Search

Pengeja rasa

Perempuan gila yang melakukan perjalanan menemukan bentuk

Category

Merapal Harap.

Suatu hari di Palestina.

Suatu hari di Palestina.

 

“ Saya mohon jangan membawa anak ini ! “ mataku memerah, berusaha mengendalikan intonasi suara, agar tak terkesan teriak-teriak. Kalau aku kasar sedikit saja, maka bisa jadi semua ini berantakan. Bocah laki-laki yang sedang kubela terus memojokan diri di tembok, menumpahkan air mata. Aku berdiri tepat di depannya, berusaha berbicara sebaik mungkin pada tentara Israel yang keras kepala. Tentara israel tetap saja menarik-narik lengan bocah di belakangku, aku pegangi anak ini kuat-kuat. Biarlah, jika aku harus mati di tangan tentara bodoh ini. Beberapa laki-laki ikut membantuku, mereka berusaha  mendiskusikan agar ketiga tentara ini berbaik hati memaafkan bocah di belakangku. Beberapa menit kemudian Gie datang dengan wajah panik, ia tahu apa yang terjadi.

“ Saya tidak akan membiarkan anak ini pergi, jangankan anak ini satu sekolah ini akan saya lindungi dengan darah saya ! “ kata Gie lantang. Tentara Israel terdesak, warga sipil banyak membantu kami agar tentara Israel tidak meyeret paksa bocah yang sedang tersedu-sedu ketakutan. Beberapa menit kemudian, tiga tentara itu mundur. Berjarak tiga puluh langkah dari tempat kejadian, saat diriku baru saja bernafas lega dengan Gie, gas air mata meluncur. Kami semua refleks menutup mata dan berlari kecil, mataku pedih.

***

Malam hari, saat langit hampa tanpa Bintang dan Rembulan. Aku dan Gie duduk diam di depan pengungsian,

“ Matamu masih perih  ? “ tanya Gie

Aku mengelengkan kepala, sambil tersenyum.

“ Kau mungkin kaget, biarpun kita sudah akrab dengan gas air mata tapi sepanjang kita berdemo bersama di jalan, kau tidak pernah aku biarkan terkena gas air mata. M-a-a-f  tadi aku terlambat melindungimu “ lirih Gie,

“ Justru aku berterimkasih, aku jadi tahu rasanya gas air mata. Seorang Demonstran belum lengkap jika belum tahu rasa pedihnya gas air mata “ aku menjawabnya sambil terus tersenyum.

“ Anak-anak kita yang malang “

“ Gie, tentara itu bodoh sekali ya ? “

“ Ya dan mereka adalah kumpulan pecundang “

“ Hahaha !! mereka melemparan gas air mata, mereka tidak berfikir ? air mata anak-anak kita adalah gas air mata itu sendiri. Kenapa mereka memancing air mata keluar dari mata anak-anak kita, bukankah tidak di lempar gaspun, anak-anak kita sudah fasih betul mengeja rasa yang berkecamuk membuat mereka menitihkan air mata saban hari .. “

“ Kau benar, seharusnya gas air mata itu mereka ledakan dekat mereka sendiri. Agar mereka tahu rasanya kehilangan, rasanya tidur tidak nyaman, rasanya di sakiti, rasanya tertindas “

“ Mereka bodoh “ ucap aku dan Gie serempak.

Advertisements

Di Ambang Kematian.

Bicara Tentang aku Yang Ingin Menenggelamkan Diri Di Samudera.

 

Nelangsa sekali, jika selama ini saya begitu takut dengan kematian yang seperti mengetuk-ngetuk pintu rumah saya. Saya sangat takut dengan Malaikat Izrail yang bisa mengunjungi siapa saja. Tetapi terkadang, bahkan seringnya saya begitu merindukan kematian. Bila saya mati, apakah orang-orang akan menangisi kesedihan saya, mengoyang-goyangkan tubuh saya yang kehilangan nyawa. Lantas orang-orang berteriak parau memohon-mohon agar saya hidup kembali. Ataukah, justru orang-orang merasa tidak peduli jika saya mati nanti. Hanya terkejut kemudian kembali menjalani rutinitas tanpa ada bekas-bekas kesedihan.

Kematian, adalah kompilasi dari banyak hal. Kalau tidak ada kematian atau tidak ada sesuatu yang mati, barangkali dunia ini sudah rusuh dengan penduduk bumi yang kisruh. Tetapi di sisi lain, orang-orang tidak menginginka kematian orang terdekat, sebatas mereka belum siap memakan mentah-mentah apa itu kesedirian. Apa itu terjebak adalam nostalgia yang manis yang berubah jadi rindu yang berdarah-darah.

Dalam benak , saya selalu ingin mati dikelililngi orang-orang terkasih, sebelum mati barangkali saya bisa memanggil sang Maha Cinta sebanyak yang saya bisa, menyebut-nyebut namanya di sela-sela nafas yang sudah satu, dua, tiga.

Perihal hidup, ah apa sih hidup itu ?

Hidup saya selalu di isi oleh perang-perang besar, perang yang tak kunjung selesai, karena saya berperang melawan diri saya sendiri. Saya yang begitu ceroboh, begitu tidak menyenangkan karena banyak yang membenci saya, banyak yang tak menyukai sikap saya, banyak yang tak menyukai kehadiran saya. Jauh sebelum itu, jauh sebelum mereka melukai dan tidak menyukai saya, atau bahkan saya yang melukai mereka. Tepatnya, saya selalu ingin menghilang, saya selalu ingin berkali-kali menghilang karena malu, malu pada banyak hal.

Ada banyak hal yang membuat saya ingin menghilang, bukan karena saya ingin melarikan diri dari realitas,, buka karena saya kalah dengan kenyataan yang lebih banyak membingungkan. Tapi, karena saya ingin belajar mencintai sang Maha Cinta, saya kesal dengan kehidupan dunia yang semakin hari membuat saya ingin menabrkan diri ke truk yang sedang melintas, tetapi untungnya keinginan untuk mati tidak pernah mendorong saya benar-benar melakukan tindakan bodoh : Bunuh diri.

Orang-orang bilang bunuh diri adalah mematikan diri, sengaja betul menghentikan nafas, sengaja betul melarikan diri dari kehidupa dunia. Tetapi, nyatanya kita manusia di dunia ini terkhusukan saya telah melakukan bunuh diri setiap hari. Betapa saya selalu membuang-buang waktu untuk hal-hal remeh, betapa saya lebih banyak tidak bergunanya.  Dan yang paling menyebalkan adalah saya belum menemukan titik kesejatian saya, saya seperti orang mabuk yang terus berusaha sadar, misalnya betapa menyakitkan jika saya sedang melakukan monolog kepada diri saya sendiri, yang hampir setiap malam saya lakukan.

” Berdiri sebagai apa,berfungsi seperti apa, dan berperan seperti apa ”

Lalu saya menutup muka dengan bantal. ah kesal sekali betapa saya belum mencapai apa yang seharusnya saya capai. Belum bekerja apa yang seharusnya saya kerjakan. Kesal. Kesal.

Di tulisan saya yang ini, saya ingin memarahi diri saya sendiri. Sekaligus berterimakasih karena sudah berusaha sekuat.

 

Monolog Marah :

Di sebuah cermin, ada bayangan seorang perempuan, tiba-tiba saja setelah sekian menit ia memandangi dirinya, ia menangis sedih. Air matanya tumpah melambat, matanya sudah memerah. Demi Purnama di bulan Juli, apakah yang sedang ia tangiskan ? wahai perempuan yang alis matanya konon dapat menyembunyikan kegetiran yang berusaha ia lumatkan. Dia menghapus air matanya, kemudian menumpahkanya lagi, menghapus lagi, tumpah lagi. O, Majnun yang terasing bisakah kau jelaskan mengapa perempuan ini begitu terlihat sendu ? Rupanya, perempuan ini sedang menangisi kenyataan yang terkadang membuat ia terjatuh berkali-kali, kakinya terluka, hampir sobek dan bernanah. Perempuan itu makin tersedu-sedu, ia  teringat akan mimpi anehnya dimana ia pernah bertemu dengan dirinya. Sekarang perempuan itu. terdiam lama sekali, dikamarnya dengan penerangan yang redup, ia malah sengaja mematikan lampu. Kemudian menyalakan lilin, filosofi yang ia pegang kuat-kuat, maknanya agar ia dapat melihatkebaikan di dalam kegelapan.

Tadi perempuan itu menangis, sekarang ia marah sambil memukul-mukul lantai, tanganya tak sakit. Pernah menjadi atlet bela diri membuat tulang-tulangya sudah terbiasa dengan pukulan. Tapi tangisannya tak kunjung berhenti, bahkan tak anggup memadamkan api lilin yang tak tega dan ingin segera mati. O, Demi Neptunus di laut sana, apakah yang membuat perempuan ini marah ? Iya, ternyata perempuan ini marah pada dirinya sendiri ia marah karena selama ini ia telah membuang-buang kesempatan untuk menjadi perempuan baik. Ia, teringat wajah-wajah orang-orang yang berkorban sedemikan dahsyat. terutama Mamanya, mama yang sekarang telah menua. Dia mematikan lilin, perempuan itu berhenti menangis. Dan

D.i.a.m.e.l.i.h.a.t.M.a.h.a.c.i.n.ta.d.i.m.a.na.ma.na

Monolog terimakasih:

Selembar kertas, ia melipat sedemikan cepat. Perempuan itu melakukan tradisi melaporkan kabar pada neptunus dewa laut. Perahu kertasnya berlayar, anggun. Perempuan itu menatap langit subuh, sepagi ini ia sangat ingin memeluk apa saja, ia bahagia sekali karena rentetan peristiwa telah membuat ia belajar akan banyak hal. Ia merasa bahagia, atas apa saja. Segala sakit perih, segala rasa bahagia yang sangat tipis dengan tangis malamnya.Ia mendadak amat bahagia, bahagia sekali. Orang-orang tidak mengerti. . . ia bahagia sekali.

Dia menggengam, entah apa. Mendadak potongan lagu sebelum cahaya berputar..

“Gengamlah tanganku Cinta”

Terpelanting.

Bug

Bug

Bug

Barangkali aku sering mengutuk diriku sendiri atas banyak hal yang aku pilih secara serampangan, memberantakan beberapa hal dalam hidupku. Memikirkan hal-hal remeh yang seharusnya tidak aku pikirkan. Akhirnya aku gila sendiri,

Lilin di kamarku bergoyang, saya memeluk lutut. Orang-orang di sekitar kita banyak yang merasa hidupnya terasa begitu menyakitkan, merasa tidak beruntung dan penuh masalah. Iya, ini termasuk saya , yang barangkali blogku ini berisi keluhan-keluhan sampah, tulisan-tulisan dunia mayaku berisi sampah juga, aihh kapan aku dewasa ? dewasa dalam cara berfikir.Baik dalam cara berfikir.

Pause.

Jadi, aih Hidup, taukah kamu ? sebegitu menyakitnya toh saya bisa melalui, walaupun yang pasti saya pernah melakukan kesalahan. Barangkali, dari masalah yang menerpa, ada sebuah hakikat yang harus terus saya pahami, yaitu : “memaafkan diri”

Pause.

Jadi, maksud saya apa menulis semua ini ?

” S.a.y.a s.e.d.a.n.g.m.e.n.a.t.a.d.i.r.i :”

semacam muhasabbah,agar saya terus bergerak sebelum semuanya terlambat ! soal apa yang akan terjadi kedepannya, resiko-resiko yang berupa bonus, saya akan mengumpulkan kekuatan untuk mengatasinya.

 

Selamat ulang tahun Liana, sekarang tersenyumlah, damailah, tegakklah ke langit luas, pejamkan matamu. Semua orang-orang baik berkumpul di sekitarmu…. Lepaskanlah… yang lebih baik semoga akan datang.

Semua rasa sakit, bertahun-tahun yang saya  tangisi sekarang hanyalah kenangan, semacam ingatan yang bisa di tertawai.

 

 

Selamat Ulang Tahun, wordpressku Tersayang !

Diriku yang terbelah , wordpressku sayang. Selamat ulang tahun tak terasa satu tahun sudah aku menceritakan banyak hal padamu. Sejak pertama kali kau terciptakan untukku, dan menemani perjalanan rasaku selama ini.

 

Sekarang di depan layar aku sedang merenungi banyak hal, misalnya tentang apa saja yang aku tulis selama ini, yang membacanya bisa membuat aku tertawa di perjalanan atau bahkan sesak di kepulangan. Aku belum menyiapkan apapun untuk perayaan ulang tahunmu, barangkali tidak akan ada nasi kuning atau minuman berwarna-warni, dan menu-menu racikan mama yang super lezat. Aku tidak terbiasa merayakan kedewasaan usia lewat pesta-pesta yang semu. Seperti saat ini, yang aku lakukan menatap layar menggerakan jemari untuk menuliskan sesuatu di sini, aku lebih suka memberiu tulisan di banding kado-kado yang bahkan bisa terlupakan.

Wordpess, sahabatku sekaligus belahan diriku yang lain. Pada hari ulang tahunmu ini aku ingin memelukmu dengan hangat, terimakasih atas segala ruang yang izinkan untuk menuliskan banyak hal. Minimal agar aku tidak gila ! dari hiruk pikuk dan kekejaman kehidupan yang kadang juga aku sumbangkan kekejaman itu. Terimakasih atas banyak hal, misalnya kebahagian ketika tulisan-tulisanku bermanfaat dan meninggalkan jejak yang apik di hati pembaca.

Disinilah diriku bersembunyi, orang-orang tak mengenalku dan aku juga tak hendak memperkenalkan diri. Aku hanya ingin menulis sesuatu yang sederhana karena bagiku Hidup adalah Perjalanan Rasa, kelak semoga anak-anakku meluangkan waktu membaca tulisan-tulisan ini

 

Bandung, 06 Juni 2014

 

Sedikit celoteh untuk Sekar

Tabik

Untuk Sekar Indah, adikku yang selalu ingin menjelma menjadi Bidadari Surga

Sekar sayang, saat kau membaca surat ini barangkali jantungmu berdegup tak beraturan. Menerka-nerka apakah yang akan aku tulis, Sekar mungkin dalam hidup kita akan menemukan banyak jalan, maka barangkali sajadah adalah wujud bahwa kita makhluk yang lemah. Sekar saat pertama kali melihat sosok polosmu duduk di barisan belakang mendengarkan aku yang sedang asyik menyampaikan materi keputrian. Aku melihat ada kilauan yang berbeda, entah apa. Sejak saat itu aku jatuh hati padamu, bagiku kau adalah seorang wanita yang sungguh-sungguh dalam memperbaiki diri, kau bahkan pernah menangis di sudut sana saat teman-temanmu dari sekolah yang dulu menyangka kau Hamil hanya karena kau memakai gamis dan kerudung yang kau julurkan menutupi lekuk tubuh. Sekar, saat itulah sebenarnya aku ingin memelukmu, merebahkan dukamu. 

Sekar sayang, kita pernah berbincang hangat di taman kau bercerita dengan mata yang binarnya persis sepertti apa yang aku alami dulu, kau jatuh hati pada seorang laki-laki yang dia adalah sahabat baikku, aku hanya tersenyum mendengar celotehmu. Aku selalu bilang pada dirimu, Jatuh cintalah ! tidak ada mazhab manapun yang melarang, tapi kita harus mengendalikan dengan baik perasaan tersebut, aha ! iya Sekar, seringkali rasa membuat kita tidak berfikir dengan baik. Aku hanya ingin berpesan padamu, tentang rasa ya sudah di pendam saja 😀 tunggu waktu terbaik sambil terus memperbaiki diri. Kau pasti sudah tahu tulisan aku tentang ida, barangkali seperti itulah. 

Sekar, kita adalah perempuan manusia yang didalamnya terdapat banyak muara kasih sayang 😀 semoga kita bisa terus istiqomah dalam memperbaiki diri, salam manis

nanti akan menyusul, surat berikutnya 😀

Monolog dan Curhatan Si Anak Bungsu

Monolog dan Curhatan Si Anak Bungsu

16 Maret 2014 pukul 0:03 Liana Daisha

Anak bungsu mutlak sudah akan melakonkan keriuhan yang “Tunggal “

 

Si bungsu , pernah berharap bahwa estafet penugasan ke warung tidak akan berhenti di dirinya, pasalnya sang kakak kerap kali menyuruh si bungsu ke warung untuk membeli banyak hal. Padahal kartun kesukaannya sedang asyik dia nikmati.

Si bungsu yang selalu membuat sang kakak akan mengalah tentang banyak hal, anak kecil yang tak tahu apa-apa itu sering kali membuat sang kakak merasa seharusnya tidak ada lagi bayi di perut ibunya setelah ia lahir di dunia. Si bungsu malah berharap bahwa seharusnya ia menjadi kakak, agar bisa menyuruh ke warung juga.

 

Hari-hari si bungsu akan diisi oleh pertengkaran lucu yang membuat Mama memegang kepalanya, teriakan parau si bungsu yang mengadu atau mengarang cerita bahwa sang kakak telah menindasnya, melempar bantal , merebut mainan si bungsu adalah bentuk penindasan dari sang kakak.

 

Apa kau tahu hal apa yang paling mengesankan menjadi si bungsu ? ialah bahwa dia begitu menjadi prioritas dari perhatian Papa Mamanya, membuat sang kakak merasa bahwa ia sudah tak disayang lagi. Dan yang paling membuat si bungsu merasakan kenyamanan luar biasa adalah, ketika sang kakak melawan teman-teman jahatnya, mencoba melindungi si bungsu dari marabahaya. Malam-malam si bungsu jarang diisi oleh kesepian, jam-jam bisa saja berdetak lelah karena mendengar si bungsu berbagi cerita dengan sang kakak. Diajak bermain sepanjang sore, diajari sang kakak matematika dan menulis.Dibawakan sang kakak beraneka makanan dan minuman, si bungsu mempunyai satu benda yang sama seperti sang kakak, menandakan bahwa mereka adalah saudarasatu rahim.

 

Dan apa kau tahu, hal apa yang paling sulit diterima si anak bungsu ? ialah ketika sang kakak telah melingkarkan cincin indah di jari seorang perempuan, mutlak sudah kasih sayang di porsi. Si bungsu mendadak akan diajarkan waktu mengenai cara mempertahankan diri , melawan malam-malam sepi tanpa canda tawa dari sang kakak. Menatap kesal sang wanita yang harus ia sebut “kakak ipar”

 

Anak bungsu, mutlak sudah menjadi anak “tunggal” tiada lagi yang akan saling curi mencuri makanan di dalam kulkas atau menghasut agar mama masak menu yang mereka sukai, anak bungsu mendadak bingung kemana tempat berbagi kue ? Tanpa pernah dipahami, si bungsu adalah satu manusia yang merasakan dua jiwa, jiwa riuh dan jiwa tunggal.

 

-Jakarta, ketika sebuah rasa sulit untuk di bawa memejamkan mata.

Tentang kamu yang Diam

Saat itu azan isya baru saja berkumandang syahdu, aku mendengar ponsel berbunyi anggun. Dan pesan ingkatmu mendarat menghujam kecemasan

“Ini buruk, Li “

“Ada apa ?? “

Kau tak kunjung membalas dengan cepat, aku lantas bergerak cepat dan menghujami inbox di ponselmu juga facebookmu. Aku gugup, merasa ada yang tidak beres pada pesanmu kali ini. Setelah itu, mendekati menit kelima belas pesanmu sampai dan

Bagaimananakah, kabar penghianatan di jantungmu ?

sesuatu yang buruk telah mendiami jantungmu malam ini, kau menyembutnya penghiantan terindah. Dan pada malam itu, betapa aku tahu kau telah menjadi orang yang ditinggalkan. Sebagai seseorang yang merasa dekat denganmu tentulah aku merasa turut sedih dan merasakan hawa nestapa yang menjalar, walaupun dengan kadar kesedihan yang berbeda. Aku tetap saja merasakan sakit meski kau tak menitipkannya di jantungku.

Sejak malam itu, puisi-puisimu adalah gambaran perasaanmu  yang  sesungguhnya. Di berandaku aku hanya bisa menggigit bibir memandangimu yang memeluk kesedihan. Dalam keadaan seperti ini ,mana mau kau di ganggu makhluk panic sepertiku ?  Tapi taukah kamu, aku jadi memikirkan kesedihanmu, ikut tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dan kamu disana ?aku yakin kepedihan yang baru saja singgah tidak mudah membuatmu memejamkan mata.

Hari ke tiga-setelah luka itu datang menyambanggimu,

Kau masih saja berdiam diri dan menarik diri jika diajak bicara, dan walau pun aku menyapamu dengan ribuan puisi, kau hanya bisa menatapnya dengan tatapan kosong. Sementara aku, sedihmenataplayarponsel, tidakadakamu di sana. Katakanlah !Bagiwanitasepertiku, apakah yang harusakulakukan ?ketika orang yang ia Sayang sedang merasakan luka. Aku sudah berusaha datang membawa segelas air putih, setidaknya bisa menghibur bibirmu yang meracau galau. Tetapi, tetap saja kau diam . .

Itulah mengapa, firasatku kuat sekali dari awal kau memperkenalkannya padaku, aku sudah tidak menyukainya tidak simpatik padanya dari sisi manapun. Dan firasatku benar, malam itu dia melukaimu,meninggalkanmu s-e-n-d-r-i-a-n

Lalu, apakah yang harus dilakukan wanita sepertiku ?

Benar, aku tidak dapat melakukanapa-apa selain menulis tentang mu berharap kamu membacanya dan merasa bahwa itu untukmu, aku hanya bisa menyemangatimu da merengkuhmu dalam doa, berharap sekali kau akan baik-baik saja ,tegar menghadapi segalanya. Termasuk luka-luka itu . . .

Bicara firasat apakah kau tahu itu ? Aku percaya pada firasatku setelah luka-luka baru saja selesai terjadi ,aku percaya tubuh memberikan respon yang meski kita sendiri sulit menerjemahkannya seperti apa. Apa kau merasa ?sebelum kejadian itu aku berubah , aku marah untuk hal-hal kecil kepadamu, bahkan pada suatu malam kita pernah bertengkar hebat hampir saja kita berpisah dan menghabisi semua tulisan-tulisan kita, dongeng-dongenku , mimpi-mimpiku hampir saja kita membantingnya pada malam itu, bukan ?

Kamu …

Apakah kamu pernah mencintai seseorang sedemikian tulus sehingga merasa malam-malammu akan nelangsa setengah mati, tanpa suara darinya, tanpa kehadiran darinnya. Senjamu seakaan erubah menjadi menyedihkan ? Sampai-sampai kamu rela memberikan jantungmu untuknya ?

T-a-p-i pernahkah kamu menyadari bahwa

Itu hanyalah kepura-puraan paling klasik

KAU TAHU ?

Sebetulnya kita tidak pernah benar-benar mencintai seseorang, kita hanya takut merasa sendirian. Maka, itulah mengapa aku bilang bahwa cinta adalah-kesendirian itu bukan soal memiliki apalagi bersama. Kita adalah makhluk tunggal yang bertangung jawab atas diri kita masing-masing, masyarakatlah yang membuat kita menjadi makhluksosial, maka aku pun juga belajar mencintai diriku sendiri sebelum mencintai orang lain.Kamu atau aku berhak bahagia sendiri ataupun dengan orang lain.

Maka semoga dengan datangnya tulisani ni, keadaan hatimu cepat membaik, tidak mengapa jika memang pada kenyataanya kau tidak bisa kembali kepadaku (bersikapsepertibiasa )tidak mengapa jika pada kenyataannya kau menganggap tulisan ini hanyasampah, atau aku hanya kurang kerjaan mengurusi perasaanmu. Pahamilah, akutahu rasa sesakitu, memeluk lutut sendirian tidak ada seseorang yang menemani rasanya sangat menyedihkan. Dan aku tidak mau itu terjadi padamu. . .

Aku ingin tertidur, berbaring di ingatan penghujung november 2012

Aku tak kuasa beranjak

Selalu saja ingin menjejak . . .

Dan saya seperti keracunan ; MENDAKI

 

Carier 350 Ribu dan Daftar Impian yang belum tersampaikan.

 

Jadi ceritanya, saya baru enggeh kalau tak jauh dari rumah saya terdapat sebuah toko peralatan outdoor pecinta alam. Dan jelas-jelas sekali tas carier di pajang kece di toko tersebut. Saya yang baru jatuh cinta sama dunia pendakian, hanya bisa menangis guling-guling di depan toko. Duh, kapan ya beli carier nya kesampaian ?

Selama beberapa bulan ini, saya aktif mengikuti grup fanpage Backpaker Indonesia, Komunitas pecinta alam dan lain-lain yang berhubungan dengan petuangan ke alam. Setiap hari selalu ada yang memposting foto-foto keren luar biasa oleh-oleh mereka yang sudah berkelana dan  mendaki.

Bayangkan sebuah foto luar biasa nan kece selalu pamer di dingding facebook orang yang lagi menyusun daftar impiannya akan kemana diriku ini berkelana mengenal alam.

Hampir mimisan setiap kali ngeliat awan yang bergelembung bak kapas di atas puncak berbagai gunung di Indonesia. Apalagi kalau ada yang foto mamerin sunrise di pantai. Saya ini kan agen neptunus, bisa menangis irilah saya melihat dokumen keren tersebut.

Tetapi, setidaknya saya belum terlambat, usia saya masih sangat belia dan cukup untuk lebih banyak menjelajahi sudut alam Indonesia. Because, saat saya gak mau kuliah S2 di luar negeri  temen-temen saya minta di jelasin Indonesia kayak apa ? saya Cuma bisa jawab “Macet dan banyak sampah “

Dan, untuk bisa menjadi pendaki ataupun tukang ngebolang tidaklah semudah film jejak petualang. Butuh dana dan kondisi finansial yang mesti di perhitungkan secara matang, jangan sampai kita lagi pergi tapi uang kita tiris dan habis. Membuat kita harus mengemis di pinggir jalan. He he he he

Turun dari perjalanan di gunung salak bulan desember lalu, membuat saya sadar satu hal. Bahwa pergi ke alam adalah cara menemukan penjelasan terbaik, membuat kita merenung banyak hal. Saya yang sempat tertusuk dinginnya malam dan menggigil luar biasa , membuat saya begitu rindu dengan Matahari yang dulu saat masa SMA dan SMP sering saya hindari karena panas.

Entah bagaimana caranya, mekanisme ini bekerja….. mekanisme harapan dan Impian luar biasa ini bekerja.

 

Akan ada saatnya nanti, di blog saya ada banyak daftar perjalanan saya mengeja rasa bersama Alam, cerita yang akan saya warisi untuk anak-anak saya

 

keluar Jakarta, satu tahun lagi..

 

Beberapa teman saya , meninginkan kuliah di luar kota Jakarta, saya pun begitu, lebih memilih kuliah keluar kota dari pada harus di kota ini, alasan klasiknya karena Jakarta menjenuhkan, saya tidak ingin berangkat kuliah dengan hati yang sensitiv karena harus melawan kemacetan dan pulang kuliah harus sensitiv karena melawan kemacetan. Saya tidak bisa, bertahan di kondisi sedemikian rupa seumur hidup saya. Oleh karena itulah saya memasukan keluar dari kota Jakarta sebagai salah satu target hidup saya.

            Terlepas, dari mampu atau tidaknya kondisi finansial keluarga saya, saya tidak banyak memikirkannya, yang jelas bagaimana caranya saya bisa kuliah dan bertahan di luar kota, lagi pula. Saya selalu percaya , Tuhan telah menetapkan rezeki kepada saya. Kuliah di luar kota, mungkin banyak resikonya diantaranya kelaparan . Ya, jauh dari orang tua tentu akan menuntut seseorang mandiri, mengolah masakan yang murah agar lezat atau membeli masakan dengan harga yang murah, tapi setelah dipikir-pikir saya saja makan sehari sekali , masakan mama. Jadi sama sajalah.

Yang paling membuat saya ingin jauh dari orang tua adalah keinginan saya untuk tidak lagi membuat repot orang tua, lagi pula saya kebanyakan menghabiskan tenaga di luar rumah, sesampainya di rumah saya tidak bisa berkontibusi banyak dalam hal pekerjaan rumah tangga, dari pada mama saya lelah. Lebih baik pisah bukan ?

            Lagi pula, saya lelah sekali berada di kota Jakarta, macet , panas, dan tidak ada pemandangan alam yang cukup baik untuk di lihat ataupun di nikmati, di dinding kamar saya sudah tertempel tujuan dan target hidup saya, dan saya sedang bersiap-siap serta merapikan segala kejoplangan dan kegamangan saya. Saya barangkali akan memilih Bandung , semoga saja Allah berkenan membawa saya ke kota itu, kota yang dulunya saya sangat jauhi sekarang begitu saya rindukan.

Bandung, saya kangen kamu. . .

 

kesempatan yang pernah aku dongengkan

 

Di pertemukan  lagi dengan kesempatan yang pernah aku dongengkan dengan

 gemintang di langit sana.

Aku bilang selamat datang dan bertemu lagi dengan wanita eneh yang acap kali kau temui sebagai panitia acara di tempat keberapa kau berada

Atau aku adalah wanita yang luar biasa anehnya mengapa bisa begitu akrab dengan kakak perempuan dan adikmu, lengkap sudah keluargamu sudah aku kenal, bahkan aku mencium tangan ibumu yang beberapa waktu lalu aku temui.

Ini terkesan bahwa aku adalah balada panitia seribu acara dan kau adalah pengisi di setiap acara yang begitu membuat degup jantungku tak beraturan.

 

Dan beberapa hari lagi, kita akan berdiri di satu podium menjadi seseorang yang menentang argumen mengenai beberapa topik sejarah bangsa ini, kau anak fakultas kedokteran dan aku anak fakultas sastra di hadapkan pada sejarah yang sempat membuat kita terkantung-kantuk saat menghadari pengarahan.

Kita akan berdebat, memakai almamater, satu podium membela Universitas kebanggan kita.

 

Wahai lelaki

Bagaimana bisa aku berdebat mengenai sejarah yang di persoalkan di remaja , semetara hatiku lebih berdebat saat berhadapan denganmu, aku akan lebih dekat hanya berjarak beberapa senti dan dengarkah kau ? aku bersorak senang tetapi separuh hatiku juga gamang luar biasa,

Aku tidak takut melawan orang-orang , yang justru membuat aku gemetar adalah kenyataan bahwa kau sedang berbicara fasih di sampingku, di sampingku..

 

Belum pernah dekat seperti itu sebelumnya

Cinta bekerja dengan pertemuannya yang ajaib

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑