalah, di setiap luka akan ada setitik kebahagian yang tidak terbayarkan.

Karena sudah larut, kami pulang ke kost-an ka Welly yang sudah saya anggap rumah sendiri ( tamu gak tahu diri :p )

Selasa 4 Maret 2014

Kebetulan ka Welly libur kuliah, jadi bisa jalan-jalan keliling kota Bandung bersama saya, kali ini kami memutuskan ke curug Tilu , melalu perjalanan satu jam dan nyasar-nyasaran karena ka Welly lupa rute, akhirnya kami sampai. Kece sekali pemirsa, beginilah kami …

 

Yang manakah yang Liana ?

Ini dia ..

20140304_111928

 

 

hmm..

20140304_112048

Pose : Radar Neptunus

Pose tersebut tidak untuk ditiru kecuali oleh Agen resmi

 

Lalu puas menceburkan kaki di air yang dingin , kami bermain ayunan sambil bercerita banyak hal, ya kami memang sudah cukup dewasa untuk cekikikan sambil bermain ayunan di taman. Soalnya dulu waktu kecil main ayunan berebutan sama anak tetangga. Tidak lupa saya mengajak ka Welly melarungkan perahu kertas di sebuah mata air yang mengalir, sekali lagi saya berharap pesan kami sampai ke markas.

Setelah berkelana , saya dan kak Wel;y kembali lagi ke kost-an dan tidur siang , sebab nanti maghrib saya akan kopdar dengan salah satu manusia yang saya kagumi pemikirannya. Dia adalah —–

Kalian pasti tahu,

Cukup terkenal

Dan

Fenomenal

Kami janjian di Pusdai , dan ….

Dia

Dia

A-DA-LA-H

Pemilik blog : hasannote.worpress

ka has

( Foto diambil secara sembunyi-sembunyi )

“Beneran atuh ini ka Cecep yang di Blog ? “

“Iya, masa boongan “

Saya melirik ka Welly yang ikut menemani kami Kopdar,

“Koq beda ya sama yang di foto di blog ! “

“ya harus beda-lah “

Saya tertawa lagi, bingung harus bilang apa saya senang sekali bertemu dengan kak Cecep yang selama ini hanya bisa saya temui di dunia maya.  Kami berbincang tidak jelas, kesana kemari dan setelah azan Isya kami memutuskan untuk makan nasi goreng , kami bertiga lapar.

20140304_195945

Foto diambil secara diam-diam

Sepertinya ka Cecep lapar sekali atau lapar saja , yah ?

20140304_201246

Gak , makan berapa hari ka ? 😀

Kami bertiga pandang-padangan sebab porsi nasi goreng itu terlalu banyak untuk ukuran perut kami,

“Ini mah kayaknya porsi Liana “

“Oh , kakak gak tahu ? tanganku kalau di belek isinya usus semua hahahahaa”

Sambil makan, ka Cecep bercerita mengenai kuliah di Bandung dan percakapan yang bikin saya ngakak adalah :

“Kakak , bisa masak ? “

“Bisa, Cuma agak takut kompor !  “

“Loh gimana ceritanya ? “

“Iya, kan kalau di kampung pakai kayu jadi suka ngeri aja pakai kompor udah gitukan banyak berita meledak “

“Oh , berarti gak bisa masang gas ? “

“Enggak “

“Lah , kalau punya istri gimana ? “

“Pakai kayu “

*ketawa*

“Kalau aku takut goreng ayam sama ikan , soalnya minyak-nya “

“Oh, kalau kakak goreng pakai helm biar gak kena muka !! “

“HAH ? PAKAI HELM ? “

“iya.. “

helm

 

 

Foto diatas merupakan foto asli yang di berikan ka Cecep

 

Saya ketawa sambil menutupi wajah dengan telapak tangan, tidak percaya kalau ada orang seaneh itu.

Hujan rintih-rintih, kami bertiga tidak sanggup lagi menghabiskan nasi goreng, sambil menunggu hujan reda kami tebak-tebakkan film. Saya merasa , ka Cecep dan ka Welly adaalh sebuah keajaiban kami bertiga dari dunia maya dan bertemu lalu menjadi akrab seperti reuni kawan yang sudah lama tidak bertemu.

Saya senag sekali, banyak pelajaran yang saya ambil dari Kopdar seperti ini meski pembicraan kami ngawur. Jam 08.45 kami membubarkan diri, ka Cecep mengantarkan kami ke parkiran meskipun sudah kami tolak tidak usah. Malam itu, kami bertiga pamit dan semoga bisa bertemu kembali

*KOPDAR selanjutnya dengan pemilik blog Kebomandi.wordpress

Pendakian kecil Pertama : Nus, saya main ke gunung boleh ?

 

Sebelum pergi, saya menulis sebuah surat untuk Neptunus, kurang lebih isinya begini

Nus, Saya pamit mau jalan-jalan ke kawah ratu gunung salak, Maaf saya gak bisa pulang ke markas tahun ini, saya lapor dari Jakata dan semua penjuru aliran air aja ya, doakan saya ya nus, kali ini sesuatu banget. Segala sesuatunya terasa menjadi ada dan mimpi-mimpi saya seperti mendekat.

Salam Agen Liana.

Mendaki, sungguh bukan kaki tapi Hati.

27 Desember 2013

Pukul lima sore, belum ada tanda-tanda kehidupan di sekolah yang sempat saya pijaki, dan saya sudah lulus dari kapan tahu. Membawa barang bawaan yang mirip dengan orang pulang kampung, eh salah deng.. tapi pecinta alam. Hari itu beberapa alumni Mts Negeri 34 Jakarta angkatan 2008-2013 merapat untuk temu kangen dengan bungkusan acara mendaki kecil-kecilan ke gunung Salak, Bogor.

Setelah menunggu sendirian di sekolah ini, akhirnya beberapa manusia mulai muncul membawa barang bawaan mirip sekali orang pulang kampung, tetapi ada juga yang membawa barang bawaan mirip orang mau main ke maal , ada yang mirip mau sekolah, ada yang mirip orang dagang. Pokoknya aneh dan kocak.

  formasi alumni

Kurang lebih dua puluh orang , terdiri dari enam wanita cantik dan luar biasa ( termasuk saya.. ) sisanya adalah para lelaki yang berusaha tetap tangguh. Di dalam hati masing-masing terbesit suatu kegembiraan yang tak terhingga setelah sekian lama nggak jalan-jalan spektakuler kayak gini. Kami semua memasuki Metromini sewaan berkapasitas dua puluh lima orang. Setelah membereskan barang bawaan di Metro, kami semua duduk dan aku duduk dengan ka Zakia, yang wajahnya tidak bosan di pandangi karena cantik. Mobil metro mulai bergerak perlahan menembus kemacetan malam , mulai meninggalkan kota Jakarta.

 

Saya duduk di deretan ke dua dari depan, sementara di belakang anak lelaki sudah berisik , entah apa yang mereka bicarakan, suara mereka semua seperti ikut bersaing dengan suara berisik mesin Metromini ini, setelah saya menoleh ke belakang ternyata mereka sedang bernyayi lagu bermodalkan gitar yang sengaja mereka bawa dan lagu yang mereka lantunkan menurutku kurang populer di telingaku,  saya memutuskan diam dan menikmati perjalanan.

Beberapa dari mereka ada yang menyalakan rokok. Setiap laki-laki pasti punya saat-saat seperti ini , sambil mengisap rokok yang terselip di antara kedua jari , mereka bersanda gurau dengan kekocakan yang mereka ciptakan.

 

Setelah beberapa potong perjalanan terlewatkan, di belakang terdapat sosok ka Prima yang sedang asyik dengan kamera di tangannya, karena saya bosan, akhirnya saya memberanikan diri ngobrol dengan ka prima seputar dunia perkuliahan dan jurusan yang sedang ka Prima tempuh, tidak lepas kami membahas mengenai beberapa kenangan di Mts 34. Tak terasa perjalanan malam sudah di tempuh, kami sampai di pintu gerbang Taman nasional gunung salak. Pukul 00.00 cuaca dingin sudah begitu terasa menyelusup ke jemari.

Karena sudah terlalu larut, sesuai rencana kami harus mendirikan tenda untuk bermalam dan paginya melanjutkan perjalanan untuk mendaki. Dan taukah kalian ? langkah pertama biasa, langkah kedua dan seterusnya mulaiterasa sesak.Suara dekup jantung terdengar persis di telinga saya.  Bu trini, persis di samping saya mengenggam erat tangan saya, berusaha berkaali-kali memastikan bahwa saya baik-baik saja. Langkah saya semakin melambat, dan saya semakin susah bernafas padahal ini belum apa-apa baru mau ke tempat nge-camp. Belum puncak atau apanya.

“Ya.. Allah, berikanlah kekuatan kepadaku, yakinkanlah diriku bahwa aku bisa “ Itu lah doa sepanjang jalan yag berusaha saya lafalkan, terdengar suara panggilan dari belakang. Pak Arif bilang , ka Faisal sakit dia sudah tidak kuat lagi berjalan. Ya Allah, ternyata saya tidak sendirian. Ruapnya, ka Faisal baru saja sembuh dari sakit typus nya, dia memaksakan diri untuk ikut acara ini, luar biasa !.

Saya lelah sekali, tetapi  berusaha menatap bintang yang berpijar terang di atas kepala, teringat novel bang Donny mengenai 5cm dan kekuatan mimpi. Ini pendakian pertama saya,pasti banyak cobaan tetapi saya percaya saya bisa saya bisa saya bisa. Teringat potongan

“Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrasi dan slogan, seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal akan objek – objeknya, mencintai tanah air Indonesia dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dengan dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat karena itulah kami naik gunung”
Soe Hok Gie

Dan…….

Sampalah saya d temapat nge-camp, ka Faisal yang sudah pucat-pun akhirnya sampai juga, sambil meluruskan kaki, saya membenak ini pasti belum ada apa-apanya di banding pagi nanti. Saya mungkin hanya kaget saja, belum bisa mengatur nafas dengan baik. Padahal dulu atlet pencak silat -_- yang latihanya cukup keras.

Para enam bidadari mulai menyalakan kompor untuk masak mie dan menyeduh kopi, sementara para lelaki mendirikan tenda sebaik mungkin. Usai makan dan tenda sudah berdiri, kami semua tertidur.

Dan…..

Saya kesiangan shalat subuh permisa -_- memalukan sekali, dan pas saya ambil wudhu jeng jeng jeng sumfah airnya dingin banget. Ini bisa jadi nikmat, karena berwudhu di cuaca ekstrem. Dan waktu sudah jam 6 pagi, saya baru shalat di belakang tenda beralaskan koran. Hiks .. hiks.. Berbeda sekali rasnya beribadah di alam terbuka, di belakang tenda saya hamparan bukit dan rimbunya pepohonan rasamala , Matahari mulai menampakan sinarnya.

Setalah beberes kami melanjutkan perjalanan

     

, untuk ke kawah ratu .. Dan inilah penampakan pintu gerbang-nya.. foto dulu kita

 

 

Kemudian, perjalanan hati di lanjutkan kembali, pemirsa sumfah jalanannya begitu terjal dan licin, ibarat kata seperti naik tangga rangkap dua, pegal sekali permirsa. Nafas saya mulai sedikit bisa saya atur, jadi gak kecapean banget walaupun saya lambat dan agak tertinggal jauh beberapa meter dari kloter depan ( emangnya naik haji ?)

Jangan di tanya capek nya kayak apa, tapi dari lelah itu saya belajar sesuatu hal, mengambil kesimpulan sesuatu hal. Yaitu “ Sesakit apapun kamu, ya rasakan saja, nikmati saja bukankah hidup adalah seni dari gabungan beraneka rasa, kamu capek ? iya semua orang yang mendaki juga capek, tapi ada yang gak bisa di bayar oleh orang-orang yaitu : Alam .. “

Yap permirsa, rimbunya hutan dan gemeicik air bisa mengobati segalanya, apalagi ketika istirahat di dekat aliran air, kaki kita bisa nyemplung dan melepasakn pegal yang bercongkol di lutut, di tambah candaan teman-teman bikin kita lupa , bahwa sebenenarnya kita lagi capek, tapi koq seneng-seneng aja ya ?

Dari mendaki gunung , saya di ingatkan kembali mengenai kekuatan fikiran , seperti seorang dokter yang sempat menyembunyikan penyakit pasiennya dengan alasan “Kita gak mau bilang kamu sakit, soalnya kalau orang yang dinyatakan sakit fikiran dia akan bilang dia sakit dan dia akan sakit. Kekuatan fikiran itu luar biasa .. “ Yap, saya setuju sekali, fikiran adalah segalanya. Sekali buruk maka buruk lah segala yang kita jalani.

Catatan untuk para pendaki : jangan lupa membawa gula merah, karena saya sudah merasakan khasiatnya sendiri lumayan nambah energi biar kita gak loyo banget, hihiww

Lanjut, di hitung-hitung kayaknya sudah delapan kali kita istirahat gak kerasa bahwa jarak sudah semakin dekat. Kira-kira satu kilo meter lagi ke tempat nge-camp. Jalanan mulai di kelililngi jurang , sehingga hanya muat satu orang , alias jalan setapak nan sempit. Di situlah saya merasakan keanehan .. hi.. hi.. hi

Oke, pemirsa saya gak tahu ini namanya apa atau di sebut apa. Karena jalan setapak otomatis jalanya satu-satu gak bisa gandengan kaya truk, dan pinggir saya jurang pemirsa kudu hati-hati, kalau tidak .. ya tau sendiri lah. Di sinilah saya merasakan keanehan, jurang tepat berada di samping kanan saya, pas saya lihat koq berubah jadi Danau ya ? saya diem aja , ngelanjutin perjalanan dan saya penasaran apa bener ya danau ? saya lihat lagi masih danau pemirsa, saya bingung tuh padahal di sini gak ada danau. Saya jalan lagi tuh, masih diem dan pas saya lihat lagi jurang pemirsa, danau nya gak ada !!! Nah looooo…

Saya berusaha stay cool, masih jam sebelas pagi, masa iya ada yang begitu-an ? saya jalan lagi, pas saya lihat danau pemirsaaaaa…. jurang nya kemana ???? saya jalan lagi , saya lihat lagi… jurang pemirsaaaa… danau nya kemana ? mata saya kaya berhasulinasi. Saya langsung istigfar dan berdoa akhirnya fenomena itu tidak terlihat lagi.

Dan . . .

Kami sampai di tempat nge-camp

Yeaaaahhhh , rasanya mau nguling-ngulingan di lapangan , tapi sayang banyak orang yang kayaknya abis neg-camp dan lagi bersiap-siap pulang, banyak banget pemirsa, sekitar lima puluh orang. Entah ada acara apa..

Dan..

Mereka bingung ngeliatin saya pemirsa, sebab saya pakai rok .. iya beneran saya mendaki dari awal jalan pakai rok, walaupun di dalamnya tetap rangkapan celana training , mereka ngira saya salah kostum kali ya, lah saya tidak peduli. Ini masalah prinsip.

Pas saya lewat, gak sengaja saya dengar ada yang ngomong “Ih, aneh banget pake rok.. “

Dalam hati saya, ah biarkan saja ini masalah prinsip. Mereka sih gak tahu aja, temen-temen saya malah naik gunung pakai gamis. Belum lihat aja mereka,

Dan, meski masih rada –rada lelah, anak lelaki buru-buru mendirikan tenda karena gerimis mulai jatuh membasahi pipi. Enam bidadari sudah mengambil pasokan air untuk masak mie, di mata air yang cukup jauh dan sufah dingin banget pemirsaaaaaaa.

Senja di gunung begitu terasa memilki kekuatan perenungan yang dahsyat, pantas saja di gunung banyak orang bengong, saya begitu pemirsa, gak sempurna fikiran kosong banget sih.. tapi alam nya itu loh -_- saya kayaknya bakalan mimisan kangen kalau udah di Jakarta.

Dan dari situlah, akar permasalahan mulai muncul. Udara dingin mulai mengusap pipi saya, saya keluarkan pakaian tebal dan jaket serta sarung tangan dan kaos kaki, tetap saja pemirsa dinginnnnnnn. Shalat maghrib dan shalat isya, saya menangis.

Ya Allah

Hari ini , hambanmu yang lemah ini datang ke alam yang telah

Kau ciptakan sedemikan luar biasa dan sempurna

Hamba ini ternyata kecil

Sangat kecil di banding pohon besar yang tumbuh di pegunungan ini

Pantaskah, hamba masih memilki rasa sombong ?

Padahal menginjakan kaki di batu saja , nafas bisa dengan mudah

Kau cabut..

 

Ya Ilahi,

Malam ini,

Ratusan bintang yang tak terhitung nyata di atas kepala hamba-Mu

Maka, seperti dalam firman-Mu

Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan ?

Ampuni, aku yang lemah dan buta ini

Buta akan segala nikmat yang telah kau berikan setiap helai nafasku

 

Ya Ilahi,

Jika kau berkenan

Ampunilah dosa hamba-Mu yang pelupa ini

Ampunilah ya Rabb..

Izinkanlah aku merasakan bintang ini lagi

Di hari berikutnya..

Aamiin..

 

Saya menangis………………..

 

Sudah selesai beribadah dan sedikit muhasabah, acara di lanjutkan dengan api unggun. Saya sangat berharap api yang d buat sangat besar, soalnya dingin bangetttttt. Saya berfikir untuk melakukan push up, atau lari-larian gak jelas suapaya keluar keringet. Pokoknya melakukan apapun supaya bergerak, soalnya kalau diam kaki saya kayak kram gitu.. mungkin karena dingin banget kali ya ?

 

Saya dan enam bidadari hanya berjarak sekitar lima puluh cm, dari api unggun yang super unyu itu. Saya pelukan sajaa dengan ka  Zakia, soalnya dingin banget. Ampun pemirsa, minyak kayu putih udah gak ada rasanya lagi,  Saya sebenarnya gak betah banget duduk, soalnya lutut saya kaya kram.

 

Acara pun di mulai, ka Yogi selaku ketua Forum Ikatan Alumni dan MC membuka acara, dan saya mau membacakan puisi “Filosofi Perahu kertas”

 

Pertama-tama lipatlah sebuah kertas menjadi dua bagian sama besar secara horizontal. Kau akan menemukan makna bahwa segala sesuatu pada mulanya selalu merupakan persinggungan dari dua hal, dua peristiwa, dua kekuatan, dua orang yang bertemu atau dipertemukan.

Kita tak akan pernah menemukan arti kebahagiaan tanpa terlebih dahulu bersinggungan dengan rasa sakit-rasa perih.lipatlah sebuah kertas menjadi dua bagian yang sama. Pertemukanlah antara satu sisi dengan sisi lainnya. Lihatlah, kau mulai mencipta gerak, dan kau segera tahu bahwa peristiwa-peristiwa hidup berikutnya segera dimulai-sebuah lakon mulai dimainkan.

Kemudian, lipatlah kertas yang terlipat dua tadi dengan sebuah lipatan lain secara vertikal. Maka kau akan menjumpai kenyataan bahwa peristiwa selalu merupakan resultan dari persinggungan titik-titik takdir yang dimiliki sejumlah orang-dua atau lebih.Seseorang memiliki takdirnya sendiri sebagaimana seseorang lainnya,  Takdir mereka berjalan berdasarkan natur tertentu, pada track tertentu, sampai pada sebuah kemungkinan tertentu bahwa mereka berpapasan, beririsan, bersinggungan dengan yang lain.dan  setiap orang punya kuasa atas hidupnya sendiri-sendiri, atas perahu kertasnya sendiri… Setiap kita memiliki perahu kertasnya masing-masing,
_YangGalauyangMeracau_
 

 

Dan bu Trini seklaku guru bahasa Indonesia saya yang amat saya sayangi, membacakan puisi Soe Hoe Gie , Mandalawangi-Panggranggo

 

MANDALAWANGI PANGRANGO
soe-hok-gie-mandalawangi-pangrangoSenja ini, ketika matahari turun kedalam jurang-jurangmu
Aku datang kembali
Kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku
Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
“Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
terimalah dan hadapilah”
Dan antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara
Aku terima ini semua
Melampaui batas-batas hutanmu, melampaui batas-batas jurangmu
Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup
Soe Hok Gie
Jakarta, 19 Juli 1966

 

 

Lalu, di lanjut dengan sharing-sharing dan

Semua berubah ketika negara api , menyerang   Ka Yogi, berfilosofi mengenai “Hidup” jadi pemirsa, ka Yogi ini anak jurusan filsafat . Sebenarnya saya suka  diskusi seperti ini, pembicaraan mengenai Hidup yang ka Yogi paparkan , cukup menarik dan bagus . Yang pada intinya Hidup itu adalah Paksaan, menurut pandangan ka Yogi.

Setelah di pikir, saya setuju dengan filosofi hidup yang di paparkan oleh ka Yogi, tapi sayang saya nggak berani menuliskan nya di sini, soalnya ada beberapa hal yang saya lupa dan takut tidak sesuai dengan ucapan ka Yogi aja, jatuhnya reporter gagal dong. -_-

Negara api menyerang belum selesai Ternyata filosofi “Hidup” yang di paparkan ka Yogi, di balas dengan ka Yusuf (sahabat kuliah nya ka yogi, dia ikut ) yang jurusan tafsir hadist.

Tshaaaaa negeluarin dalil al-Qur’an pemirsa, bahwa hidup adalah ibadah (Al-Dzariyat:56)

Kedua orang itu saling beradu argumen, saya malah seneng kayak gini , malah mau saya tambahin satpi sayang….

Yang lainya udah mulai banyak yang pusing, ada yang tidur, ada yang mau ngerubuhin tenda, ada yang nyari panci, ada yang nyeduh kopi. Kondisi mulai tidak kondusif, bahkan ada yang mau joget (yang ini abikan, hanya mitos)

Banyak yang teriak “Aduhhhhhhhhhhhhh tidur daaaah , udah maleeemmmmm.. “

 

Saya ketawa cekikian ngeliat, tingkah laku teman-teman yang mulai aneh.  Ya, terkadang kiat harus banyak belajar bagaimana cara mengambil alih suasana. Dan terapaksa, pembicaraan mengenai “Hidup” itu bersambung.

Setelah saya membuatkan teh untuk bu Trini, ternyata ka Yusuf sedang berbincang-bincang dengan bu Trini, saya ikut nimbrung memperhatikan. Sambil pada bakar diri, eh salah bakar sosis, ka Yusuf dan Bu trini berdiskusi mengenai kondisi Indonesia, tsahh pembicaraan yang cukup idealis. Ka Yusuf juga cerita, bahwa sebenarnya pembahasan “hidup” dari kemarin belum selesai di diskusikan dengan ka Yogi, sahabat sekaligus teman satu kontrakan. Saya dan bu Trini lirik-lirikan, tidak bisa membayangkan persahabatan yang super ajaib ini.

 

Malam berlalu, kami semua melepas lelah dan tertidur di tenda. Pemirsaaaaaa saya gak bisa tidur , ka Zakia ka Herfina, Ka nurbaeti Kedinginan. Saya jadi ingat ketika saya di ruang operasi , dan ruangan operasi nya persis banget rasanya kaya gini. Dari situ saya sadar pemirsa,

“Allah, hanya kepadaMu lah kami kembali dan berserah diri, tanamkanlah kesabaran pada hati hamba-hambamu ini, aku memohon  kekuatan dariMu untuk melawan dingin yang menusuk jemari kami , ya Rabb .. “

Dan . . . Detik berlalu, waktu terus berjalan

Ingatkan engkau kepada,
embun pagi bersahaja,
yang menemani mu,
sebelum cahaya
Ingatkan engkau kepada,
angin yang berhembus mesra,
yang ‘kan membelai mu, cinta _

letto-sebelum cahaya

kenapa harus lagu itu pemirsa ? Yup, lagu diatas sebenarnya bermakna sebelum cahaya alias sebelum subuh, saya kangen azan pemirsa -_-

 

Bersambung……. (tulisan di atas masih dalam keadaan kacau, karena tetiba tugas memanggil , minta di temenin )

dalam ribamu, dalam sepimu

Pangrango

Dalam ribamu

Dalam sepimu

Dengarkah kau desahan kerinduan dari kota ini ?

Aku ingin berjalan sunyi di hutanmu yang menjadi suram

Merasakan angin malam yang menusuk tulang paling dalam

 

Pangrango

Dalam heningmu

Dalam kasihmu

Aku ingin bersandar di pohonmu yang sejuk

Merasakan kasih yang tak terjamah di ruang dadaku

 menciptakan ruang nostalgia di bukit terjal pendakianmu

 

Pangrango

Dalam sinarmu

Dalam hangatmu

Aku ingin tiduran di gumapalan awan puncakmu

Merasakan tidak ingin pulang ke kota

Perasaanku ingin aku bangun satu rumah untuk orang-orang yang selalu mencintai pesonamu..

Pangranggo..

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑