Mungkin, kini aku hanya bisa menitipkan selamat pada langit-langit kamar yang resah. Selamat, terutama pada diriku sendiri karena aku baru tahu kalau kau sepertinya begitu mencintai seorang perempuan yang matanya seperti purnama. Mendengar kabar seperti itu, apa kau tahu apa yang aku rasakan ?

Aku juga tidak tahu persis, tapi kupikir aku bisa memperjuangkan sesuatu meskipun pada akhirnya kandas dan menisahkan hati yang dirajam kepiluan. Tak apa, aku sudah siap menerima segala resiko. Tetapi, dengan menulis surat ini yang aku perlukan hanyalah mengenang dan menceritakan banyak hal padamu. Sebab, selama ini kau menghilang dari kehidupanku. Aku tidak akan pernah menjadi tempatmu pulang, karena aku bukan rumah untukmu.

Sejak kecil mataku bahkan tidak pernah menjelma menjadi bentuk purnama, bahkan mataku tak sesempurna itu.