Search

Pengeja rasa

Perempuan gila yang melakukan perjalanan menemukan bentuk

Category

Opini

tadinya mau Bijak malah ketawa ngakak

 

Pada ke berapakah cinta benar-benar dinyatakan cinta ?

Selama ini orang-orang beranggapan, bahwa cinta harus satu tidak boleh bercabang menjadi dua, tiga atau bahkan delapan.

Sementara wanita yang masih bisa di katakan muda ini menangis sendu di hadapanku, remaja yang masih pusing dengan rangkaian rumus database di kelas pemograman, wanita itu melampiaskan derita yang dia alami kepadaku, memutuskan bercerita pada remaja putri yang juga terkadang labil.

“ Aku harus bagaimana , ketika dia mengatakan mau menikah lagi , wanita mana di dunia ini yang meneriman ? “ dia bertaya pada diriku yang menjaid pening sekali, urusan rumah tangga.

“Rasanya, aku tidak akan sanggup menjadi yang pertama tetapi di duakan.. Kau pasti mengerti kan ? “ dia semakin sendu

 

Aku masih terdiam lamat-lamat, aku tahu wanita itu pasti sedang menunggu jawaban apa yang akan hendak keluar dari bibirku. Sambil manatap jalanan yang basah terkena air hujan, aku mulai megeluarkan gemulan kata yang sejak tadi dipilih.

“ Saya percaya mbak, tidak ada wanita yang sempurna di dunia ini, oh tidak lebih tepatnya manusia yang sempurna di dunia ini. Apa yang mbak inginkan ntuk menjadi satu dan terakhir kalinya adalah keinginan setiap wanita di muka bumi ini, tapi mbak harus ingat , menikah adalah hubungan. Dan sebagaimana hubungan antara manusia, posisinya rentan berpisah dengan 1001 alasan klasik.. . “

 

Wanita itu terdiam takzim memperhatikan

 

“ Mungkin saya bisa jadi sama mbak, saya mungkin juga memilih pergi dan merapikan segalanya sendirian, pura-pura tegar akan banyak hal. Itu kalau saya memikirkan duniawi saja, tapi kalau saya melihatnya dari sudut pandang keimanan justru yang terjadi adalah hal yang menabjubkan. Tanda-tanda kiamat adalah wanita lebih banyak di banding pria, kalau begitu kemungkinan untuk seorang lelaki memilki satu istri sangatlah tidak mungkin atau minim terjadi, sekarang begini .. bagimana jika ternyata suami mbak itu telah di garisakn oleh Tuhan menjadi suami saya juga ? bagiamana ? jika suami mbak adalah jodoh saya ? atau yang lebih ektrem lagi, bagimana jika abang saya menikahi mbak ? menjadikan mbak istri ke dua  bukankah itu namanya jodoh ? “

Wanita itu terdiam , ekspresi mukanya mencair

 

“ Hubungan  mbak dan suami mbak itu sepertinya tidak sampai di tahap kadarluarsa, tetapi kalau memnang mbak tidak siap menajadi pertama yang di duakan, dan memilih pergi, ya monggo.. itu pilihan mbak, tapi kalau mbak memutuskan mau menerima ya itu juga pilihan mbak, anggap saja cobaan dunia, mbak jangan berfokus pada suami mbak yang memiliki istri muda, fokus saja menjadi istri yang shalihah. insyaAllah biar Tuhan yang menilai “

 

Di antara kesenduan yang tercipta, ingin rasanya aku tertawa terbahak-bahak aku merasa seperti konsultan pernikahan syariah,  aku berusaha tetap tenang aku tahu ini bukan saatnya melawak.

 

Dan hari itupun, berubah menjadi dua bulan sejak curhat akbar itu di gelar, sekarang wanita yang dulu memangis sendu di depanku justru sedang akrab berberlanja bersama istri kedua suaminya. Dia memilih bertahan dan mencari Ridho Tuhan. . .

 ***

“ Aku punya kenalan adik kelasku dulu, dia top banget cocok kalau buat kamu, “ kata wanita itu suatu hari yag ingin menjodoh-jodohkanku.

“Oh ya ?, simpen dulu deh mbak calonnya, saya mau memperbaiki diri dulu hehehe “ kata sayaberusaha menahan tawa yang ingin meledak

“Loh memang usia kamu sekarang berapa sih ? “ katanya menyelidik

“Enam belas, “

“………… “

“Eeee….. “

“Saya mendadak mau ketawa guling-guling “ katanya di susul dengan tawa dan rasa malu mengingat curhat masalah hati ke anak usia enam belas tahun, saya pun juga menertawakan diri saya sendiri. Dunia ini sangat aneh.

 

 

 *ini hanya fiktif belaka

 

 

 

 

 

Apakah sekolah untuk orang PINTAR SAJA ? saya gak pintar , gimana dong ?

Apakah sekolah itu hanya untuk orang yang pintar saja?

Setiap kali ada diskusi tentang ini, ketika ada sebagian orang yang tidak bisa masuk ke sebuah sekolah yang bagus, universitas yang keren, maka ada saja orang yang berkomentar: “makanya dong, rajin2 belajar, pintar. biar bisa lulus ujian masuknya”. Maka pertanyaannya adalah apakah sekolah itu hanya untuk orang yang pintar saja?

Kampus top (menurut definisi kebanyakan orang) seperti Universitas Indonesia, ITB, UGM, dsbgnya itu jelas susah payah masuknya. Tapi ketika ada anak SMA yg menangis tidak diterima, bukan berarti orang lain bisa bilang, “makanya dong, rajin2 belajar, biar lulus ujian masuknya.” Karena kita tidak tahu jangan2 anak tersebut sudah siang malam belajar, sudah mati2an menggapai cita2nya, dan ketika dia kalah pintar dibanding ribuan peserta test lainnya, apakah dia tidak berhak masuk UI, ITB dan UGM tersebut? Apakah sudah nasibnya harus menerima komentar ayo dong dek, kalau otaknya pas2an mbok ya cari kampus lain yang biasa saja, cocok. Apakah sudah nasibnya dia harus kuliah di tempat biasa2 saja? Biar tidak hang, eror, stress nantinya karena ketemu orang pintar semua?

Saya paham sekali, tidak mungkin kampus2 top ini menerima semua orang. Tidak mampu kapasitasnya. Saya juga paham, test kepintaran adalah salah-satu alat yang paling adil untuk menyeleksi calon mahasiswa. Tapi semua orang juga harus paham, apakah sekolah itu hanya untuk orang yang pintar saja?

Siapa yang akan mendidik orang2 bego, bodoh, lambat kalau ternyata bagi mereka hanya tersisa sekolah2 yang cocok bagi mereka? Sedangkan sekolah top hanya mau mendidik yang top saja?

Tenang saja, sebelum kita berpikir kemana2, tulisan ini tidak didesain untuk berdebat panjang lebar, tidak perlu beradu argumen, cukup dipikirkan saja. Karena pada kenyataannya, kampus2 top itu sekarang malah asyik dengan cara lain merekrut murid2nya, dengan kriteria lain yang jauh sekali dari prinsip adil dan bermartabat. Tapi sy tidak akan membahasnya. Bisa pusing sendiri menghadapi sistem yg ada.

Catatan ini dibuat agar orang2 yang hendak menjadi guru, sedang menjadi guru, atau telah lama menjadi guru kembali mengingat prinsip mulia dari seorang pendidik. Apakah kita hanya akan mengajar murid2 yg pintar saja? Atau sebaliknya kita bersedia mengajar siapapun sepanjang orang itu bersedia menuntut ilmu kepada kita?

Mari kita beranjak lebih tinggi dari sempitnya sistem, dari rumitnya kebijakan, peraturan, regulasi. Mari kita tinggalkan itu semua. Pendidik berada di atas segala runyamnya situasi. Bahkan guru SD yang baik, terpencil lokasinya, jelas lebih penting dibanding pejabat2 dan sistem yang ada–setidkanya bagi murid2 di sekolah itu.

Panggil pemahaman terbaik kita. Bahwa semua orang berhak memperoleh pendidikan, termasuk murid kita yang paling lambat mengertinya, paling cemong, paling lusuh. Dia pun berhak atas pendidikan terbaik. Semua orang berhak mengecap pendidikan. Mau dia bodoh, miskin, berhak. Bahkan dalam kasus paling ekstrem, ketika dia malas sekalipun, dia tetap berhak memperoleh seorang guru terbaik untuk mengatasi kemalasannya, guru yang tidak mudah menyerah atas kemalasannya tersebut.

*Tere Liye, catatan menjelang rilisnya novel “Amelia”.

Blog at WordPress.com.

Up ↑