Search

Pengeja rasa

Perempuan gila yang melakukan perjalanan menemukan bentuk

Category

Pil Inspirasi.

Saya Hampir ingin MATI saja

Tahun 2009 sebuah peyakit tifus berhasil membuat tubuh saya ambruk selama seminggu lebih saat itu masih zaman-zaman sekolah, setelah tifus selesai diatasi lalu munculah penyakit usus buntu atau bahasa Latin disebut sebagai Appendix vermiformis, organ ini ditemukan pada manusiamamaliaburung, dan beberapa jenis reptil. Pada awalnya organ ini dianggap sebagai organ tambahan yang tidak mempunyai fungsi, tetapi saat ini diketahui bahwa fungsi apendiks adalah sebagai organ imunologik dan secara aktif berperan dalam sekresiimmunoglobulin (suatu kekebalan tubuh) yang memiliki/berisi kelenjar limfoid.(wikipedia),

Tapi justru memiliki sebuah penyakit lmalah membuat saya terus bergerak memberikan yang terbaik untuk apa saja. Sampai pada tahun 2011 dokter memutuskan saya untuk operasi hari itu juga saya di infus setelah melakukan serangkaian pemeriksaan. Pada saat itu uang delapan juta rupiah tidaklah gampang untuk di cari, apalagi kondisi ekonomi keluarga saya bisa dibilang pas-passan. Tapi entah dari mana, ada seseorang yang berbaik hati meminjamkan uang  padahal dia sebelumnya tidak mengenal keluarga kami. Tuhan, benar-benar tahu hambanya butuh pertolongan. 

Tidak selelai sampai situ, tahun 2012 saya memutuskan untuk menjadi atlet pencak silat daerah Jakarta, tetapi setiap kali latihan berat rasa sakit operasi itu tiba-tiba saja terasa dan membuat saya tidak maksimal dalam latihan. Saya waktu itu berfikir simple saja, kalau sakit ya berarti olahraga. Uring-uringan di rumah justru tidak dapat membantu banyak hal

Usia remaja mengantarkan saya ingin mencoba banyak hal, untungnya saja hal tersebut masih terbilng positif. Hampir satu Tahun di dunia pencak silat akhirnya membuat saya memutuskan untuk berhenti. Cukup, sampai sini. 

Dari 2009-2012 Disitulah fase terberat saya melawan sebuah guratan takdir, bayagkan berebgaai penyakit silih datang berganti kepala saya hampir pecah, orang tua saya marah-marah akan banyak hal, tidak terima jika saya terus-terusan berpenyakitan. keluarga saya merasa amat direpotkan akan banyak hal, mulai dari membeli obat , menelpon dokter dll. Maaf saya tidak bermaksud mengumbar aib keluarga saya, bukan itu. Saya hanya berharap para pembaca yang membaca tulisan ini tolong jangan jadi seseorang yang justru mematahkan semanggat hidup manusia yang sedang sakit. Coba anda berada di posisi dimana anada butuh dukungan setidaknya untuk bertahan. 

Saya harus meminum 98 kapsul dalam waktu lima belas hari

siapa yang tidak ingin muntah ? siapa yang tidak ingin merasa cepat-cepat MATI saja ? iman-seseorang tidak melulu naik, karena kalau orang yang dinyatakan sakit fikiran dia akan bilang dia sakit dan dia akan sakit. begitulah …. 

Maka sejak dari itu saya belajar, ya kalau sakit masih bisa diatasi saya sendiri saya memutuskan untuk tidak bilang ke keluarga saya, cukup saya rasakan sendiri dan obati sendiri. Kalau ditanya saya mengidap penyakit apa ? saya sendiri juga tidak tahu persis apa, 

Yang jelas dalam rentan waktu itu, saya mengalami sebuah masalah dimana saya cepat sekali jatuh sakit. Rasanya sangat menyedihkan , orang lain terus bertanya ” Kamu kuat gak ? ” “kalau capek bilang ya ? ” “kamu istirahat aja biar kita yang … ” 

Tapi, dari pada meratapi nasib yang menyedihkan, saya memutuskan untuk terus bertahan meski jujur saya pernahberkali-kali  menangis bertanyaa banyak hal pada Tuhan , kenapa terus-terusan terjadi pada saya. Saya mencari motivasi hidup sendiri, saya kumpulkan lagi segala impian-impian saya yang tadinya terlihat retak di mana-mana. Saya pasrahkan kepada Tuhan atas apa saja yang menimpa saya, justru sakit menjadi motivasi untuk terus lebih baik lagi. Sebab yang di kepala saya adalah betapa saya dekat dengan kematian. 

Sekarang saya alhamdullilah tidka perlu mengkomsumsi obat-obatan secara rutin lagi, tidak perlu bertemu dengan dokter sampai sang dokter ahafal nama saya, saya tidak bisa bilang saya sudah sembuh yang jelas setidaknya kondisi saya untuk saat ini memnag cukup juah lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Toh kalaupun saya kembali jatuh sakit, ada satu motivasi yang membuat saya setidaknya bertahan. 

“Seni adalah saat kamu merasa hidup kamu tidak baik-baik saja, merasa di banting sana-sini , menangis saban malam, dan untuk itulah Manusia di beri ujian, agar Tuhan tahu berapa nila untuk seni kehidupan. Pada akhirnya hidup tak melulu bicara soal kesenangan yang tabu, melainkan sebuah tanda tanya besar apakah kita akan menjadi manusia yang berguna utuk sekitar atau se-onggok daging mentah tak berguna. Persetan dengan putus asa .. “

 

Jakarta, 2014 mengenang rasa sakit

Puisi: Penggalauan

 

Yang kuingat darimu adalah

Senyum yang sederhana

Tidak pernah berlebihan tapi mampu melunturkan segala aura buruk di ruang dada

 

Yang kuingat darimu adalah

Hujan saat senja memeluk

Tapi kau malah tersenyum gila

 

Yang kuingat darimu adalah

Isakan tangis di siang hari

Tapi kau  malah tertawa bahagia di sore hari

 

Yang aku ingat darimu adalah

Mata warna warni

Tapi terkadang mengalir bulir bening di pipi

 

Yang aku ingat darimu adalah

Apa yang tidak aku baca

Dari mataku sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

 ****

 

 

 

 

 

 

Betapa hujan pernah membawa dirimu kepadaku

Menjadikan kita akrab dalam satu cangkir kopi yang mengepul

Dan kamu yang berkisah tentang puluhan bintang di angkasa’

Sementara aku berkisah tentang mimpi-mimpi kita yang di anggap gila.

 

Betapa hujan pernah menceritakan kisahmu padaku

Tentang air mata yang tertahan di sudut ruang dadamu

Dan kamu tidak menggubris hal itu

Sementara hatimu ingin meledak tak kuasa menahan rahasia

 

Betapa hujan sudah bosan berkisah tentangku

Aku yang nyaris mati menahan rindu

Pada hujan yang menceritakan kisahmu

Atau pada bulir bening yang selalu kau anggap tidak jatuh

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

***

 

 

Apakah yang akan dilakukan seseorang

Kita tidak bisa mengapuskan satu nama dalam hidupnya

 

Seperti aku

Yang tidak bisa kau hapus

Apakah kau akan bersimpuh, memohon kepergianku ?

 

Atau kau justru diam berkepanjangan

Seperti orang hampa yang tidak tahu harus apa

 

Udara tak beku

Malam tak senyap

Kau panik menghubungiku

Dan percakapan bisu pada malam yang mendadak mati

 

Aku tida bisa menghapuskanmu

Ucapmu, sambil membakar fotoku.

 yang kemudian kau tangisi dalam diam

dan kelammu..

Jakarta, hujan rintih-rintih di bulan November 2013

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(ibu) Trini kusmiah, begitulah nama singkatnya

 

Saya benar- benar tidak tahu harus memulai tulisan ini dari mana, tulisan yang sebenarnya sudah saya rencanakan untuk meledak di blog tercinta ini, bukan..

Ingin meledakan amarah, tetapi justru rasa cinta saya , rasa haru dan terimakasih saya pada salah satu seseorang wanita yang memberikan pengaruh besar dalam peradaban hidup saya.

 

Trini Kusmiah

 

Begitulah, nama singkatnya yang sempat memenuhi jam-jam pelajaran bahasa Indonesia semasa SMP dahulu, betapa ingatan saya masih teramat baik, ketika itu pertama kali untuk pertama kalinya saya menulis cerpen , saat itu saya masih duduk di bangku kelas satu, judul cerpennya adalah “Sinar Dalam Kehidupan “ mengisahkan mengenai seorang gadis yang terlahir buta, kondisi kebutaan yang dia alami ternyata tidak di terima oleh sang Ayah, hingga pada saat shalat malam, dengan penuh keajaiban shalat tahajjud, tubuhnya terpelanting jatuh dari tangga. Gadis itu di berikan hadiah dapat melihat lagi.

 

“Kamu , beneran yang nulis ini ? “ tanya bu Trini kala itu,

“Iya, bu.. “ jawab saya singkat

 

Tidak menyangka, dari pertemuan di tim mading, Tuhan berkenaan mengenalkan saya dengan guru yang luar biasa, bu Trini bagi saya bukan hanya sekedar guru yang mengajarkan banyak hal, tapi sekaligus teman bagi saya, atau bahkan bisa juga di anggap kakak perempuan yang baik.

Beliau terus menerus memotivasi saya dalam dunia kepenulisan dan pembacaan puisi serta pidato, saya bersyukur terlahir berani tetapi saya tidak menyadari bahwa mempunyai kecerdasan linguistik, dan bu Trini beliau yang menemukan itu semua, tidak hanya sekedar menemukan tetapi mengembangkan apa yang dia sudah temukan.

 

Setelah beberapa waktu berlalu, kesibukan pendidikan dan organisasi saya, ternyata semua yang telah di tanamkan oleh bu Trini terpakai, terpakai semua.

Oh iya, yang paling membuat saya begitu haru adalah ketika saya terbaring sakit dan harus menjalani operasi di rumah sakit selama seminggu, bu Trini datang menghibur saya bahkan membawakan novel agar saya tidak bosan, dia tahu hobi saya yang suka membaca.

 

Seandainya bu Trini tahu, betapa saya kangen sekali masa-masa belajar bahasa Indonsia bersama beliau, sekarang masa-masa ini justru saya kuat dalam praktik bukan pada hamparan soal di lembaran kertas, saya kangen rumus-rumus bahasa Indonesia.

 

Saya tentu juga masih ingat, ketika pada saat SMA saya masuk ke jurusan yang tidak saya inginkan (IPA) padahal saya mencintai kelas sosial, saya yang sempat tidak sanggup dan memutuskan curhat ke bu Trini di rumahnya, tampa bu Trini tahu, sebenarnya saya menahan tangis saat bercerita mengenai , jurusan yang tidak seradar dengan saya, tapi semua kesedihan itu di hancurkan dengan sebuah kalimat bijak yang meluncur di bibirnya,

 

“Pada akhirnya, Allah akan mengantarkan kita menjadi diri kita sendiri, menjadi apa yang selalu kita impikan dari kecil, dari dulu ibu selalu ingin menjadi guru, dan akhirnya ibu menjadi guru,walaupun mesti dengan jalan yang berliku-liku, Allah pasti mendengar doa hambanya sekecil apapun itu ..”

 

Kalimat itulah yang membuat gemintang di luar sana jadi terlihat indah lagi, bu Trini juga mulai berkisah bahwa apa yang saya alami saya dengan beliau, ketika bu Trini di paksa masuk SMK oleh kedua orangtuanya dan harus masuk jurusan kuliah yang dia tidak minati yaitu : pendidikan bahasa Indonesia.

 

Belakangan ini saya tahu, ada insiden besar yang sedang menimpa bu Trini , entah itu apa sepertinya masalah lingkungan pekerjaan yang membuat usikan di hatinya, saya tahu status panjang yang sempat ia curahkan di dunia maya, sekiranya mewakili perasan yang sedang beliau rasakan. Tapi saya selalu berdoa agar Bu Trini di berikan hati yang lapang.

 

“Bu, saya mengucapkan terimakasih yang banyak, saya ini bukan apa-apa bu kalau ibu ndak motivasi dari awal, saya berdiri di manapun yang tetap akan terkenang adalah jasa ibu yang terlah menemukan emas di dalam diri saya. Saya mohon maaf bu , apalabila selama menjadi anak didik ibu atau teman diskusi ibu, atau apa ya ? saya menyebalkan.. hehehhe .. yang jelas kalau nanti saya di tanya saya bisa seperti ini karena siapa  ? saya pasti akan jawab Ibu Trini .. doakan saya ya bu, saya sedang meneguhkan tekad agar novel saya bisa rampung dan terbit, .. “

 

Bu , sungguh tulisan ini dibuat (karena) rasa sayang saya dan terimakasih kepadamu..

 

 

 

 

Namanya Pak Wayan, guru Favorit saya

 

Namanya Pak Wayan, guru Bahasa Inggris di sekolah saya lebih akrab disapa seperti itu, masih ingat betul pertemuan dengan pak wayan yang pertama kali terjadi di Rohis, pada saat itu pak wayan berkesempatan menjadi pembicara di acara rohis.

 

Benar-benar ada yang unik yang terjadi di dalam hidup saya dan saya yakin pak wayan adalah sumber keanehan  tersebut, Pak Wayan berbeda dari guru-guru pada umumnya yang ketika bertemu sang murid akan salim tangan sebagai tanda hormat atau sopan. Tapi pak wayan tidak..

Pak wayan tidak mau, muridnya salim tangan ke beliau, alasanya cukup menampar diri saya sendiri, pak wayan bilang “ Saya gak mau, murid saya salim sama saya tapi ternyata di belakangan dia gak ngerjain pr, dia ngebohongin saya , dia gak suka sama saya. Itu sama aja bikin saya sakit hati, buat apa dia salim sama saya kalau seperti itu ? “ jelasnya tegas.

 

Setelah di fikir-fikir benar juga, yang pak Wayan ucapkan benar , itu merupakan koreksi besar buat saya. Kalau boleh jujur , pak wayan adalah guru laki-laki favorit saya, sebab sosok beliau sangat berbeda dari guru-guru pada umumnya. Pak wayan sangat lucu ketika mengajar , dan bahkan walaupun beliau adalah guru bahasa, uniknya bahasa yang dia gunakan ketika di kelas adalah bahasa betawi yang cukup kental.

Saya dan teman-teman sering dibuat tertawa riang dengan lawakan dan bahasa-bahasanya.

 

Ada yang lebih membuat saya kagum dengan sosok pak Wayan, kesederhanaan yang beliau terapkan dalam kehidupan sehari-hari, jika dia berangkat dia pasti mengunakan baju kaos biasa dan celana hitam, tas hitam yang juga sederhana. Kalau pak wayan berpenampilan seperti itu, siapapun pasti tidak akan menyangka bahwa profesi beliau adalah guru. Tetapi jika sudah sampai di sekolah, pak Wayan lekas menganti pakaian dengan pakaian yang lebih rapi lagi, dan ketika pulang dia kembali menggunakan kaos biasa dan sederhana.

Itu yang membuat saya kagum sekali, pak wayan sederhana . bahkan saya kerap melihat pak wayan memakai sendal jepit,

Beberapa hari yang lalu , pak wayan berkisah saat kelas bahasa inggris berlangusng, bahwa baginya prosese menulis adalah proses batin, baginya sesuatu tidak akan bisa terjadi tampa izin Allah, oleh sebab itu pak wayan membiasakan diri apapaun yang dia lakukan dengan izin Allah, sebab ketika Allah tidak mengizinkan ya apapun tidak akan terjadi,

 

Pak Wayan suka menulis, file komputernya terlihat penuh dnegan file-file tulisan yang dia buat, pak wayan bilang sebelum menulis apapun hendaknya kita berdoa kepada Tuhan “ Ya Allah, mudahkanlah saya dalam menuangkan fikiran “

Dan doa tersebut saya langsung praktekan , sehingga lahirlah tulisan sederhana ini mengenai sosok pak Wayan …

 

Terimakasih pak wayan, saya akan berusaha di ujian story telling menjadi siswa yang mendapat nilai terbaik, saya mau ikut lomba pak , biar bisa belajar sama bapak…

Hehehhehehhe..

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑