(Lagi) Surat untukmu Gie.

Jumat kemarin aku ke toko buku langgananku. Hampir satu jam aku tidak menemukan buku yang menarik untukku beli. Di tengah keputusasaanku, aku melihat satu buku yang sangat menarik, terlebih karena kata pengantar ditulis oleh Ayu Utami, salah satu penulis perempuan terbaik negeri ini. Judul buku itu Sarongge karya Tosca Santoso.

Kau tahu Gie, ketika aku membuka buku itu di metro , sempurna hatiku teraduk perasaan bersalah, rupannya buku itu tentang perjuangan aktivis untuk menjaga hutan di sekitaran lereng Gunung Gede Pangrango. Seketika itu yang aku ingat adalah dirimu, bahkan aku hanya sanggup membaca buku itu di Metro sampai dua puluh halaman. Sepanjang perjalanan pulang aku terus menerus di hantui rasa bersalah.

Di benakku berputar-butar kalimat semacam: Kenapa buku ini berkaitan erat tentang puisi yang kau tulis Gie ? apa Tosca sengaja menulis ini untukmu ? tapi kurasa tidak, ini terlebih karena keadaan disana yang menyedihkan. Salah satu contoh untuk hutan-hutan di negeri ini. Buku ini membuatku sakit Gie.

Gie, maaf jika aku sampai detik ini belum menyelsaikan novel garapanku ( sebetulnya berisi surat-surat panjang ) yang memang benar-benar aku alamatkan padamu. Bahkan dalam jeda kepenulisan itu, kau datang ke dalam mimpiku. Aku titipkan permintaan maaf ini kepada salah satu kenalanku di Facebook, namanya Zaini aku menyandarkan sebutan abang di depan namanya. Setelah mengobrolkan hal-hal remeh ia bercerita bahwa ia dan kawan-kawannya akan pergi ke tempat pelitisanmu.

Kalau kau mau tahu Gie, sebenarnya aku iri sekali. Aku mendadak rindu dengan pohon Rasamala. Di Taman Gunung Gede Pangrango, rasamala yang menakjubkan dapat dilihat di jalur Cibodas-Cibereum, pada ruas kilometer pertama setelah pendakian. Ahli Botani memperkirakan rasamala itu sudah berumur 200 tahun. Apa kau juga menjumpainya Gie ? Menakjubkan sekali Rasalama itu bahkan sudah menyaksikan (mungkin) jutaan para pendaki yang lalu lalang di trek itu.

 

Hal-hal yang aku temui belakangan ini membuatku lagi-lagi merasa perlu menuliskan ini untukmu, sekedar memberi kabar setelah aku beberapa waktu ini menghilang. Meski aku masih sering mengajakmu berbicara hal-hal lucu di negeri ini.

Gie, kenyataanya kita membiarkan banyak orang tertindas di berbagai tempat, atau bisa jadi di samping rumah kita, sementara kita mengeruk keuntungan dari kehidupan yang gila ini. Seolah-olah kita sedang membangun kekayaan untuk keturunan-keturunan kita. Hal ini lah yang sekarang terjadi di berbagai pelosok hutan-hutan kita yang dekat dengan rumah penduduk. Semua ini terasa menyedihkan Gie, dan aku selalu ingin membagikan ini kepadamu. Sampai bertemu di suratku selanjutnya.

Menangis disinilah, sayangku

Edelwis kita yang mati

September yang menyulutkan api di lembah kasih

Menyisahkan rerumputan kering yang membelah lembah

Jangan mati seperti ini, sayangku

Hutan-hutan yang menjadi suram

Suryakencana yang tak lagi indah