Search

Pengeja rasa

Perempuan gila yang melakukan perjalanan menemukan bentuk

Category

Sahabat

Anda Pembaca Blog saya di Amerika ?

Halo,

begini, saya lihat pembaca blog saya yang kumel ini lumayan banyak untuk presentase kawasan Amerika, saya sempat curiga jangan-jangan saya diawasi oleh agen-agen wahyudi dan yang lainnya :v :v

 

Oke, buat kamu pembaca yang berdomisili di Amerika, saya mau dong menyapa kalian , barangkali diantara kalian ada yang telah menjadi pembaca setia blog kumel ini hehehe

 

yuk, kirim email ke Senjaseptember@gmail.com

 

p.s : Menerima segala bentuk curhat dan saya akan dengan senang hati berusaha membalasnya.

p.ss : tidak hanya berlaku untuk Amerika saja sih, tapi buat semuaaaaaaa

Advertisements

Sosok Lapar

Ragil Cahya Maulana

 

 

Pada 25 Agustus 2014 22:28

Tepat pada malam itu saya dengan selengekan menyapa makluk yang tidak diketahui jenisnya ini yang saya taksir bertinggi 167 cm berkulit sawo matang hampir gosong. Sebelum itu saya suka memperhatikan statusnya yang kerap bersilweran di beranda dan membenak: “ Orang ini Laper kenapa ya ? kok kaya di novel yang aku lihat itu sih ? “

 

Justru disitulah uniknya. Bang Ragil adalah salah satu tukang bekicot, ia sering mengangkat isu-isu lapar. Seperti kalian semua sadari bahwa sesungguhnya lapar adalah salah satu hal yang sering riweuh dalam diri kita, ia Rajin menuliskan pikiran-pikiran warasnya dan ringan jempol, tidak pernah berdebat dan berniat menculik Jonru dan sangat rajin menabung.

 

Usut punya usut, ternyata Bang Ragil mempunyai perpustakaan pribadi yang tidak boleh sembarangan siapapun meminjam bahkan dari kalangan seorang putri seperti saya. Saya curiga ia memasang kamera CCTV dan menggunakan sensor pada lemarinya, agar pelaku yang mengambil bukunya secara diam-diam dapat ditangkap secepat mungkin.

 

Suatu hari nan cerah ia menuliskan begini di akun facebooknya :

Rezim Orde Rame

 

Di antara 1.723 akun (itulah jumlah ‘teman’ saya di fesbuk sampai detik ini), saya yakin lebih dari setengahnya sudah almarhum alias tidak aktif. Di antara yang masik bergentayangan pun, tak banyak yang benar-benar nginspiratif. Maksud saya, jarang ada oknum yang punyak kesadaran politis menggunakan fesbuk sebagai media penyampai ‘pesan’ untuk membawa ummat pada kemaslahatan dunia-akherat. Saya lebih sering bersua dengan pihak-pihak “nggak jellas”–meminjam istilah Menteri Tedjo, yaitu kaum ngehek yang hobi ngintelektuil dengan nyettatus gondal-gandul-ngalor-ngidul tapi minim signifikansi, komen asal njeplak, nyebar-nyebar tautan berisi inpo-inpo sesat, dan berbagai kelakuan daring ndak jelas lainnya. Mereka saya nobatken subagai rezim orde rame yang sangat berbahaya bagi stabilitas batin dan pembangunan jiwa. Sialnya, setelah kronologi akun ini berkola-kali saya cek, ternyata saya jugak adalah bagian dari mereka yang ndak jellas itu… Kalok kamu?

 

Disitu kadang saya merasa sedih

 

Suatu ketika ia merekam perbincangannya dengan ibunya dalam sebuah catatan facebook ia bilang bahwa ia akan  beternak, ibunya sempat ngedumel dan berkata “Lha, kowe iki kan mahasiswa to, Le. Tak sekolahno tinggi-tinggi kok malah pengen nandur karo ternak. Piye to akalmu “  dan pola percakapan yang hampir sama terjadi pada saya dan Mamak “ Itu Mak, aku gak mau disuruh-suruh orang dan repot-repot berebut busway soalnya kakinya pegel. Aku mau usaha mandiri aja. “ disisi lain kakak perempuan saya nyeletuk “ Anak gak jelas ! seniman tuh gak ada duitnya !!” Saya hanya diam dan senyum simpul , alih-alih langsung mengajak kakak saya nongkrong di Restoran Kapitalis.  Mamak saya sempat protes “ Itu kaya si Anu kerja di Bank gajinya gede, enak beli aja apa bisa “

 

Lama kemudian, ia muncul dengan sebuah pengumuman yang sangat memilukan bahwa ia akan menutup akun facebooknya. Dengan berat hati saya menyetujui tindakan sistematisnya tersebut. Pernah suatu hari ia bilang begini di statusnya : “Pokoknya, tiap orang yang kenal denganku pasti menyesal. Entah menyesal sebab baru kenal sekarang atau menyesal gegara merasa sebaiknya tak pernah kenal saja… Terserah kamu mau jadi orang yang mana, tapi aku tetap aku”  Pada tanggal 3 Febuari  12:04 Bang Ragil menuliskan dalam sebuah kolom komentar “ Alangkah menyedihkan jika hidup hanya untuk bekerja “ Diam-diam saya amini lagi.

 

.Menjelang penutupan akunya, setiap hari ia menganti foto profil dengan angka yang berajalan mundur, terhitung dari sepuluh. Dan setiap kali ia menganti foto profilnya, saya meninggalkan jejak komentar dan emot-emot sedih.

 

Saya sempat mewasiatkan kepada Bang Ragil untuk tidak lupa mengirimkan surat via pos kepada saya itupun jika sempat. Sebab barangkali juga mau meminjamkan satu buku yang tidak pernah bisa saya mengerti sampai sekarang. Ingat itu ! Meminjamkan ( saya merasa buku  saya harus selamat dengan dibaca beliau )

 

Barusan, saya berhasil mengajukan beberapa pertanyaan yang justru dijawabnya di luar dugaan. Ia melakukan sebuah usaha teror mental .

Tidak , saya berhenti bilang Bang Ragil lucu, ia baru lucu jika memposting Teori Kuantum dan menjelaskan Genetika. Belakangan ini saya menyadari sesuatu bahwa sepertinya Tuhan bermain facebook. Justru lewat dunia maya, saya melakukan perenungan-perenungan yang kerap membunuh Jantung saya. Dan yang turut ikut serta menyumbangkan perenungan itu adalah Bang Ragil. Saya tahu, sadar betul bahwa saya sedang dihapkan pada dunia layar, seseorang bisa menjadi siapa saja disini, tapi saya memilih menjadi diri saya sendiri. Yang bisa asal saja menyapa, tanpa ada basa-basi “Salam kenal, kamu tinggal dimana , anak mana ? kamu cakep “

 

Dan perbincangan kami yang terakhir , ia bilang begini :”  Aku ingin berhenti menuliskan hal-hal personal. Aku ingin aku-ku hilang “ sekejap membuat saya meleleh. Malam ini pukul 11:15 saya tidak usah-lah ya, menjelaskan mengapa saya menulis ini. Alih-alih untuk kenangan dan mengarsipkan sesuatu, hmm… saya rasa itu hanya efek panjangnya saja.

 

Selamat malam. . .

 

Jakarta , 22 Febuari 2015

Sebuah Sumpah

Pergolakan hidup yang tak henti-hentinya berlangsung secara sistematis, kadang melumpuhkan akal sehat dan entah mana yang dikedepankan. Segalanya terlihat kabur, air mata yang kadang diam-diam menetes tanpa bermaksud riuh. Bantal kumal yang menjadi saksi dan menyimpan segala curah berabad-abad lamanya.

Ribuan kali diri mencoba menguatkan, diam-diam suka menangis di pojokan menyesali untuk mengulangi lagi. (?) Diri yang tak pernah kunjung berubah, yang terlalu banyak merebahkan tubuh di tempat tidur, tidak kunjung keras terhadap hidup. Padahal rindu melampui batas-batas. Diri keras terhadap orang lain tapi tidak padanya, mencoret dan mendiamkan sampai mati siapa saja yang mencoba membunuh diam-diam.

 

Kadang, ia berjalan pelan-pelan menyusuri lubang-lubang dan berubah wujud menjadi arwah pada klason-klason usang, orang-orang marah dan akan selalu cepat marah. Suara Adzan tidak mampu menumbuhkan bibit-bibit dan tak kunjung menumbuhkannya. Dunia nyata dan dunia maya yang terhubung satu linier, nyatanya semakin menambah konflik-konflik bathin dan pikiran. Diri memang butuh istirahat, tapi istirahat macam apa ?

 

Cinta . . .

 

Itulah yang harus digengam kuat-kuat, sebagaimana letto selalu mengulang “ Kemana kau pergi cinta ? “ Iya, cinta yang kaya akan makna universal. Aku ambil hikmah dari Mamak, Mamakku tidak menghabiskan hidupnya untuk lelah pada pergulatan tokoh dan deretan ideologi, tapi Mamak kaya akan cinta. Setiap kali aku berkali-kali nakal, berkali-kali tidak becus melakukan pekerjaan, Mamak tetap memberikanku makanan yang lezat, yang aku suka.Bukankah itu pertanda bahwa Mamak sudah melakonkan Cinta, mamak tidak sempat memikirkan itu apa. Segala celotehnya mungkin sudah patut aku renungi dalam-dalam untuk benar-benar aku konversikan dalam tindakan nyata, tidak lagi hanya angin lalu.

Mamak, menua meski belum terlalu tua, meski aku selalu memiliki firasat aku akan mati terlebih dahulu, entah kenapa begitu. . .

 

Diri masih sesak sejak semalam, sumpah harus ia ucapkan kembali. Bagaimana seseorang yang ia kira dapat mengantarkan ke jalan pulang. Semalam pergi begitu saja, dengan keluhan bahwa diri terlalu banyak bertanya, terlalu fanatik. Sejak membaca pesan tersebut, ia melihat jam seperti akan menghancurkan diri. Adakah terlalu lainnya ? Ada, benaknya.

Dibawah sumpah ia berkata “ Tidak akan pernah  mengajukan pertanyaan yang remeh- tidak akan pernah bertanya terus menerus- tidak akan pernah bertanya sebelum mencari tahu- Tidak akan pernah- Tidak akan pernah Kepada SIAPAPUN- “

 

Cuma Yang Terdalam, tidak akan berlalu demikian. Itulah mengapa kita perlu bersandar padanya, Setulus mungkin. . .

 

1/

Kepada siapa saja yang pernah mengantarkan kepada suatu jalan pulang. Terimakasih, hanya doa-doa yang mampu dirapal.

2/

Meminta maaf atas segala gerak-gerik yang menyebabkan horizontal patah dimana-mana

3/

Sendiri, akan selalu seperti itu. Bahkan Mati.

Kalian Manis Sekali.

Jadwal buka bersama kalau bulan puasa, pasti dari tiga tempat. SD.SMP.SMA. dan 16 Juli tepat pada saat hari ulang tahun saya, sekolah SMP saya mengadakan bukber, sayang yang datang belum banyak tetapi tidak mengurangi antusias saya untuk menjalin silaturahmi. Sebetulnya saya agak takut datang ke bukber, sebab saya takut di kerjain. Soalnya saya pernah di kerjain habis-habisan sama angkatan pertama, yang bikin saya diam dan gak bisa ngomong apa-apa.

Semasa perjalanan di metro mini, saya hampir saja ingin memberikan pukulan ke rahang seseorang atas sikapnya yang tidak menyenangkan. Tapi saya tahan, dan mencari celah untuk menghindar. Sambil terus mengawasi dengan mata yang amat jahat saya terus memperhatikan orang itu, orang-orang di metromini seakan bingung dengan tatapan mata saya yang sedemikian tajamnya. Mereka lantas bekerja sama saling memperhatikan. Seorang perempuan yang persis di samping saya dengan posisi duduk, tatapan mata saya dan matanya bertemu, berkirim isyarat. Dia ikut menatap tajam kelakukan aneh orang di dekat saya. Sungguh, kalau saja orang itu menunjukan kelakuan aneh lagi, saya berani yakin dia bisa mati di keroyok. Saya terus memperhatikan kaum wanita di dekat saya, seakan-akan menjaga mereka. Kepalan tangan saya seperti disulutkan api. Untungnya sampai di tempat tujuan, tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. Saya merapalkan doa agar orang aneh itu tidak melakukan tindakan tidak menyenangkan lagi.

Di depan confest, saya menenagkan diri. Saya belum berani masuk, menunggu seseorang guru yang ternyata cukup lama. Saya akhirnya masuk, setelah sebuah pesan dari panitia menyuruh saya untuk masuk saja. Saya berjalan pelan-pelan, dan seseorang melambaikan tanganya, mengirimkan isyarat bahwa tempat yang di pesan di sana. Saya menghampiri, baru empat orang yang datang. Tiga perempuan yang cantik angkatan pertama, dan satu pria yaitu ketua ikatan alumni (ka arsyad ) setelah berkenalan, saya mengasingkan diri. Menjelajahi desain tempat ini. Seorang pelayan terus mondar-mandir mengantarkan makanan ke meja kami. Dari tampangnya sepertinya pelayan ini orang jawa. Itu kemudian terbukti dari logat nya.

Belum ada yang datang, ka arsyad mengajukan pertayaan ” mengapa saya datang sendiri dan tidak dengan bu trini ? ” saya katakan padanya  bahwa Bu Trini bareng dengan Bu Mala, jadi saya naik metro sendiri. Beberapa menit kedepan saya hanya membuka ponsel saya, ada panggilan masuk dari Ka nur, di telepon dia mengucapkan selamat ulang tahun beserta doa-doa yang baik, saya menjawabya dengan amin dan rasa terimakasih. Saya terus mengarahkan pandangan saya ke pintu masuk, menunggu bu Trini, hingga sosok nya datang dengan senyum lebar, saya berlari kecil menghampirinya. Sikap manja saya keluar.

Lalu,orang-orang mulai banyak berdatangan. Saya diminta ka Arsyad menjadi pembawa acara, saya sempat menolak. Entah kenapa di Forum Ikatan Alumni, saya selalu mendadak merasa kehilangan kemampuan verbal, kosakata saya terkadang menjadi kacau, gugup ! Tapi akhirnya saya sanggupi, yah walaupun gugup !

Sesudah membicarakan beberapa hal, akhirnya azan maghrib berkumandang. Kami menyantap makanan, di belakang saya pak Arif dan Bu trini berbisik-bisik, saya menoleh. Pak Arif mengoceh ” Aduh pulang ada KFC nih, kayaknya ada KFC nih pulang ” saya mengerti maksudnya minta di traktir :p duh bapak, kalau saya sedang ada rezeki ini acara saya yang bayarin 😀

Setelah bercanda sana sini, bertanya kabar, rapat kecil. Akhirnya kami pulang, sekitar jam 7 malam. Dan, ternyata kami semua berbelok dan memutuskan ke sebuah karoke. Sekitar 20 orang, kami memesan ruangan.

Tempat ini di desain dengan penerangan yang kurang baik, remang yang dramatis dan jangan coba-coba menatap lampu berwarna warni , mata kalian akan sakit. Dengan lagu, mereka semua seakan bernostalgia, saya termasuk diam saja. Dan mereka semua mulai bertingkah gila, berjoget tidak jelas. Saya pandangi mereka dengan tersenyum, tidak tahu di tempat karoke harus apa, saya melarikan diri ke Gramedia yang terletak persis di sebelahnya, duh banyak buku bagus. Saya sebenarnya mengincar novel Amba  karya Laksmi. Sudah pasang target, novel ini harus saya miliki.

Saya masuk lagi, beberapa alumni angkatan pertama sudah mulai pamit. Lagu-lagu yang asing di telinga saya terus berdendang, saya diam dan hanya berbincang-bincang dengan kakak angkatan saya.

Sampai akhirnya…………

 

Mereka memutar lagu, Selamat ulang tahun.

Hari ini, hari yang kau tunggu

Bertambah satu tahun, usiamu

,Bahagialah slalu

mereka mulai menggila lagi, heboh jumpalitan , berteriak-teriak senang dan saya ? saya bingung harus apa, tangan saya di tarik ke depan, saya sudah berusaha melawan , tapi tetap saja saya terus di dorong ke depan. Saya pasrah pembaca  ! saya satu dan mereka banyak. Teringat akan acara we sing for you yang romantis itu, di depan saya terus menundukan wajah saya, air mata keluar dari sudut mata saya. Ini manis sekali, seakan-akan mengobati perasaan saya. Saya bersyukur sekali Maha Cinta melimpahkan orang-orang baik kepada saya, saya bahagia. Manis sekali lagu-lagu itu, jumpalitan lucu, kalian yang sengaja meledek saya dan ka Arsyad, kalian yang berkonspirasi terus menerus. Ah, kalian keluargaku manis sekali.

Saya bersyukur sekali, Sekolah menengah pertama telah mengajarkan saya bayak hal 😀 apa itu kebersamaan, apa itu saling berbagi di antara setiap kesulitan, apa itu berusaha memperjuangkan impian.

Sungguh kalian manis sekali.

Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik, dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanam apa-apa
Kita tak pernah kehilangan apa-apa
(-Gie- Selasa, 11 November 1969 )

Terimakasih untuk yang telah heboh jumpalitan menyanyikan satu buah lagu, untuk yang menarik-narik tanganku, untuk pelukan hangat, untuk doa-doa yang melangit. Terimakasih, semoga doa-doa itu terjabah. amiin

Bandung dan Benang Merah Maha Cinta

Selalu jatuh cinta dengan kota ini, yang anginnya sejuk walau sinar mentari membara di atas sana. Berkali-kali selalu jatuh cinta dengan kota ini,

 

Berpilin.

Bertahun-tahun yang lalu.

Aku membenci Bandung, aku bersumpah tidak akan pernah menginjakan kaki ke kota itu, tidak akan pernah melewati kota itu !!

Dalam satu tepukan tangan sang Maha Cinta membolak balikan hati , entah bagaimana mekanismenya bekerja. Aku terdampar disini. menggigil dingin. Tersenyum mengenang kebencian tidak jelas itu. 

Aku tidak akan melupakan orang-orang yang luar biasa baik, ucapan-ucapan yang ramah, sambutan yang luar biasa hangat.

 

Bandung, 2014 8 Juli

 

Surat terbuka untuk yang telah menemani saya hampir dua tahun.

 

Akhirnya, inilah titik klimaks dari segala macam rasa yang telah kita lewati bersama, dengan penuh kesadaran saya berhasil menemukan jawaban atas permasalahan klasik yang satu tahun belakangan ini muncul di kehidupan bersosialisasi kita, kehidupan bersama kita.

Akhirnya setelah sekian bulan kamu terus bertanya dan memohon dengan wajah yang memelas, berkata : “Jangan marah-marah terus dong .. “ atau sederet kalimat protes “Kamu mah jadi orang marah-marah terus .. “ atau “Ya Ampun, biasa aja dong nggak usah marah-marah gitu .. “

Saya yang sempat membalas dengan sederet pembelaan :”Udah tahu aku orang nya marahan, bisa gak sih gak di ulangin kesalahan yang sama ? .. “ atau “orang gak bakal marah kalau gak ada penyebabnya, kamu tuh mikir gak sih ? kamu tuh yang bikin api , gak mungkin ada asap kalau gak ada api .. “

 

Begitulah kira-kira dialog yang selama ini hampir terulang setiap hari beberapa waktu ini, dan akhirnya klimaks di saat saya marah di telepon dengan ketidak konsistenan waktu wanita yang telah bersama-sama dnegan saya hampir dua tahun itu. Ternyata ponsel itu di speeker , membuat orang kaget dan lantas amat tidak suka dan bertanya “Siapa sih yang nelpon, marah-marah ? “ dan kau menjawabnya “ Liana, ah udah biasa itu mah .. “

 

Dari situ seperti ada pedang yang terhunus tajam di dada saya, saya seperti tersadar dengan kata-kata “udah biasa” yang keluar dari mulut kamu, setelah itu saya memutuskan tidak menjawab sederet permohonan dan penjelasan kamu, apapun itu. Saya memilih diam, mungkin selama ini saya sering marah dengan gaya mendiami kamu beberapa menit atau jam , tetapi kali ini saya tidak ingin baikan dan lantas terulang lagi kembali marah dengan permasalahan yang muncul.

 

Dari dialaog sederaha dari permasalahan sederhana, akhirnya saya mengerti sumbu pertengkaran kita selama ini adalah “saya” ya, saya sendiri.

Teryata, saya itu ancur.

Ya  , saya ancur.

 

Sore itu saya menangis dengan sedu-sedan , mengkaji ulang apakah arti “persahabatan” yang sebenarnya, berkaca apakah saya sudah pantas di anggap sahabat oleh siapa-pun ? Saya percaya, pengukur terbaik adalah hati kita sendiri. Apa kalian pernah berada di posisi, mengalami persahabatan  yang tidak seimbang ?

Saya sedang mengalaminya, saya sedang merasa tidak pantas menjadi sahabat yang kurang lebih 2 tahun kami telah bersama, saya itu ancur , saya lebih mirip bos dari pada seorang teman baik dan saya merasa kamu tidak perlu berteman lebih jauh dan lebih lama dengan seseorang seperti saya. Sungguh, saya itu ancur.

 

Saya tahu, tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini yang ada hanya orang-orang yang berusaha menyempurnakannya.

 

Saya percaya akan hal itu, manusia adalah sumber ketidaksempurnaan, dan kebersamaan kita yang sering kita proklamirkan sebagai bentuk “persahabatan” saya fikir perlu di kaji ulang, perlu di intropeksi kan ulang.

Bukankah, kamu sering mengeluhakn sifat saya yang teramat bawel pada setiap tindakan super cerobohmu, saya yang kata kamu lebih mirip dan pantas di jadikan mama, saya akui mungkin itu adalah sifat koleris saya yang begitu dominan di tambah lagi habits keluarga saya yang membentuk sedemikian rupa beberapa kebiasaan buruk saya.

 

Akhirnya, saya memutuskan untuk bersikap seakan-akan kamu tidak pernah spesial di hidup saya, memang sulit mungkin rasanya karena kamu adalah teman sebangku dan teman yang sempat susah dan senang bersama saya. Tapi kita butuh jeda, butuh jeda atas segala ke-ego an diri kita masing-masing.

Saya bukan sedang memutuskan yang katanya semacam “persahabatan ini “ . Tetapi, saya sedang memutuskan untuk merenung lebih dalam lagi, bertekad kuat untuk menjadi wanita yang lembut ketika dia marah terlebih sama kamu. Saya tidak ingin lebih jauh menyakiti perasaan kamu lagi, atau membuat semua orang melihat seakan-akan kamu seperti di zholimi oleh saya.

 

Saya itu ancur, saya rasa kamu bisa tampa saya, bukankah teramat menyenangkan melewati hari-hari tampa rasa marah dari saya akibat keceroban kamu ? pastilah amat menyenangkan. Semoga setelah jeda yang saya buat bisu ini, setelahnya kita menjadi sahabat yang sebenar-benarnya sahabat sampai maut menjemput.

  FIB-UI-Fakultas Teknik

 

 

 

Mereka menangis sendu di meja saya

 

Kalau banyak yang mengatakan guru-guru SMA itu menyenangkan, saya rasa saya juga setuju dengan pendapat demikian, memang tidak keseluruhanya menyenangkan. Tapi setidaknya ada beberapa yang membuat kita akan merasa terkagum-kagum.

Sebenarnya, ini kembali mengenai urusan hati sahabat saya yang sedang nelangsa sekali, sayang saat prosesi kegalauan itu meledak di kelas, saya tidak hadir di sekolah ,saya sedang terbaring sakit di rumah.

 

Sahabat saya itu mulai berkisah dengan mata yang berkaca-kaca sekaligus tertawa aneh, dia mulai berkisah tentang lelaki pujaan dalam diam nya tiba-tiba saja menangis saat melihat sahabat saya menangis sendu membaca pesan singkat dari lelaki pujaannya. Patah hati, mereka berdua sama-sama  tersakiti sendiri.

Saya bilang ini rumit, coba kalian bayangkan..

Ada dua orang yang sama-sama saling jatuh hati, tapi keduanya berusaha memakai topeng, berusaha mengalahkan perasaan itu sendiri, bilang kalau satu di antara yang lain tidak ada rasa. Dan saya tahu, getar-getar itu ada. Mereka memendam perasaan, tapi salah paham.

 

Yang satu sang pria cemburu dengan kedekatan sahabat saya dengan teman pria di kelas bernama “X” yang padahal hanya mendiskusikan hal-hal sempele, tetapi ternyata api cemburu itu meledak pada hari ini (kamis 8-11-2013)  sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponsel teman saya , curhat mengatakan bahwa dia sakit hati.

Sementara sang wanita yaitu sahabat saya sendiri tidak tahu bahwa  pujaan hatinya memilki perasaan padanya, dia tidak tahu. Sebabnya dia sadar tidak ada harapan yang akan tertuang untuk wanita sepertinya, sang pujaan hatinya terlalu perfect, sahabat saya itu sudah berusaha mundur dengan baik-baik. Dan moment-moment mundur menjauh itulah yang membuat pujaan hatinya sakit hati.

 

Saya sebenarnya sedang hafalan mekanisme gerak pada manusia, tetapi entah kenapa ingin menulis ini, karena disisi lain terlihat rumit tetapi juga lucu, guru IT saya yang melihat mata sahabta saya berubah menjadi sembab menitogasinya secara guru dan murid oh tidak, secara teman lebih tepatnya.

 

Guru saya mulai berkisah mengenai cinta pertamanya dari SMP sampai detik ini, yang tidak berhasil menyatu, Tuhan tidak berkehendak menjodohkan mereka berdua, guru saya itu memendam perasaan selama bertahun-tahun , klimaks sang wanita duluan menikah, yang ternyata sampai saat ini juga wanita itu memendam perasaan pada guru saya. Intinya : cinta tak tersampaikan.

 

Saya berharap tidak ada lagi yang menangis sendu di meja saya, mereka berdua sahabat saya akhir nya berbaikan dengan indah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kak Yana

Kak Yana,

Betapa aku begitu fasih mengingat bulir bening yang mengalir begitu lembut di pipimu.

Teringat kita berdua yang berkisah di fakultas ilmu budaya, Universitas Indonesia.

Betapa aku ingat kisah ayahmu yang mengharukan , tapi kita tertawa dengan getir. Seadainya ada pintu ajaib, ingin ku seludupkan separuh cahaya agar dapat mematamatai perasaan yangsedang kau coba manipulasi, kau bilang bahagia ka. Tapi ada susut di amatamu yang ingin mengalir.

Aku lantas, mulai berkisah tentang ayahku yang telah lama meninggal sebelum aku tahu bagaimana rupanya, tentang keluargaku yag entah dimana, dan tentang kisah hidupku yang begitu nestapa. Namun aku sendiri tertawa menceritakan kesedihan yang aku alami, mendadak kau menangis ka.

Aku semaki tertawa, bingung kenapa kau menangis emndengar kisahku yang klasik ini.

 

Ka Yana, kita kemudian saling menghapus air mata yang menaglir di pipi, tetapi air mata yang berada di hati, tentu hanya Tuhan yang mammu menghapusnya, sebagai manusia kita nayan mencoba melawan segala paket nestapa ini.

Ka Yana, sebenarnya pada waktu itu sepanjang perjalanan kita d UI aku gemetar, karena selalu teringat akan tangisan mu yang menangisi segala paket kesedihan yang aku hadapi, Aku yakin betul air mata yang kau tumpahkan begitu tulus , rasa empati itu.

 

Ka Yana

Apa kabar ? semoga kau baik-baik saja, tahun ini aku yakin kau bisa duduk di fakultas teknik UI

Semoga doa-doa yang kita rapalkan di jamah oleh Tuhan, aamiin.

Nada dan Bai

Namanya Nada, kalau ditanya siapa perempuan yang paling rajin ? jawabanya Nada, kalau ditanya siapa yang paling pinter ngitung dan rumus jawabanya Nada, kalau ditanya siapa yang paling ribet ngatur kebutuhan anak-anak kelas gue, jawabanya Nada. Nada bagi gue dan teman-teman persis emak-emak kita yang di bawa ke sekolah. Gue yakin, pada paragraf ini dia bakal nimpuk gue di kampus.

Namanya Bai, dia temen satu jurusan dan sekelas juga sama gue dan Nada, Bai ini spesies jenis apa ya ? gak tahu lah, yang jelas dia emang rada pendiem mungkin karena gue duduk gak deket dia  kalau gue perhatiin tapi kalau udah ngerumpi sama cowok di kelas , eet dah ketawa mele.  Bai juga pinter banget soal rumus-rumus, cepet nangkep menurut gue. Bagi gue Bai adalah teman aneh yang selalu tepuk tangan duluan sebelum gue presentasi di depan, aneh kan ?

Nada dan Bai adalah dua orang yang saling bertolak belakang, yang satu ajaib yang satu ajaib bin aneh. Gue gak tahu kenapa Nada bisa naksir sampai detik ini hampir mau dua tahun, naksir loh ya.. naksir. Belum ditembak. Wacana inilah yang selalu menjadi bully-an anak-anak yang semuanya emang gak bakat ngecomblangin tapi bakat ngebully.

Gue akan paparkan beberapa bully-an anak-anak ke Nada dan Bai:

Di suatu kelas di siang yang terik, kita semua lagi ngerjain tugas

Nada : “ Eh Bai, udah belum bukunya ?”

Anak-anak : “Cieeeeeee giliran Bai dipenjemin “

Nada : “*nutup muka* iiiihhh apaaaan sih”

Adegan dua :

Bai presentasi di depan , Nada ngoreksi ada yang salah , maka anak-anak akan langsung

Ciyeeeeeeeeee di koreksi tuh Bai, sama Nada.

Pokonya prinsip anak-anak “ Nada dan Bai tidak pernah benar, kalau mereka membela diri tandanya IYA “ Sampai detik ini anak-anak belum mencari profesi yang baru untuk berhenti ngebully Nada dan Bai,

Menurut sejarahnya, Nada dan Bai itu kayak sinetron alay di teve apa tuh judulnya ? diam diam suka. Huh ! mereka berdua emang udah kelihatan banget punya rasa dan karena gue udah nyangsang di tempat lain gue gak tahu kelanjutan kisah mereka berdua gimana. Tapi waktu gue sempet ketemu sama Nada di mushola, dia bilang berkembang. Gue juga nggak ngerti berkembang kayak gimana, apa kayak gidung kita yang lagi ngalamin pilek ? *diamuk Nada*

Well, gue Cuma berharap Bai layaknya lelaki yang baik serius dan lamar #eaaaaaa karena gue tahun Nada ngerepin itu, mungkin Bai gak tahu kalau Nada barangkali dalam doa-doanya terselip nama tuh anak, ciyeee ngapa jadi romantis religi gini ? Udahlah, gue mendoakan yang terbaik buat Nada dan Bai, gue tunggu undangannya J

 

p.s : Buat angkatan gue yang baca ini, gue bukan tukang gosip kok gue

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑