Search

Pengeja rasa

Perempuan gila yang melakukan perjalanan menemukan bentuk

Category

Meracau

Pergolakan Hidup. ( lembar pertama )

 

Pertunjukan teater malam minggu kemarin, mengingatkan aku akan kesedihan-kesedihan dalam hidupku. Intonasi para pemain dan ekspresi mereka seakan-akan memaksa kepalaku untuk terus memikirkan kegagalan-kegagalan dalam hidupku, atas apa saja yang telah aku pilih secara sembarangan tanpa bertanya pada A.

Sebelum menginjakkan kaki di gedung miss Tjiji, aku ceritakan perasaanku di bus Transjakarta dengan voulume suara yang sekecil mungkin, tapi kupikir orang-orang tetap saja bisa mendengar ceritaku, aku ceritakan pada guruku yang sepertinya sudah aku anggap kakak perempuanku, bahwa hidupku bahkan tidak berani berkata “tidak” bahkan untuk urusan yang nyata yaitu pilihan jalanku. Belakangan ini semenjak penawaran-penawaran untuk masuk ke suatu harakah, di bawah naungan partai yang kurasa masyarakat banyak yang tidak menyukainya. Aku merasa ada awan gelap yang sedang menyinggahi hidupku, bukan tentang ajakan-ajakan mereka, bukan itu. Tapi ini semua membuat aku merenungi keputusan-keputusan dalam hidupku yang aku kurasa aku ambil secara sembarangan.

Saat ini entah kenapa aku merindukan usia 12. 13, 14 tahun, saat aku merasa sanggup berdiri tegap diantara kenyataan-kenyataan menyakitkan. Ternyata menjadi dewasa dan semakin mengerti kan banyak hal, membuat tulang belulangku terasa sakit dan panas, seperti ada bara api yang di masukkan ke dalamnya. Bahkan dalam seminggu ini aku terus menerus di hantui oleh mimpi buruk, di mimpiku keluargaku satu persatu mati dan dikuburkan di depan mataku. Aku ingat bagaimana aku menangis sejadi-jadinya ketika dalam mimpi ayah tercintaku di makamkan, di mimpi itu bahkan aku bisa melihat kakak perempuanku ambruk. Seseuatu dalam kehidupan nyata yang mungkin belum aku temui. Terbangun dari mimpi-mimpi buruk, membuat aku terjaga beberapa jam. Kadang aku panggil mama dan menyuruhhnya untuk menemani aku tertidur. Kalau tidak seperti itu, aku mungkin tidak akan tertidur.

Kesalahan dalam hidupku lagi, saat menuliskan paragraf ini aku benar-benar merasakan kesedihan yang amat dalam. Aku merasa hidupku terlalu banyak digantungkan kepada orang lain.  Misalnya bagaimana takdir mengutukku untuk terus menerus merasa bersalah dua kali lipat dari anak-anak pada umumnya. Lalu apapun yang akau lakukan, kesalahan-kesalahan yang menyebabkan orang tuaku kadang mengumpatku, menyumpal telinggaku dengan kekesalan mereka atas tindakan-tindakan hidupku yang acuh, aku terkukung bertahun-tahun dalam egoisme.

Pagi ini aku bahan berpikir nakal, jika tuan Izrail mencabut nyawaku pagi ini aku siap, aku bahkan akan menyambutnya sebaik mungkin, memangnya apa arti kematian sekarang atau nanti ? apakah besok aku bisa menjamin diriku bahwa aku bisa berbuat lebih baik ? Aku tertawa sendirian, sekaligus menangisi sesuatu dalam hati.

 

Bahkan dalam hubungan aku dengan Tuhan , seringkali jatuh bangun.

Aku pernah bertanya pada seseorang, apakah ia pernah kehilangan makna hidup ? ia menjawab bahwa ia sering merasakan itu. Dan saat ini aku kehilangan makna hidupku, aku kehilangan semanggat untuk menginjakan kaki di kampus. Orang tua yang menjelaskan apa saja dengan marah-marah membuat aku lebih suka memilih tidur dan membaca puluhan buku yang aku pinjam dari perpustkaan. Meski aku tahu bahwa aku terkena teguran tersebab absensiku pada semester ini yang membuat mereka menggelengkan kepala. Padahal sudah aku katakan bahwa aku sedang sakit, aku lebih suka tertidur dari pada membuat teman-temanku tertular karena virus. Dan masuk kembali ke penjara dengan keadaan sehat (aku lebih suka menyebut intuisi pendidikan yang kaku apapun itu dengan sebutan penjara )

Pementasan teater itu bahkan aku akhiri dengan kegelisan sepanjang jalan, tema kebebasan yang mereka pilih membuat aku tercabik-cabik. Ya, aku mungkin tidak pernah bisa bebas dari kebebasan itu sendiri, tapi setidaknya bebas itu ada di dalam hatiku, walau tidak abadi itu cukup membuat aku berkata “ aku cukup bahagia sampai saat ini bukan ? “

Rasanya, aku ingin memeluk tubuhku sendiri dan membisikan sesuatu bahwa aku harus menghadapi kehidupan yang gila ini.Apapun yang terjadi ….

Jakarta 3 September 2014

Monolog dan Curhatan sI Anak Asuh

Gambar

Barangkali pengukuran seberapa jauh kamu sudah dewasa adalah seberapa banyak kehilangan yang telah kau makan dan kau kubur dalam sepi.

 

Tidak boleh ada air mata yang tumpah, malam ini bahkan sejak siang datang. Seharusnya tidak ada air mata yang tumpah, apalagi kau menumpahkannya di kamar pengantin yang saudara perempuanmu akan singgahi. Kaukah yang pulang dengan langkah yang berusaha tegar ? saat belum sempurna kau ucapkan salam di depan pintu rumahmu. Tubuhmu seakan-akan ingin ambruk seketika melihat sosok yang seharusnya tidak (asing) di matamu. Sosok yang seharusnya kau sapa denga riang, sosok yang seharusnya kedatangannya kau peluk.

 

Tapi,  kau tidak melakukan itu bukan ? kau memutar arah, tidak jadi masuk ke rumahmu sendiri, lantas kau menyembunyikan diri ke sebuah ruangan. Sayangnya, pamanmu melihatmu, dan langsung menyuruh dengan sedikit memaksa bahwa kau harus lekas menemui sosok itu, menundukan hormat padanya. Kau diam saja, lantas menatap lantai dengan pasrah, pertahananmu seakan mulai porak-poranda. Dengan langkah yang kau buat seolah tegar, Mama sudah menunggu di depan pintu, membisikan sesuatu agar lekas kau menemuinya, sosok itu.

 

Kau menutup pintu kamar, rumahmu sedang riuh, besok adalah pernikahan saudara perempuanmu. Di kamarmu yang telah disulap menjadi kamar pengantin saudaramu, kau merebahkan tubuh di lantai, memeluk bantal kau menumpahkan air mata. Terisak, seperti anak kecil.  kau mencari Tuhan pada air matamu, pada hampa yang menyingahimu hari ini.

 

Banyak orang yang silih berganti menyalahkan sikapmu hari ini, kau dianggap tidak tahu diri, sombong atau bahkan durhaka, kau pilih kasih, kau tidak menerima kenyataan. Segala macam nasehat telah mereka muntahkan ke tubuhmu, kau diam saja bukan ? bahkan Mama yang ingin kau ajak bicara sejenak, justru meninggalkanmu dengan perasaan yang menyakitkan, Mama membanting pintu, jantungmu hancur berkeping-keping.

 

kepedihan macam apa yang tidur di hatimu saat ini ?

Orang-orang mendadak berubah menjadi menyakitkan, kau mengurung diri di kamar, tidak makan seharian, dan menghabiskan air mata terlalu banyak. Matamu yang indah sekarang berubah buruk,

 

 kenapa kau menangis ?

 

“ Tuhan, aku tidak tahu kenapa aku sedih, aku ingin terus-terusan menangis, aku bahkan tidak bisa membedakan mana perasaan marah dan perasaan bahagia, inilah yang paling menyakitkan, kesedihan yang ditangiskan tetapi tidak tahu alasannya.  Orang-orang saling berebut menyalahkan sikapku, padahal bukan itu maksudku. Orang-orang hanya salah menafsirkan air mataku yang tumpah, orang-orang terlanjur salah paham, mereka tak mengerti apa isi hatiku “

 

Begitukah, suara hatimu ?

 

 saat-saat seperti ini aku ingin memelukmu lebih lama lagi, menyandarkan kepalamu di bahuku, menghapus air matamu berkali-kali. Aku akan diam , mendengarkan semua keluh kesahmu, rasa yang tidur di alam bawah sadarmu. Aku juga ingin mengumpulkan mereka dan mengatakan apa yang tunjukan sebenarnya bukan karena kejahatan,sikapmu yang ini tidak serta merta meledak begitu saja, tetapi refleks alam bawah sadar. Sesuatu yang rumit untuk dilukiskan.

 

 kau akan cantik besok , tapi matamu sudah berubah sembab sekali, kau sedih kau berusaha berbicara tetapi tidak ada yang berusaha mengerti bahwa sebenarnya kau kehilangan kemampuan verbalmu bahkan untuk sekedar mengucapakan banyak hal. Kau juga ingin bersikap baik, apalagi sosok itu sudah tak muda lagi, ia pernah mempertaruhkan hidup dan matinya hanya untuk mengelurakan tubuh lemahmu dari rahimnya. Rasa sakit yang akan kau mengerti ketika kau melahirkan nanti.

Kau ingin memeluknya, bertanya apa kabar ? atau bersikap manis, seperti seharusnya. Tetapi entah kenapa, setiap kali melihat sosoknya kau selalu menumpahkan air mata.

 

 

Sajadah adalah tempat peraduan paling indah

Mengadulah, semoga Tuhan memelukmu lebih hangat.

Surat untuk Jingga

Surat untuk Jingga

24 Maret 2014 pukul 20:40

 

Malam ini terasa amat dingin. Di kamar dengan perut yang amat perih karena asam lambungku naik beberapa kadar, aku memang agak stress belakangan ini, aku justru menuliskan surat-surat ini sebab seorang teman berkata bahwa apa yang aku rasakan kurang lebih sama sepertinya. Barangkali tulisan ini dapat membuat ia merasa bahwa ia tak sendiri, setidaknya ada aku.

 

Di dunia ini tidak ada cermin, padahal aku hanya mempertanyakan rupa wajahku.Orang-orang mungkin berpikir aku sedang mencari jati diri atau aku sedang mencari Tuhan dimana-mana, seolah-olah aku benar-benar merasa perlu merenung panjang bahwa keyakinan ya memang ada untuk diyakini.

Aku lelah tidak mampu menemukan jalan untuk bermonolog dengan diriku yang mewarisi isyarat dari Alam. Aku mungkin partikel yang negatif, yang cepat menangis, cinta pada sebuah sepi, sinisme dalam puisi, yang ingin terus merdeka.

 

Aku memang sedang menikmati apa yang aku sukai, terjun kedalam dunia olah rasa dan olah jiwa. Hal-hal yang aku sukai mendekat padaku. Aku juga punya banyak bacaan yang bisa menambah wawasan atau setidaknya menghiburku di antara potongan waktu yang terkedang menjenuhkan. Aku juga bisa pergi kemanapun yang aku inginkan.Belakangan ini aku juga di pertemukan dengan orang-orang hebat mereka menjadi teman berbagi dan bertukar pikiran dengan baik.

 

Tapi, pada saat Jeda yang aku buat bisu,

 

Aku mendadak kehilangan apa saja yang aku sukai apalagi yang tidak aku sukai, semua orang pada masa ini menyarankan untuk meditasi atau apalah yang menyenangkan. Namun itu semua bukan sesuatu yang membuat aku tenang, aku tidak mengerti kemana semua ketertarikanku, kemana lenyapnya ?

Atau mungkin aku memang tidak boleh merengkuh sepi, sebab sepi seolah-olah memaksaku bermonolog dengan diriku sendiri. Atau mungkin aku harus membaca kebahagian jenis apa yang diriku minta ?

 

Dunia seakan-akan mendadak menjadi tempat retakan-retakan patah hati, sebagian diriku seolah-olah mengajakku menyakinkanku bahwa kembali adalah temapt paling baik.

 

Aku jadi sering menangis saat terjaga dalam perasaan seperti ini

Namun, bukankah ketika terlahir , aku telah menangis bukan berorasi..

 

Aku tidak tahu sejak kapan aku terbelah menjadi dua atau mungkin tiga, Sayang aku tidak tahu. . .

 

 

#Jakarta saat sebuah komentar membuat aku ingin menulis ini

Surat terbuka untuk Windy Saputri : Kakak sayang, Kamu tahu ‘Sacred Anger’ Ngga’ ?

 

Surat terbuka untuk Windy Saputri : Kakak sayang, Kamu tahu ‘Sacred Anger’ Ngga’ ?

Dear kakakku sayang.

Bertahun-tahun saya gelisah karena tak ingin curhat apapun padamu, cerita kalau saya sebenernya ‘gak baik-baik saja’ dan gak bisa dengan mudah melakukan hal yang segampang kamu nasehatin, namun entah kenapa ada dorongan luar biasa untuk nulis ini dan mempostnya di blog saya. Biar suatu saat kalau saya udah ga sanggup berkata-kata lagi, tulisan ini bisa membantu saya buat menjelaskan bahwa adikmu ini sesungguhnya butuh sendiri. 

 

***

Kakak,

Pada hari selasa 14-Januari-2014 saya dengerin kamu menasehati bahwa sebenernya saya gak di “buang” sama orang yang telah melahirkan saya, well saya Cuma menjabawab singkat bahwa saya sudah tahu hal itu sebelum kamu menjelaskan. Sambil mata saya yang terus berkonsentrasi sama sebuah novel , kamu melanjutkan percakapan , yang intinya “aku ndak baik bersikap begitu, nanti kalau aku menikah otomatis kakak laki-laki (kandung) ku yang mesti jadi wali “ kaamu berkata sedemikian mudahnya, hanya karena aku ndak mau menerima dan mensave nomor kakak laki-laki (kandung)ku yang berada di Bandung sana,

 

Waktu saya tahu, saya bukan anak kandung, umur saya waktu itu sekitar tujuh tahunan. Saya teramat kecewa sekali, masih kecil sudah merasakan patah hati yang luar biasa, saya marah banget sama Tuhan karena dia nggak buat saya lahir d rahim orang yang saya panggil Mama, orang yang setiap hari saya lihat di rumah. Tanpa kamu tahu dan semua tahu, saya menyimpan kesedihan itu sendirian, saya masih kecil menyimpan kesedihan itu sendirian. Saya fikir saya adalah darih daging Mama dan Ayah.

Saya berusaha meredamnya. Dari dulu kamu gak tahu kan bahwa setiap malam saya bingung karena sedih menerima kenyataan pahit bahwa saya “anak angkat” status yang menyedihkan. Saya iri sama kamu, karena kamu mewarisi gen Mama dan Ayah.

 

Kakak,

Posisi saya waktu kecil masih polos sekali, saya justru menyalahkan Tuhan , kenapa sih Dia gak adil sama saya ? kenapa harus saya yang anak angkat ? kamu gak tahu kan, saya kecil begitu tertekan. Menatap resah seiap kali mau tidur, bertanya setiap hari sama Tuhan. Apakah Tuhan Adil ?

Pertayaan itu terus berlanjut, lalu pas saya kelas empat SD, saya tahu kalau Ayah kandung saya sudah meninggal, sebenernya saya udah tahu dari kelas dua SD , tapi baru berani cerita ke wali kelas saya Bu Eko, saya anak yatim.

Kamu tahu gak ? respon Bu Eko apa  ? dia malah mau ngankat saya jadi anak beliau, saya ingat banget dia bilang apa sama saya “ Kalau kamu jadi anak Ibu, nanti kamu ibu sekolahkan setinggi-tingginya, kamu juga bisa ngaji di dekat rumah ada TPA “ dia nyuguhin masa depan yang gemilang. Kamu tahu ? saya malah gak berminat sama sekali, saya kira saya gak perlu lah mengambarkan betapa sayang dan cinta nya saya sama keluarga kita. Buat apa saya cukup tapi kalau saya gak bahagia. Saya kelas empat SD bisa berfikir filosofi “bahagia” keren kan ?

 

Kakak,

Coba deh kamu kali-kali mikirin perasaan saya soal mengembalikan hubungan dengan keluarga kandung saya, coba rasakan jejak-jejak kekecewaan di mata saya setiap kali kamu atau siapapun membahas masalah ini. Kamu tahu gak ? saya baru sadar kalau Tuhan itu adil pas kelas dua SMP, dari sebuah novel karya bang tere. Dari situ saya memutuskan memaafkan Ibu kandung saya, saya gak dendam dan berambisi luar biasa untuk sukses dan menjadi kaya terus buat Ibu saya menyesal telah memutuskan meninggalkan dan berpisah dengan putri-nya. Saya Cuma kecewa.

 

Kakak,

Selama ini saya kecewa dengan cara yang elegan. Saya diam saja ketika kalian smeua menekan saya dan membahas masalah ini, saya tahu masa lalu itu bukan untuk di tutupi. Tapi please, coba berapa tahun saya baru bisa menerima kenyataan pahit ini ? enam tahun loh. Saya akhirnya sadar bahwa ini merupakan takdir yang harus saya jalani, takdir saya yang bersinggungan dengan keluarga kita yang sekarang. Takdir saya yang berikatan dengan orang-orang di sini. Takdir saya di sini, bukan di sana.

 

Kakak,

Kamu tahu sacred anger ngga ? kemarahan yang di ungkapkan karena melihat sebuah ketidak beresan? Saya marah tapi diem aja ketika kalian semua sibuk menceramahi saya sepulang dari Bandung. Saya menelan rasa pedih itu sendirian.

Saya sengaja membiarkan semua tahu bahwa saya terluka. Saya menunjukan bahwa tidak ada lagi yang perlu di jelaskan, saya sudah tahu informasi-informasi itu. Dan saat ini Saya menunjukan bahwa luka saya pasti akan mngering, tapi bekasnya pasti masih ada, namun mungkin suatu saat bisa lenyap.

Berilah kesempatan untuk saya bisa entah kapan menerima semua kondisi yang gak normal, kenapa saya bilang gak normal ? karena saya seperti merasakan melakukan poligami,

Karena memilki dua keluarga yang sama-sama membesarkan saya,

 

Oh ya Kak,

Suatu hari saya pernah merasakan hati saya seperti di tusuk pedang es, ih ngeri kan ?

Waktu Mama bilang dengan tulusnya ke saya “ bahwa gaji pertama saya harus di kasih ke Ibu kandung saya “ merinding saya Ka, Mama kayak malaikat ynag turun di bumi. Mulia banget kan ?

Kakak yang baik……

Waktu saya tahu semua kenyataan ini, saya selalu berjanji untuk terus memperbaiki kualitas diri saya, saya gak mau jadi orang berantakan. Saya akhirnya punya harapan hidup, saya mulai punya mimpi-mimpi hebat yang sering kali kamu ketawaain. Lihat aja, saya bakalan bikin kamu nangis bangga karena impian saya bakalan terwujud.

 

Kakak,

Sudahlah.. biarkan adikmu ini berdamai dengan cara tidak melakukan apapun yang berkaitan dengan keluarga kandung saya. Dan masalah wali nikah, gampang lah . Datang tinggal datang, saya diam bukan berari saya jadi monster jahat macam malin kundang. Oh iya, jangan bawa-bawa agama masalah seperti ini, please ini bukan ajaran agama saya, ini salah saya sendiri.

 

Salam sayang buat kakak sayang….

*surat diatas terinspirasi gaya  kepenulisan dengan surat terbuka untuk laire siwi.

 

 

 

 

 

 

Arenamu , kau tak pernah salah Re : FF-PART 1

 

 

Langit selalu membuat aku gemas, karena setiap aku tak sengaja menatapnya aku melihat ada sebentuk awan yang mencoba membuat sketsa wajahmu, ah tidak awan terlalu abstrak untuk mengambar semua detail wajahmu, barangkali ini hanya sesuatu yang malas kusebut yang jika disebut bisa mendadak membuat aku seperti mayat hidup.Tapi bagaimana ini, sebuah kertas kosong mendadak tak sengaja tertulis namamu dengan jelas, aku mendadak bingung sendiri. Mengapa, harus namamu lagi ? aku bahkan pernah bertindak ceroboh menuliskan kertas ujian dengan namamu, bukan namaku. Segila itukah ?

            Mungkin iya, Rehan Rajuna. Namamu yang singkat itu bukankah sudah menjadi absensi nomor satu di kepalaku ? absensi jenis yang jelas berbeda, sendiri dan menjadi nomor satu di hatiku yang rasanya kosong ini. Tunggu ini sudah keberapa kali dalam lima tahun belakangan ini aku selalu membicarakanmu.

Entah pada fikiranku atau pada hatiku, yang menguasai topik kesendirianku adalah kamu. Jelas saja jika isi kepalaku dapat terbaca dan dapat dibedah, mungkin yang terbaca adalah semua kisah kita selama ini yang telah tertinggal jauh di belakang.

Kau benar Re, masa lalu adalah sesuatu yang tidak mugkin dapat terulang kembali dan kini aku menghabisi hari dengan sebentuk perasaan aneh. Kau tahu Re, bahkan saat melihat langit-langit kamar saja, sempurna semua terbentuk auramu, suaramu tiba-tiba terdengar.

            Lima tahun yang sempurna, aku menghabisi hari dengan melawan semua kekuatan auramu yang mengukung isi kepalaku, entah mengapa selama itu aku tetap hafal mati bagaimana melodi suaramu, aku hafal mati apa yang kau suka dan apa yang tidak kau suka tanpa kau ketahui. Dan selama itulah, saat tugas-tugas kuliahku selesai di kerjakan, saat sebuah jeda memposisikan aku sendirian, sempurna sudah bayanganmu mengajakku bicara.

            Aku berpikir aku gila Re, ini semua mungkin karena sebentuk perasaan yang katanya disebut cinta, tapi apakah ini cinta ? aku sungguh tidak bisa menerima jika cinta menyiksaku dengan perasaan lain yang jika aku sebutkan , aku bisa menangis dalam tidur. Kau tahu Re, apa yang disebut dengan menangis dalam tidur ? kau tertidur tetapi hatimu menangis, menyesakkan sekali mengalaminya.

Aku sampai detik ini bisa gila jika terus bertanya pada hatiku sendiri, mengapa hanya kamu yang sanggup bertahan dan membuat aku cinta selama ini. Tunggu, aku sebetulnya tidak berani menyebut ‘ini cinta’ terlalu menyedihkan kisah cinta seperti ini.

Aku bukan hendak menghitung-hitung berapa lama penantianku menunggu sesuatu dari hatimu, yang lahir dari hatimu. Aku hanya mencoba menormalkan seluruh fikiran dan isi hatiku agar aku tidak gila , entah gila dari segi jiwa atau gila dari segi rohani.

            Jutaan neuronku seperti cepat terhubung dan mendadak menjadi jenius jika mengingat namamu, apa saja tentangmu. Seandainya kau hatu Re, ada wanita bodoh yang hampir gila menyebut namamu sepanjang lima tahun hidupnya, dan wanita itu aku.

Lima tahun juga, semenjak kita berpisah dengan cara yang baik, berpisah ? apa kau menganggap kita berpisah ? Ya Tuhan , aku lupa aku hanya figuran yang kau kenal , kau hanya tahu namaku, tahu bahwa aku adalah adik kelasmu di  SMA dulu, berbeda satu tahun denganmu. Tapi selebihnya , apa yang kau ingat ? aku berani taruhan tidak ada.

            Pulpenku berhenti, ada yang menetes lagi sebentuk air yang bening mengalir di pipi kemudian jatuh di kertas yang sempat tertuliskan namamu, mengalir bulir bening untuk yang kesekian kalinya.

Dinginnya suasana malam, mendramatisir sesuatu yang berdesir halus di hatiku, sesuatu yang selalu aku tahan agar ia tak meledak membuat aku menangis seperti anak kecil yang kehilangan uang jajan.

            Apa Tuhan menyampaikan sesuatu padamu, saat hatiku benar-benar mengingkan keberadaanmu, lima tahun untuk wujudmu yang tidak pernah muncul lagi di hadapanku, sungguh ada sesuatu yang tertumpuk di dadaku, sesak sekali rasanya membuat aku menjadi wanita yang menjauhi film-film romantis dan lebih memilih membaca novel romantis di kamar, sebab aku tahu apapun itu aku akan selalu mengharapkan kehadiranmu, aku benar-benar sesak dengan perasaan ini.

Kau tidak pernah salah Re, dan aku tidak berani menjamin apapun apakah beberapa tahun kedepan aku masih waras atau tidak karena memendam sesuatu di hatiku, sesuatu keninginan yang menginginkan hadirmu secara nyata di hidupku, kembali.

 

Aku memiliki memori

 

Waktu tidak mau berhenti untuk membuat otakku berhenti diracuni segala tentangmu, cinta  jenis apakah yang sedang mengerak di otakku, mengendap sekian ratusan waktu, sebentar lagi lima bulan. Setiap hari, aku menyiapkan dan sibuk menerka-nerka hari perpisahan kita, atau sibuk mempersiapkan diri bagaimanakah peran yang akan aku ekspresikan jika kelak Tuhan akan mempertemukan aku kembali denganmu.

 

Kemudian, lima bulan itu ternyata tepat hari ini

 

“Dia, pergi.” Kata salah satu sahabatku

“Iya.” Aku tersenyum tipis, “Dia memang saatnya harus pergi.”

 

Mataku memandang siluet tubuhnya yang sedang berpelukan dengan beberapa kawan, wisuda angkatannya. Hatiku lemas.

Sekarang aku berdiri dari kejauhan, pandanganku tidak mau terlepas dari tubuhnya.

Satu langkah, dua langkah, tiga..

Dia menoleh berbalik kearahku, tersenyum tipis menemukan aku yang seperti patung membisu

 

Aku mundur dan berbalik arah. Air mataku jatuh tak tertahankan.

 

Waktu tak mau berhenti, dia tetap harus pergi meninggalkan Univeritas yang mempertemukan aku dengannya. Aku menyalakan mobil, aku tidak sanggup lagi menikmati detik kepergiannya di pesta perpisahan ini.

Sambil menangis tertahan, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menangisi lelaki sambil menyetir mobil. Aku masih bertahan sendiri, mencintaimu sendirian.

 

Untuk pertama kali, bisakah waktu berhenti  ?

 

Berpisah denganmu

T’lah membuatku semakin mengerti

Betapa indah saat bersama

Yang masih selalu ku kenang
Selamat jalan kekasih

Kaulah cinta dalam hidupkuAku kehilanganmuUntuk selama-lamanya

Sialpula, saatku coba mendengarkan radio di lampu merah, justru lagu super mellow era 90-an yang berkumandang sama nelangsanya. Di lampu merah itu, aku juga menangis. Bodoh!

 

Aku membanting mobilku menepi di pantai, sendirian. Aku hadapkan wajahku yang di tampar angin laut, pagi itu hatiku nelangsa sekali, menangis dalam kesendirian.

Memori mencinatimu , setiap detik gerakan tubuhmu yang melintas tamapa rasa di hadapanku tentu saja sudah terfile rapi di hidupku, dan sekarang kamu justru sedang menikmati kepergian dari Universitas kita, aku harus berapa tahun lagi , menunggumu dalam diam seperti ini ? Maafkan aku, jika ini terlalu di dramatasir, tetapi aku memiliki memori

 

Aku memiliki memori.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bye, selamat berpisah lagi

 

Hai lelaki

Selamat bertemu lagi

Inikah, pertemuan yang sudah aku terka satu tahun silam

Pertemuan yang hanya bisa di hitung dengan tangan berapa lama kita bertatap

Dan saling berbicara..

Kaukah, cinta dalam hidupku ?

Yang tidak pernah kau tahu,

Rasa itu terpendam dalam di ruang dada yang menjadi istimewa

Hai Lelaki,

Bila hujan adalah jutaan rinai

Maka, pada keberapakah dia membentuk rupamu ?

Membisikan segala kerinduanku selama berratus waktu

Hai lelaki,

Bila awan adalah gumpalan rasa

Maka para gumpalan ke berapakah

awan mengambarkan rasaku padamu yang terbang terpendam

 

 

 

Universitas Indonesia, FIB , 151613, hujan November.

 

Coretan : masih merindukanmu

 

Soalnya kau  tidak pernah tahu, beberapa tahun yang lalu menjelang kelulusan  SMA, waktu itu aku menyandang status adik kelas, dan kau sedang bahagianya dengan sebuah pesta kelulusan. Sementara hatiku  mendadak takut akan banyak hal, takut kerinduan itu menyergapku dimana-mana.

Kau masuk UI di  jurusan kedokteran ,aku tidak kaget, satu sekoalah pun tahu kau anak yang cerdas, sementara aku kini sudah memakai almamater kampus UPI, jurusan pendiidkan bahasa Indonesia.

Kota Bandung dan Depok, kita terpisahkan, sebenarnya aku yang merasa dipisahkan , kau tidak ! soalnya aku yakin aku tidak begitu penting dalam kehidupanmu,

Beberapa yang kau ingat dariku mungkin hanya, aku adalah wanita teman dekat kakakmu dan sering menitipkan novel kepadamu, hanya itu. Tidak lebih.

 

Matahari sudah mulai bersembunyi dari langit, aku termenung di statisun kota depok, langkahku dari Bandung terhenti, Depok –kampusmu .

Aku mengalihkan pandangan ke arah  lain, dan aku menemukan seseorang yang selama ini aku rindukan sedang sama terdiamnya denganku. Aku membranikan diri menghapirimu  , sekedar menyapa dan ingin bertanya kabar.

Aku mengucapkan sepatah kata salam yang kau susul dengan  ekspresi kaget dan tampang datarmu, aku tersnyum mencoba menghilangkan gemetar di tanganku. Disusul dnegan pertanya apa kabar ? bak seseorang kawan akrab, kau  menjawabnya baik, tapi aku yakin kau sedang bingung bicara dengan siapa. Soalnya aku yakin, kau bisa jadi lupa. Karena suadah membaca fikiranmu, aku  lantas mencoba mengingatkanmu , kau ingat dan  tersenyum tipis.

 

Kau  tidak berubah, masih sama datarnya seperti dulu, dan aku memutuskan permisi meninggalkanmu dengan hati yang entah bagaimana aku jelaskan, setelah aku menitipkan salam kepada kakak perempuanmu yang  juga aku rindukan.

Mendadak air mata itu jatuh membasai pipiku, aku  merindukanmu  masih merindukanmu.

Kepada Alif : Lima Menara

 

Alif,

Saya merasa lelah sekali belakangan ini, tugas-tugas  seperti mengejar dan minta dikerjakan, tapi setiap lelah itu mengukung kepalaku, saya ingat sesuatu Lif, ingat betapa remuk nya jantung saya ketika dosen pembimbing saya , menyerahkan kertas laporan hasil belajar, nilai saya tertinggal beberapa koma , memang lebih baik Lif, rapot semester kemarin lebih baik, setidaknya diatas rata-rata. Tapi Lif, entah kenapa saya merasa ada yang salah, ada Lif ada yang salah , dan setelah saya pikir-pikir penyebabnya adalah :

 

1.      Saya malas mungkin Lif, malas mengulang pelajaran ketika sudah menjelang sore, padahal mengulang pelajaran yang hari itu diajarkan adalah sebuah kesaharusan yang seharusnya dilakukan Lif

2.      Kosakata bahasa Arab dan bahasa Jepang juga hanya sedikit Lif, saya bisa jadi malas menghafal kosakata baru, jadinya kosakata saya hanya segitu-segitu saja, saya ini anak sastra Lif kenapa jadi malas belajar sastra ?

 

Apa lagi lif ? beberapa hari yang lalu, saya mengkaji Al-Qur’an dan hadist tentang nikmat-nikmat Allah, dan Guruku bilang, jika kita tidak mau belajar maka kita termasyk kufur nikmat Lif, menyedihkan dan merasa berdosa mendengar kalimat tersebut.

Lif, saya teringat seseuatu; tentang  semanggat kamu yang pernah belajar di tengah kegelapan malam, kamu yang merasa pemahaman kamu pas-pas san sehingga harus belajar lebih ekstra lagi di tengah malam, gelapnya asrama Gontor.

Kamu yang ketakutan dengan bahasa arabmu yang pas-pas san, sehingga membuat mu pasrah-sepasrah nya menjawab ujian praktek bahasa arab.

 

Ah, lif

Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa kau kana melawan rasa malas itu lagi, hidupku sudah sedemikian susahnya lif, kalau saya tak pandai maka saya merasa sia-sia lah hidupku ini, lagi pula saya lebih mencintai proses belajar ketimbang hasil yang bisa dimanupulasi, tapi saya sadar Lif, kita akan sendiri ujian pun akan sendiri, ..

 

Terimakasih Alif, yang sudah menyemanggati saya

Blog at WordPress.com.

Up ↑