Search

Pengeja rasa

Perempuan gila yang melakukan perjalanan menemukan bentuk

Category

NOKTURNAL KAMERAD

Nokturnal : Itu tetap c.i.n.t.a ( Eps.1)

Seperti yang telah kami rencanakan, aku dan kamerad serta ka Lundu dan ka Ria ( mereka adalah para pemai teater, kameradku adalah seorang astrada )  kami berempat pergi ke Pantai Jakarta.

Tengah malam sabtu seperti ini jalanan banyak di penuhi oleh muda mudi yang pacaran, bahkan sepanjang jalan dermaga kau mungkin akan mendapati puluhan pasangan yang berjejer entah membincangkan apa.  Aku sempat terdiam lama ketika memperhatikan puluhan gembok yang bertulisakan nama pasangan masing-masing, gembok itu terkunci dan aku yakin kunci itu di buang secara sembarang. Dengan dalih cinta mereka akan bertahan sampai kapanpun. Hatiku mendadak miris, kupikir hanya anak sekolah yang akan melakukan ini, aku ingat ketika aku duduk di sekolah dasar aku dan teman-teman acap kali menulis nama orang yang kita suka di belakang buku, berharap cinta itu abadi. Aku bahkan pernah mengukir nama seseorang di atas cetakan tanah liat berbentuk hati, lantas memasangkan tali emas, aku menyimpannya di bawah tumpukan baju tapi kemudian cetakan itu pecah. Dan, seseorang yang pernah aku tuliskan di sana telah aku lupakan dan sudah aku anggap tidak penting lagi.

 

Sewaktu berjalan mencari tempat yang nyaman, orang-orang banyak yang memperhatikan kehadiranku, mereka seolah-olah terheran-heran seorang perempuan berhijab dan  memakai rok panjang berwarna hitam tengah berjalan dengan seorang pria gondrong, berkacamata dan kurus di sampingnya. Aku memang amat merasa seperti di perhatikan, kameradku juga mengiayakan, namun aku dan kamerad seolah-olah tidak memikirkan apa yang ada di kepala orang-orang. Aku justru membuat lelucon sepanjang jalan. Aku teringat akan keputusan-keputusan dan segala tindakan gilaku yang aku lakukan, misalnya malam ini aku keluyuran di pantai Jakarta, tampak mencolok di antara muda-mudi yang pacaran.  Sudah lama aku menganggap Jakarta sudah tak memiliki sekat antara malam dan siang, aku tidak pernah takut keluar malam selama itu aman ( maksudku bersama orang yang aku kenal, dan pergi dengan minimal tiga orang ) orang-orang mungkin menanggap aku perempuan tidak benar. Terserah, aku bahkan sudah tidak peduli dengan komentar orang-orang yang sok tahu, kenal diriku saja tidak.

 

Kami berempat menemukan tempat yang nyaman untuk menikmati lampu-lampu yang bercahaya, di Pantai Jakarta kau tidak bisa mengharapkan deburan ombak yang bisa membuat kau terhipnotis, tidak ada. Di Jakarta tidak ada deburan ombak, kecuali jika kau berwisata di pulau Seribu.

Di sebuah tembok besar, aku bersusah payah menaikinya, ka Lundu langsung tertidur diatas batu, telinganya di sumpal oleh musik. Sementara ka Ria  melakukan hal yang sama tidur di sampingku, menyumpal telinganya dengan musik.

Yang duduk dan terjaga hanya aku dan kameradku, ada saja yang kita bicarakan seoalh-olah kita berdua memang tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Malam itu aku bertanya tenyang hubungan kameradku yang kandas bersama kekasihnya, mendengar ceritanya tubuhku seperti ikut terbelah. Aku membayangkan adegan demi adegan dan ekspresi kameradku ketika ia ditinggal menikah oleh kekasihnya. Padahal hubungan mereka sudah berjalan hampir delapan tahun.

 

Di penghujung kisah sedihnya, kameradku berkata bahwa bisa jadi itu kesalahnya , katanya dulu saat bertemu kekasihnya ia hanya memohon pada Tuhan untuk di dekatkan, dan Tuhan memang mengabulkan doanya untuk dekat tapi Tuhan tidak mempersatukan mereka dalam hubungan pernikahan. Aku teringat akan tulisan seseorang, bahwa apapun yang kita minta seharusnya lengkap. Tidak usah sepotong-sepotong begitu. Tapi aku yakin, mungkin itu jalan terbaik yang diberikan Tuhan untuk kameradku, saat-saat seperti ini seharusnya aku menyetel lagu “ kasih tak sampai-padi “.

 

Sudah sebulan ini emosiku sebanarnya datar-datar saja, bahagia yang tidak bahagia sekali, sedih yang tidak sedih sekali, atau marah yang berlebihan seperti yang acap kali dulu sering aku lakukan. Aku menjadi lebih tenang dari biasanya dan bagiku itu membahagiakan. Mendengar pengalaman-pengalaman kamaredaku yang memang menakjubkan membuat aku seperti melewati banyak pintu, aku suka mendengar cerita-ceritanya yang unik dan terkesan gila itu. Aku juga bercerita pada kameradku bahwa aku dihubungi seseorang yang dulu pernah berjanji ingin menikahiku setelah aku cukup umur, namun ia kemudian menghilang begitu saja. Dan aku benar-benar tidak peduli, baru baru ini aku tahu bahwa sampai detik ini ia bahkan belum menikah. Saat ia mengubungiku aku hanya membalas dengan seperlunya saja, aku tidak pernah membutuhkannya apalagi mencintainya.

 

Kami terus melanjutkan percakapan dengan sangat serius, aku bahkan sampai tidak mengantuk. Kameradku tidak setuju dengan hubungan bernama ‘pacaran’ katanya, pacaran adalah sebuah kebohongan yang di sepakati bersama, baginya cinta tak harus di ucapkan apalagi diresmikan lewat hubungan yang rentan rusak. Aku setuju dengan apa yang ia anut, sejak dulu aku bahkan tidak pernah menjalin hubungan pacaran dengan siapapun. Aku tidak suka digiring, aku tidak suka dilarang-larang sementara orang tuaku saja tidak pernah melarang apa yang aku inginkan. Bagiku pacaran adalah konsep yang menjenuhkan, bayangkan kau harus berbalas pesan atau menghubungi pacaramu setiap hari untuk menanyakan hal-ha yang sebenarnya sangat sempele sekali, sudah makan ? selamat tidur, sedang apa  ?

Aku tertawa bersama kameradku, rupanya ia satu prinsip urusan asmara denganku. Walaupun aku suka menulis, namun tentunya aku lebih suka lelaki yang sangat panik ketika aku menghadapi bahaya, di banding dia bergalau ria memikirkan aku dan menuliskannya di status facebook. Cinta adalah kata kerja, tidak perlu di tulisakan dan di ungkapkan itu tetap cinta tidak pernah berkurang nilainya.

 

Aku jadi teringat teman dunia mayaku namanya Jingga, ia menuliskan masalahnya panjang lebar di inbox facebook, bahwa ia ingin menikah dengan pria seniman yang ia cintai tapi tidak di beri restu oleh keluarganya. Orang-orang selalu menyangkan bahwa menghabiskan hidup dengan pria seniman akan membuat hidup  kita melarat, keuangan yang tak pasti konon menajadi muasabnya. Aku miris membaca pesannya di Facebook.

 

Obrolan panjang tentang cinta malam itu, membuat perasaanku benar-benar kosong, pasalnya aku sedang tidak berada di posisi membangun cinta, atau kasmaran. Aku sedang melenyapkan semuanya , termasuk cinta yang pada saat ini tidak terlalu penting.

 

Advertisements

Jenis Nokturnal yang Menghancurkan Hidup Saya*

Hidup saya , sudah saya persembahkan untuk orang lain, entah itu untuk keluarga saya, teman-teman saya dan siapapun yang pernah hadir di kehidupan saya. Maksudnya, saya tak mempersembahkan hidup ini untuk diri saya sendiri, kalau begitu saya akan mencari kebahagian dan kepuasaan-kepuasaan ataupun pembenaran-pembenaran untuk kebahagian saya sendiri. Kalau kalian pembaca setia tulisan-tulisan saya di blog ini, kalian akan mengerti, sebagian besar yang saya tulis adalah, orang-orang yang hadir di kehidupan saya. Sebab saya percaya, pertemuan dan perpisahan sudah ditakdirkan, saya suka sekali menyimpan orang baik dalam tulisan juga dalam hati, maksud saya agar saya selalu ingat akan kebaikan-kebaikan mereka dan kelak bisa membalasnya atau minimal bisa menjadi orang yang berlaku baik pada orang lain.
Saya rasa, saya perlu membuat kategori baru, ya anggap saja ini semacam arsip pembicaraan saya dengan seseorang, saya tak bermaksud membuatnya spesial itu bukan tujuan saya, tujuan saya adalah menulis agar saya ingat, lagi juga kalau saya menulis saya akan melakukan banyak perenungan.

Nokturnal dalam wikipedia Hewan giat malam atau hewan nokturnal adalah hewan yang tidur pada siang hari, dan aktif pada malam hari. Aktivitas yang merupakan kebalikan dari perilaku manusia (diurnal). Hewan nokturnal umumnya memiliki kemampuan pendengaran dan penciuman serta penglihatan yang tajam

p.s : Saya tak bermaksud menyamakan dengan hewan, saya pikir nokturnal cukup keren 😀

DIA BISA MENGHANCURKAN HIDUP SAYA.
Judul diatas, saya sengaja buat seheboh mungkin, sebab itulah yang saya tanggap ketika pelatih teater saya yang bernama Santo , menakut-nakuti saya yang sedang asyik makan sepiring nasi goreng. Cerita bermula saat saya ingin mendaftarkan diri ikut lomba membaca puisi. Saya , teman saya Fika dan guru bahasa saya ( sering saya ceritakan di blog ini bahwa beliau adalah guru Bahasa Indonesia saya semasa SMP, sampai saya lulus bertahun-tahunpun ia tetap dekat dengan saya, kami menjelma menjadi adik-kakak, atau bahkan ibu dan anak ) kami bertiga berangkat menuju Taman Ismail Marzuki ditemani oleh pelatih teater saya ( ia juga berkawan dengan guru saya ), lantas kami berempat memutuskan makan nasi goreng karena lapar.
Itu kedua kalinya saya ke TIM, sambil memakan nasi goreng, pelatih teater saya ( yang selanjutnya akan saya tulis Ka Santo ) memecah keseriusan makan nasi goreng
“ Kamu lahir tanggal berapa ? “
“ 16 Juli kak “
“ Serius ? “
“ Iyalah serius “
“ Gila, tanggal lahirnya sama kayak temenku yang namanya Budi “
“…..”
“ Kamu jangan kenal Budi deh, kamu bisa di ancurin sama dia, dia kerjaanya ngerusakin orang, orang bener di belok-belokkin sama dia “
“ …. “
Saya tidak menjawab, hanya senyum-senyum saja. Saat itu yang saya tanggap adalah “ Namanya Budi, dia bisa menghancurkan hidup saya ! “
Pada tanggal 30 Maret, saya berkenalan dengan ka Budi lewat chat grup yang dibuat Bu Trini , di chat itu ada saya, ka Budi dan Bu Trini. Awalnya saya disuruh memanggilnya dengan sebutan “mas” entah kenapa saya kurang nyaman dengan panggilan tersebut, terkesan jaim. Jadi saya lebih memilih memanggilnya dengan sebutan “ kak” meski kadang saya menyesal kenapa dari dulu tidak memanggilnya dengan sebutan “abang” seperti yang dilakukan dengan adik fiksi saya Fatimah.
Saya menyukai Gie, menaruh hati pada sosok pria dengan nama lengkap Soe Hok Gie, yang kerap saya tulis dalam surat-surat, Gie adalah obrolan saya pertama dengan ka Budi, meski ka Budi sudah bilang bahwa Gie, baginya adalah tokoh pop.
Bahkan sampai saat ini saya tidak lagi melanjutkan apapun tentang Gie dengan ka Budi, membicarkan hal yang tidak menarik perhatian orang lain merupakan sesuatu ke sia-siaan.

Selanjutnya, pada tanggal 31 Maret , ka Budi mengirimkan dokumen pdf novel Totto Chan ke inbox facebook ia mengatakan

“novel toto chan sangat inspiratif & saya selalu membagikan ke murid2 untuk bisa mengerti apa itu pendidikan sesungguhnya. biar jadi manusia merdeka haaa”

Bersambung . . .

Episode pertama,
Jakarta 20 Oktober 2014 diketik dalam rangka menjaga ingatan

Blog at WordPress.com.

Up ↑