Search

Pengeja rasa

Perempuan gila yang melakukan perjalanan menemukan bentuk

Lingkaran orang-orang tak mumpuni.

Apa perasaan kamu, jika kamu ingin sekali belajar tentang sesuatu hal, masuk ke sebuah organisasi yang kamu pikir bisa membantu kamu. Tapi kenyataanya, sial. Kamu berada pada fase dimana orang-orang tak mumpuni melingkar. Kamu bingung, hendak melarikan diri dan mencari tenpat lain tapi kamu merasa tidak bisa membiarkan tempat yang kamu sayang menjadi kacau ?

 

Dilematis memang.

Surat Terbuka Untuk Seorang Teman : Teman,Kamu Tahu ‘Depresi’ Nggak ?

Pada sebuah ruang.

Surat Terbuka Untuk Seorang Teman : Teman,Kamu Tahu ‘Depresi’ Nggak ?

Apa yang secara tidak sadar saya lakukan malam itu adalah menjelaskan betapa dalamnya keputusasaan saya. Saya tidak tahu lagi bagaimana cara hidup. Dan tampaknya tak seorang pun menyadari betapa ketakutannya saya. Tak seorang pun mau mendengarnya.

Masalahnya adalah ketika orang memutuskan bahwa apa yang tampaknya seperti sebuah usaha bunuh diri “hanyalah” sebuah teriakan minta tolong, mereka kadang-kadang menyimpulkan bahwa panggilan tersebut tidak perlu dijawab. Bahkan, mereka memutuskan lebih baik tidak menanggapi, karena pasien tersebut tidak boleh didorong untuk melakukakan tingkah neurotis semacam itu. Dia mesti belajar untuk menunjukkan rasa sakit dengan cara yang sederhana dan langsung, tanpa mengambil jalan simbolisme yang berlebihan seperti itu. tetapi, saya telah mencoba menjelaskan ketakutan dan kebingungan saya, sejelas yang saya mampu, dan tetap tak ada bantuan yang datang.

 -Karen Armstrong, Menerobos Kegelapan

Dear teman.
Kita saling kenal sebelumnya, bahkan orang bilang dimana ada kamu disitu ada saya. Saya mengerti dengan kondisi saya yang begini saya butuh istirahat yang entah bagiamana harus saya lakukan.
Teman,
Semalam adalah hari maulid Nabi kita yang kita sayangi, sudah beberapa kali saya berdoa dengan rasa yang campur aduk, saya bilang begini dengan Allah :” ya Allah, aku tak memiliki kesabaran layaknya Nabi, tapi tolong berikan aku kesabaran setidaknya sedikit saja dari kesabaran Nabi ” Lalu, tiba-tiba saja saya ada suara di batin saya , berkata “ Nabi yang jelas-jelas baik saja hidupnya tak diperlakukan dengan baik, diasingkan, diusir, di bilang gila, dilempari batu. Lah kamu yang jelas-jelas berlumuran dosa begitu loh kok nesu-nesu ? emangnya kamu siapa sih sampai semua orang harus berlaku baik dengan kamu ? ”

Teman,
awalnya saya mencoba menganggap segala celotehan-sindiran kamu sebagai angin lalu, bahkan sikap kasar kamu ke saya, yang bahkan teman-teman sampai harus memperingatkan kamu. Saya berusaha keras sekali untuk tidak peduli. Saya selama ini mencoba untuk diam. Barangkali saya memang pantas dihadiahi sikap kurang ajar macam ini dari kamu, saya kira saya pantas mendapatkan semua ini. Bukankah kamu sendiri yag bilang di bbm bahwa apapun yang kamu lakukan itu terserah kamu ? iya, saya siapa sih ?

Teman,
waktu saya tahu kamu menaruh perasaan lain ke saya, disaat bersamaan saya ragu, sebab beberapa kali kamu membentak saya dengan luar biasa kerasnya. Konyol bukan ? mengaku sayang tapi sekaligus menyakiti. Dan kalau kamu merasa saya terus menyakiti kamu baik dengan sikap atau apapun, saya meminta maaf. Saya sudah berusaha mengambil jalan damai dengan kamu, memulai semuanya dari awal. Saya ingin baik-baik saja dengan kamu, dengan banyak orang. Tapi ternyata kamu merespon berbeda.

Teman,
Saya tak bisa menjelaskan banyak hal kenapa saya bersikap yang sering disalapahami oleh orang lain, mengambil keputusan yang barangkali menyakiti kamu. Asal kamu tahu, hidup saya sudah cukup pedih dengan hal-hal brengsek macam ini. Saya lebih tahu diri saya, dibandng siapapun. Sekalipun ada yang mengaku-aku mengenal saya, itu pun tak terlalu tahu.

Teman,
Sejak kejadian dimana kecurigaan kamu saya benarkan dengan fakta, kamu menjadi orang yang jauh sekali, saya tak bisa lagi meraba perilaku kamu. Kamu jadi membuang muka setiap kali saya bertemu, tapi tetap bercanda sana sini dengan yang lain. Kamu juga melakukan tindakan dengan memojokkan saya, menyindir saya, yang padahal bisa kamu lakukan dengan menulis di bbm atau berbicara langsung dengan saya. Dan terakhir adalah puncaknya kemarin, saat kamu menyindir saya dengan ucapan ” harusnya.. harusnya ” pada seorang teman yang duduk di belakang saya. Baru pada akhirnya kamu bilang saat saya menoleh, menghadapkan diri ke kamu, ” Kritik sana harusnya… harusnya ” Saat itu saya lagi-lagi cuma bisa diam dengan perasaan berkecamuk.

Teman
Saya sudah tak tahan lagi dengan segala perilaku kamu yang mengganggu kestabilan mental saya. Di surat terbuka ini saya akan mengakui bahwa memang semasa hidup saya, saya pernah mengalami depresi minor beberapa kali. Barangkali kamu bisa temukan jejak-jejaknya di blog saya. Bukankah kamu sudah membacanya ?

Kamu tahu gejala depresi ?

  1. Mood yang depresi, sedih dan tertekan hampir sepanjang hari, dan hampir setiap hari. Dapat berupa mood yang mudah tersinggung pada anak-anak atau remaja.
  2. Penurunan kesenangan atau minat secara drastis dalam semua atau hampir semua aktivitas, hamper setiap hari, hamper sepanjang hari.
  3. Suatu kehilangan atau pertambahan berat badan yang signifikan (5% lebih dari berat tubuh dalam sebulan), tanpa upaya apa pun untuk berdiet, atau suatu peningkatan atau penurunan dalam selera makan.
  4. Setiap hari (atau hampir setiap hari) mengalami insomnia atau hipersomnia (tidur berlebuhan).
  5. Agitasi yang berlebihan atau melambatnya respons gerakan hampir setiap hari.
  6. Perasaan lelah atau kehilangan energi hampir setiap hari.
  7. Perasaan tidak berharga atau salah tempat ataupun rasa bersalah yang berlebihan atu tidak tepat hampir tiap hari.
  8. Berkurangnya kemampuan untuk berkonsentrasi atau berpikir jernih atau untuk membuat keputusan hampir setiap hari.
  9. Pikiran yang muncul berulang tentang kematian atau bunuh diri tanpa suatu rencana yang spesifik, atau munculnya suatu percobaan bunuh diri, atau rencana yang spesifik untuk melakukan bunuh diri.

Sumber: diadaptasi dari DSM IV-TR (APA, 2000)

Teman,
semalam sekitar pukul sebelas malam, saya sms ke beberapa teman, jumlahnya empat orang, dengan sms yang barangkali tidak mereka mengerti apa maksudnya dan bagaimana mereka harus menanggapi sms macam itu yang datang saat menjelang tengah malam. Tapi saat bersamaan dengan semua pesan itu, saya sedang menangis sejadi-jadinya, saya sampai harus menyumpalkan kain ke mulut saya, agar teman sekamar saya tak tahu dan tak mendengar bahwa malam itu saya sedang hancur.

Saya ingat banyak hal, dan segala ingatan traumatik tersebut berkumpul pada malam itu, puncak. Sejak saya Tk saya selalu diasingkan oleh teman-teman yang superrior macam kamu, teman yang selalu menarik perhatian, teman yang kalau bicara di dengarkan. Saya ingat sekali , waktu itu di ayunan saya bermain sendiri, saya bilang pada ayunan tersbeut ” bahwa sendiripun tak apa-apa” saya diasingkan entah kenapa, saya selalu disindir, saya selalu dijauhi. Dan saya selalu diam.

Sialnya, saar Sekolah Dasar saya mendapat perlakukan yang sama, bahkan lebih buruk. Saya hanya memiliki lima orang kawan yang benar-benar dekat, bahkan saat sekolah dasar saya selalu mendapat perlakuan menyakitkan verbal maupun fisik. Saya dijauhi, dibenci dengan alasan yang tak jelas. Bukan hanya teman-teman yang seperti iitu melakukan pada saya, tapi juga guru saya. Kamu bisa membayangkan betapa menyedihkanya hari-hari yang berlangsung seperti itu ? SETIAP DETIKNYA KAMU SEPERTI DIHADAPI DENGAN BUNUH DIRI.

Sayangnya, keluarga saya tak tahu banyak dengan segala macam yang menimpa saya. Saya tumbuh dengan pikiran yang berbeda dari anak pada umumnya, lalu saat saya SMP, saya lebih banyak berdiam diri di perpustkaan, orang-orang tak banyak yang mendekati saya. Dari situ saya mati-matian mempelajari psikologi, bahkan sejak SD saya mati-matian membaca ulang apa itu ” Ansietas (adalah kondisi yang ditandai dengan kecemasan dan kekhawatiran berlebihan atas peristiwa kehidupan sehari-hari tanpa alasan yang jelas untuk mencemaskan/ mengkhawatirkannya. )

saya harus bertengkar dengan pikiran-pikiran saya yang tidak saya mengerti bagaimana polanya. Dan tentu saja keinginan atau bayang-bayang bunuh diri kerap menghantui saya. Dan ketika saya SMA itu adalah masa dimana akhirnya saya mengalami depresi minor beberapa kali. Saya lari dari kenyataan yang membuat saya semakin muak dengan kehidupan, disaat yang bersamaan saya justru tertarik dengan filsafat dan tasawuf.

Saya ingat sekali, di tengah keputasaan saya pada hidup, saya dengan gemetar mengetikan permintaan tolong kepada salah satu tokoh spiritual hindu, Gede Prama. Dan setelah itu saya kira saya selesai, saya ingat sekali kata beliau apa yang sedang beralngsung jangan pernah dilawan dengan apa yang seharusnya. sebab itu akan meinmbulkan penolakan yang akan berakibat timbul konflik dalam diri seseorang.

Teman,
saya tulis ini anggap saja saya sedang melakukan sebuah terapi diri. Saya harus melewati mimpi-mimpi buruk karena saya meredam masalah ini, bahkan dalam mimpi perlakuakn buruk kamu terulang jelas terus menerus. saya anggap semua baik-baik saja, padahal batin saya menolak itu. Kalau setelah membaca surat ini kamu justru semakin benci dengan saya, saya terima, kamu memang sedang menghadapi orang depresi. Saya tak sedang mengancam kamu, saya hanya ingin berbagi kisah pahit saya, yang menjadi alasan, mengapa saya sampai serapuh ini dan menuliskan ini.

Tak ada yang benar-benar kuat mampu bertahan dengan orang yang memiliki gangguan mental, keadaan yang mudah depresi, emosi yang naik turun dan segala macam hal diluar wajar. Tapi kamu harus tahu, setiap orang itu “gila” hanya saja nilai gila itu adalah hasil kesepakatan banyak orang. Kamu dikatakan gila kalau kamu memakai daster dan dengan pedenya ke pasar, sebab masyarakat membentuk itu, sedih memang.

Setiap kali saya bercerita hal menyedihkan macam ini, respon-respon teman , sahabat atau apalah cuma sampai pada ambang ” sabar ya, ndak usah dipikirin ” Saya sudah muak dengan ucapan macam itu, barangkali saya hanya butuh ditenangkan, dipeluk dan dikuatkan. Bukan hanya dengan ungkapan macam itu, saya sadar tak ada yang mengerti luka seseorang selain diri-nya sendiri. Tak ada.

Teman,
saya sudah mencoba jalan meditasi, yoga, sampai kombinasi meditasi dzikir. Saya sudah mencoba hal-hal itu meski belum maksimal. Saya sudah berusaha sekuat mungkin menyembuhkan masalah saya sendiri.

Terakhir, setelah membaca ini kamu semakin tak karuan kepada saya, saya berusaha terima itu, saya harus tetepa berada disini, kasihan orang tua saya. Saya harus tetap berada disini, apapun yang terjadi. Kamu bisa dengan mudahnya mengungkapkan kekesalan kamu dengan cara yang kamu suka, tapi akibat dari itu saya harus mengalami ini lagi, sebab apa yang kamu lakukan membuka luka lama saya sejak kecil.

saya memohon maaf jika kamu merasa kamu disalahkan , tidak. Jujur demi apapun saya hanya ingin berbagi cerita ini, supaya saya sedikit lebih tenang.

Dunia ini menyedihkan, layak kita akhiri, mari bunuh diri.

Anda Pembaca Blog saya di Amerika ?

Halo,

begini, saya lihat pembaca blog saya yang kumel ini lumayan banyak untuk presentase kawasan Amerika, saya sempat curiga jangan-jangan saya diawasi oleh agen-agen wahyudi dan yang lainnya :v :v

 

Oke, buat kamu pembaca yang berdomisili di Amerika, saya mau dong menyapa kalian , barangkali diantara kalian ada yang telah menjadi pembaca setia blog kumel ini hehehe

 

yuk, kirim email ke Senjaseptember@gmail.com

 

p.s : Menerima segala bentuk curhat dan saya akan dengan senang hati berusaha membalasnya.

p.ss : tidak hanya berlaku untuk Amerika saja sih, tapi buat semuaaaaaaa

462,1 km

Itu adalah jarak Jakarta-Semarang.

Ya, sekarang saya sedang menetap disini, entah sampai kapan. Saya sedang merenovasi otak serta tatanan hidup saya, barangkali sendiri, barangkali bersama seseorang, atau kelompok. Tak ada yang benar-benar jelas.

Saya memutuskan jauh dari keluarga saya, meski mau tak mau saya masih harus menggantungkan biaya sehari-hari saya pada kedua orang tua saya, yang harusnya sudah tak perlu melakukan ativitas yang mengguras banyak tenaga. Saya masih kelimpungan membiayai kehidupan saya sehari-hari, kadang saya membiarkan diri saya kelaparan bukan main. Kadang saya merasakan diri saya kenyang. Kadang saya tak ingin apa-apa, apapun.

Saya menjadi kacau akhir-akhir ini, banyak buku yang belum saya khatamkan. Saya juga harus bergelut dengan serangkaian deadline tulisan, yang bahkan EYD saja, saya masih bobrok bukan main. Tapi toh, atas kejanggalan hidup yang terus menimpa saya, saya bahagia…

Saya bisa menemukan harga nasi kucing seribu, saya bisa menyesatkan diri di lembah-lembah dan berteriak sendu di bawah air terjun. Hal yang harus saya bayar mahal ketika saya di Jakarta. Tapi saya janji, minimal tahun 2016 saya sudah berheni mengantunggkan biaya dari keluarga saya.

 

Saya ingin lepas….

 

Yang Bertahta

Prabu.

Tanah air ini, tempat kelahiran kita, tempat kita kemudian disemayamkan. Tempat, dimana kita pada akhirnya saling kembali menemukan tubuh-tubuh untuk membaca apa yang alfa. Tangis masih saja terdengar lirih, masih saja menyisahkan jantung yang dedah.

Prabu.

Selalu ada malam dimana mimpi enggan mencair, aku ingat bagaimana tegap tubuhmu  menjadi tempat aku bersandar. Pernah dalam gelap, air mataku jatuh, jatuh di dadamu di dadaku.

Prabu.

Aku perlahan memulihkan ingatan, waktu itu hampir senja, hampir senja. . . kita masih saja diburu oleh pasukan. Aku tak mau jadi tahanan, aku tak mau di perlakukan biadab. Tapi, Prabu…

Dia menusuk tubuhmu dengan sebilah keris. Matamu membelak, s-a-k-i-t. Disusul guntur yang maha dasyat, disusul hujan. Dan berakhir dengan aroma melati yang ganjil.

Jika saja saat itu aku melayangkan sumpah angkara murka, barangkali yang musnah adalah anak-anak tak bersalah. Maka denagn seganap luka di batinku, aku berlari kesana-kemari.

Prabu.

Sepanjang Blora dan Demak yang penuh dengan desingan pedang, aku selalu takut menoleh kebelakang, aku takut ada sesuatu yang membawa aku pergi. Aku lebih suka mati kearah selatan dari pada terbunuh oleh musuh. Bagaimana nasib puteri sepertiku ini, prabu ? katakan padaku . . .

Prabu

Pundak kiriku terluka, kain-kain juga sobek tersangkut kayu-kayu yang menyakitkan. Hutan yang menyedihkan, kereta putih aku tinggalkan. Dengan sisa pasukan yang sedikit itu, aku diobati oleh seseorang yang baik hati. Untuk pada akhirnya, aku pergi pada suatu rumah.

Di keraton, pada suatu purnama, ketika luka-luka tak mampu bicara tentang sakitnya peperangan.

 

Semarang.

Hampir Senja

Memejam, rumput melambai-lambai di istana, suara ringkih kuda setelah perang kerap menghantui. Jari-jari, seperti malam-malam kemarin. Beku

Jiwa tak cukup kuat, semua seolah memainkan peran menjadi metafor-metafor yang pelan-pelan lenyap. Telalu tegak sendiri, membiarkan ratusan pasukan mati, tanah telah dihujani darah dan kesedihan.

Sebuah tanya yang bertubi-tubi, setengah putus asa mengumpulkan banyak kekuatan dari segala penjuru. Kekuatan yang menjauh, kerajaan yang hancur, bangunan yang rubuh. Besi baja percuma. Sekarang pulau jawa tertutup kabut.

Puteri telah meninggalkan mahkota, pada suatu purnama

Di depan keraton. Kesendirian tak jadi menakut-nakuti, dupa-dupa telah lama mati. Sesaji tela membakar (dirinya) sendiri. Di luar sana, perang masih saja terjadi, di dalam diri perang tak pernah usai. Menumpang singah, atau tinggal berabad-abad lamanya.

 

Hilang begitu saja, semua kejayaan, semua keluarga. Para perempuan mati menusnahkan diri menghadap ke selatan, dikebumikan ke timur. Kelak, segala ruh akan berakhir sendiri-sendiri.

Pada sebuah purnama, yang telah bersumpah meningalkan mahkotanya. Jari-jari yang lelah meraih bintang.

 

 

Semarang.

Untuk Hilmi

Tak ada

Barangkali di depanmu Cuma ada bayang gelap, Tuhan yang m I s t e r I , kehidupan yang membuat kau berkali-berkali ingin menyayatkan pisau ke nadi atau menenggakan racun kemudian berharap kau lekas mati.

Segala n y e r I

Dalam pikiranmu barangkali semua hal itu dapat sekejap meluluhlantahkan rasa sakit yang tak berkesudahan.

Yang aku kasihi

: Hilmi

Kalau kau bersedih hati dan ingin menangis, menangislah tak ada yang berdemonstrasi di depanmu , Menangislah sampai kau merasa kau sudah cukup menangis, sampai matamu lelah, sampai tangismu bahkan tak mengeluarkan isak. Tak apa . . .

Kalau sudah lelah, Bangkitlah , coba tenangkan dirimu , sejenak , bertasbihlah dalam jeda yang begitu indah. Ceritakan pada Allah, apa yang begitu menyiksa batin dan pikiranmu .

D I a m a h a m e n d e n g a r, maha pengasih . .

Kejarlah ia , merangkak, tertatih-tatih , kalau kau sudah limbung berdarah , pasrahlah … pasrah yang paling luar biasa dalam hidupmu .

Allah . Maha Adil , sayangku .. .

Berhentilah mencari Tuhan dengan matamu yang terbatas itu, tapi lihatlah dengan Bathin dan Hatimu yang senantiasa dia aliri kasih sayang.

Ia tak pernah pilih kasih, ia memilihmu untuk bernafas karena kecintaanya padamu .

Lelah … lelahlah ditipu Allah

Dia menciptakan banyak hal agar kita tertarik pada apa saja yang semu dan tergagap menghadapi sebuah kenyataan. Jangan mau dicelupkan Allah pada kehidupan dunia yang keterlaluan sompret ini . Jangan mau !

Dunia sudah membuat semua makhluk patah hati, sayangku.

Mari kita berjalan pulang bersama-sama meski hakikitanya sendiri.

Tersenyumlah , Allah mencintaimu lebih dari yang kamu tahu . . .

Selamat ulang tahun. . .

Semarang, 6 September 2015

Jilbab Modis atau Syar’i ?

Sebelumnya saya meminta maaf sebesar-besarnya atas kekurangan saya dalam mendalami pengetahuan, sehinggah saya bisa dengan bodohnya membuat arikel yang berjudul ” Wahai Ukhti Masih maukah berhijab Modis ? ” Artikel yang kemudian saya rasa membuat kesalahah pahaman besar dan memicu seseorang merasa lebih baik dan memadang yang lain tidak baik.

Dalam perjalanan beragama , kita semua tentu ingin taat pada Sang Pencipta. Termasuk menutup aurat yang sdah tertulis jelas dalam al-Qur’an, tapi manusia dengan kemapuan terbatas mencoba menafsirkan apa yang tertulis di Al-Qur’an, saya mau jujur saya masih tak paham mengapa al-Qur’an di susun dengan cara acak. Tapi saya akan berusaha belajar mengkaji al-Qur’an sepanjang hayat.

Saya dulu begitu meyakii bahwa hijab modis itu tidak baik (bukan dosa) sebab berlebihan dan mengundang perhatian banyak orang. Tapi kalau saya pikir-pikir secara logika, pikiran pada dasarnya kembali lagi ke si “aku” bukankah setiap orang mempunyai latar belakang pemikiran yang berbeda ? yang bahaya itu “prasnagka” misal kita yang merasa telah berhijab syar’i merasa telah benar dan melihat yang modis dengan tatapan aneh , berprasngka bahwa mereka tak taat pada aturan Allah ?

Jilbab Syar’i ?

Adakah Jilbab Syar’i ? mengapa seolah-olah masalah syar’i hanya melekat pada perempuan ? mengapa tak ada sarung yang syar’i ? #lols mengapa tak ada peci yang syar’i ? Akhirnya saya mengimani bahwa ini adala salah satu stategi jualan. Dulu saya sempat berfikir , mengapa busana muslim dipakai orang kristen ? contoh baju koko bukankah itu dibilang akaian muslim ? lalu mengapa artis-artis beragama non islam di layar kaca memakainya ? mengapa teman saya yang  beragama kristen juga punya beberapa stel koko di lemarinya. Bukankah ini lucu ?

Marketing telah membuat delusi dari mulai pakaian , kalau ada pakaian muslim berarti ada juga pakaian kafir ? bukankah dalam Al-Qur’an sebaik-baiknya pakaian adalah pakian takwa ?

Masalah Jibab dan segala problemanya saya hanya mengimani dua hal untuk diri saya sendiri : Menutupi dada dan Tidak transparan.

Modis ?

Sebenarnya jilbab itu masalah kenyamanan, asma nadia selalu nyaman dengan model jlbab begitu, Oki yang model jilbabnya gitu, dan banyak lain-lain. Pemahaman dan selera seseorang bisa berubah seirung waktu.

Oh iya, gaya kerudung tertentu juga bukan milik agama tertentu , untuk mau melihat perbandingan jilbab di agama-agama dan jilbab Indonesia dari jaman dulu sampai sekarang silakan klik https://gayatriwedotami.wordpress.com/2013/03/06/tudungkepala/

Saya mau kita umat muslim berhenti memperdebatkan hal-hal yang tak layak di perdebatkan. Ya kayak jilbab syar’i dan modis 🙂

      

   

Saya terlihat berubah tetapi sebenarnya tak kemana-mana .  . . . . . . .

Aku ingat

“kalian yang pernah mesra serta baik dan simpatik kepadaku
tegaklah ke langit luas
atau awan yabg mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa
kita tak kan pernah kehilangan apa-apa ”

-Gie

Pada suatu masa dan urutan waktu yang acak. Aku mengingat semuanya dengan detail begitu jelas. Peristiwa demi peristiwa yang meninggalkan jejak.

Aku ingat ketika kecil aku bisa selalu berambut layaknya laki-laki.Aku juga ingat ketika aku tertidur di kursi dan ayah akan menggendongku ke tempat tidur. Aku ingat bagaimana Mama berjuang mati-matian agar aku sembuh. Aku ingat, dokter yang menjadi langganan dan pada suatu hari aku melihat ia bosan denganku. Bosan karena aku terus menerus sakit dalam waktu yang dekat. Pada akhirnya aku memutuskan untuk tak lagi mamanggil dokter ke rumah. Aku berhenti meminum obat, berhenti bertemu dokter. Dia kira aku ini pengemis yang meminta sakit terus menerus kepada Tuhan?

Aku ingat masa-masa sekolah dasar dimana aku begitu sendirian. Aku selalu mengeluhkan bahwa kepala kusakit. Sakit setiap hari. Aku juga ingat bahwa pada masa sekolah dasar aku tak henti-hentinya bertengkar dengan Tuhan. Tuhan adalah biang segala sumber kekacauan dan kesedihan yang terus menerus menimpa hidupku. Aku ingat bagaimana hampir setiap hari aku ingin mati bunuh diri. Aku juga ingat di depan rumah nenek, aku mengutuk Tuhan berkali-kali. Menghabiskan air mata dimalam panjang dan apalagi kalau bukan bertanya pada Tuhan, apa mau ia?

Aku ingat saat sekolah dasar Mereka yang punya teman adalah mereka yang bisa mengambil alih. Mereka yang pintar, yang cantik. Aku ingat mati-matian membenci sikap guru aku kala itu. Ia melakukan diskriminatif besar hanya karena aku tak pandai dalam matematika. Aku kala itu duduk di ruang kepala sekolah dan guru aku putus asa. Putus asa sekali, hanya karena aku dan beberapa teman tidak pandai matematika. Sejak itu aku bersumpah kalau kelak aku di izinkan menjadi guru aku tidak akan seperti itu. Aku tidak akan konyol seperti itu.

Aku ingat momen dimana sudah lebih belasan tahun aku menjadi agen Neptunus, rajin nengirimkan surat ke markas.

Aku ingat ketika aku dibawakan sesuatu yang aneh oleh ayah dan Mama, itu alat terapi dan aku memakainya sepanjang aku tertidur. Aku tak lagi pusing terus menerus. Aku bisa dikatakan sembuh. Aku juga ingat bahwa alat itu dibeli dengan cincin emas kakak perempuanku dan satu ternak Ayah.

Aku tahu itu.
Aku ingat ketika aku begitu tertarik pada kajian psikologi saat sekolah menengah pertama. Aku ingat bagaimana aku tak jajan di kantin dan membiarkan diri kelaparan karena jajanan kantin tak ada yang seenak masakan mama. Aku ingat kartu perpustakaan yang berwarna merah muda yang sudah penuh aku pinjam buku ini itu.
Aku ingat sekali. Ketika aku mendapat peringkat terus menerus wajah Mama begitu bahagia.

Aku ingat ketika aku harus di operasi, aku ingat bau obat yang menyeruak di penjuru rumah sakit. Aku ingat bagaimana tubuhku digunjangkan terus menerus oleh Mama karena sempat kritis. Aku ingat warna-warni selang yang menempel pada tubuh. Aku ingat setiap detik, rasa sakit luar biasa karena jahitan di tubuh. Aku ingat tak bisa tertawa, bicara, atau merintih. cuma bisa diam. Mengerak-gerakan mata atau menangis.
Aku juga ingat pada usia empat belas tahun, aku akhirnya berdamai dengan Tuhan.

Aku juga ingat, teman-teman sekelas menjenguk . Guru-guru menengah pertama yang jauh lebih baik. Aku ingat bagaimana Bu Trini mengali potensi dalam diriku. Aku punya sesuatu yang bisa membuatku jauh lebih hidup. Menulis dan Membaca.

Aku tiba-tiba ingat aku tak pernah memiliki gairah di masa sekolah menengah atas. Aku melakukan pemberontakan halus. Aku juga ingat bagaimana aku tak suka ilmu pengetahuan alam. Guru-guru yang sampai saat ini Di kepalaku yang membekas adalah sifat tua yang konyol. Aku ingat aku tak pernah antusias, aku tak ikhlas. Aku menjalani sepanjang tahun dengan keyakinan ” semua ini akan berlalu ”

Aku juga ingat memiliki Lima orang guru pada masa menengah atas yang benar-benar aku sayangi. Cuma mereka penghibur setiap kejenuhan di carut maunya sistem pendidikan yang kacau.

Aku juga ingat, ketika aku masuk HTI dan aku yang akhirnya tak dapat bertahan karena ternyata aku memiliki pandangan yang jauh berbeda. Aku tak suka sesuatu yang di doktrin. Mereka yang selalu berlagak sebagai tangan kanan Tuhan. Mereka yang begitu mudahnya melebelkan kafir. Mereka yang tak mau di ajak duduk bersama. Tapi aku juga harus ingat bahwa mereka adalah salah satu kekayaan.

Aku ingat bagaimana wajah kuyu aku datang ke sekolah tinggi filsafat islam dan bertemu seseorang untuk mendiskusikan perpecahan gerakan dakwah di Indonesia. Aku yang limbung dan kecewa oleh mereka yang hanya mengandalkan kesalehan luar. Aku ingat setiap rasa kecewa itu. Aku yang hampir-hampir kehilangan harapan atas agama. Aku yang begitu bingung dengan banyak hal.

Suatu hari pada usiaku pada masa sekolah menengah atas. Aku ingat bagaimana aku terus menerus kehilangan makna hidup. Keinginan untuk pergi entah kemana selalu menghujam pikiranku kuat-kuat.

Aku ingat bagaimana aku selalu bersedih memandang banyak hal. Tatanan dunia yang gemuruh. Orang-orang yang tak henti-hentinya mengeruk ke untungan. Aku telah patah hati terhadap kehidupan dunia. Aku ingat sekali bahwa aku n mengunci diri di kamar dan tak sekolah selama berhari-hari. Tak ada yang bisa aku ajak berbagi. Semua orang disekitarku sarat akan prasangka dan tak mengerti bagaimana jalan pikiranku yang sesungguhnya.

Aku ingat Bu Trini yang bilang bahwa aku tak bisa dijangkau lagi olehnya. Aku yang orang-orang kira bahwa aku gila. Aku ingat setiap kritik dan kekhawatiran mereka. Tapi aku punya alasan kuat. Aku tak mau hidupku berjalan layaknya manusia bodoh. Padahal firman pertama Tuhan adalah ” Bacalah!”
Aku juga ingat bagaimana semua orang mendikte aku ini itu. Mengingat perubahan diriku sesuai kepala mereka. Aku juga ingat semua orang bosan ketika aku jatuh sakit. Akhirnya jika aku sakit aku memilih diam, ekspresi mereka begitu membekas dalam kesadaranku.

Aku juga ingat bagaimana aku selalu dihadapkan pada mereka yang menyandang status “kerabat ” yang berlaku bukan lagi seperti “kerabat” aku juga ingat bagaimana orang-orang selalu meremehkan dan mencaci maki serta menghina. aku ingat semua perkataan mereka yang membuat aku menangis diam-diam, yang akan aku syukuri karena ternyata Tuhan tak suka aku diperlakukan seperti itu.

Aku ingat bagaimana dingin gunung membuat semua tulangku menggigil. Aku yang dalam keadaan sakit dan memaksa untuk terus mendaki. Aku ingat setiap rasa lelah yang aku lewati di bebatuan curam. Dan terbayar dengan taburan bintang yang menyebar di atas kepalaku.
Aku ingat semua kelelahan panjang hidup yang tak bisa aku mengerti. Aku ingat bagaimana semua hal menyakitkan dalam hidupku selalu tak ada apa-apanya dengan mereka yang lebih luas biasa.

Aku ingat bagaimana akhirnya aku bercerita pada Gede Prama dan menemukan akar masalah. Aku mulai banyak membaca spiritualitas hindu dan Tasawuf.
Aku ingat bagaimana setiap waktunya aku mulai berdamai bukan hanya dengan Tuhan tapi dengan banyak hal. Aku ingat bagaimana Tuhan memberikan aku teman -teman dunia maya yang memberikan perenungan panjang

Aku ingat pertama kali Sewestawan memposting suratku untuk Gie di statusnya.
Aku ingat bagaimana ia selalu mengomentari banyak hal dan menuliskan itu di statusnya. Aku ingat ia yang agak kacau seperti aku di tahun-tahun yang lalu. Kesan yang mendalam sekali. Ia mencari Tuhan. Ia patah hati sekali. Aku tak yakin ia menyadarinya. Ia akan menutup akun facebooknya aku sedih. Tapi itulah hidup. Sudah laku tapanya ia harus begitu.

Aku ingat Ka Budi yang mengajarkan aku banyak hal. Apa itu teater, gerakan kiri, dan filsafat yang membuat aku betah diskusi dengannya seharian. Ia yang mengajak ke laut hanya untuk mendengar ombak. Ia yang telah menanggap aku sebagian adiknya sendiri.

Aku ingat bagaimana Bang Khafi begitu menarik perhatianku. Di masa-masa aku begitu kecewa, ia menuliskan banyak hal yang se-pemikiran denganku. Ia yang baik hati menjawab pertanyaanku. Ia yang mau berbagi cerita. Ia yang bilang tulisanku bagus. Meski aku tetap tak yakin.

Aku ingat bagaimana Mbah Arif mau mendengarkan banyak hal dariku. Ia yang tatapan matanya meneduhkan ia yang mengarahkan aku ke banyak hal. Ia yang pengalaman spiritual nya membuat aku tersenyum. Ia yang begitu mencintai anak-anak. Ia yang suaranya lembut tapi jika marah aku sampai diam ketakutan.

Aku juga ingat ka Wely yang mau kopdar dan menjemputku ketika di Bandung. Mengajak aku jalan-jalan dan mentraktir ini itu. Ia yang mencintaiku karena Allah. Ia yang aku sayangi.

Aku ingat Mas Azka yang puisinya bagus sekali, ia yabg lucu dan rendah hati. ia yang kurang mengerti bahasa gaul. ia yang baik

Aku ingat Ka Leni yang hari kelahirannya sama sepertiku. Wajah kami yang hampir mirip. Pandangan kami, kekecewaan kami yang sama. Ia yang selalu menyesatkan diri di alam Indonesia. Ia yang anak tunggal dilematis. Ia yang membawaku melihat dunia yang tak terbatas.

Aku ingat Bang Ragil yang pernah membuat aku senyum seharian karena segala pernyataan konyol nya. Ia yang kritis. Ia yang berprinsip. Ia yang sayang ibunya dan ia yang selalu ingin memiliki teman seperti Harta. Ia yang begitu baik padaku.

Aku ingat kak Ira yang telah aku repotkan selama aku kuliah. Ia yang begitu lembut menggenggam tanganku saat tidur karena dingin. Ia yang suaranya selalu aku rindukan. Ia yang puisi.

Aku ingat Mas Doni yang buku kembali menjadi manusia begitu luar biasa. Ia yang rendah hati dan mau berbagi ilmu padaku.

Aku ingat Mbak Qonita yang susah payah mau mengantarkan aku ke Jalan Pulang, ia yang mau membantu aku belajar menerjemahkan. Berbagi banyak hal dan menghadiahkan tasbih cantik untukku

Aku ingat Uda Arif yang sudah aku kenal selama hampir empat tahun. Ia yang dulu begitu menyebalkan. Ia yang terpasung kenangan. Ia yang baik hati dan mengalah atas sifat-sifatku yang di luar dugaan. Ia dan aku yang sama-sama berusaha ke jalan pulang.

Aku ingat Bang Aldo yang tertarik dengan Nietzche, bang Aldo yang pikirannya banyak yang bilang ia kacau. Bang Aldo yang bagiku salah jurusan, ia yang mau berfikir sendiri dan tak suka dibariskan.
Aku ingat mas Sebastian yang telah memberikan aku pengetahuan luar biasa tentang meditasi zen. Ia yang mau mendengarkan aku. Ia yang telah berjasa padaku. Ia yang menyadarakaku tentang sesuatu hal.

Aku ingat Uda Alfathti yang selalu menginspirasi, ia yang perjalanan kembali ke Tuhan penuh jatuh bangun. Ia yang selalu bersedia menyampaikan banyak hal. Ia yang saat ini sedang sakit. Semoga ia diberkahi usia yang panjang.
Aku ingat Mbak Nyutz yang lucu, yang selalu menghibur jagad facebook. Ia yang sisi lainnya membuat aku terkejut. Ia yang selalu rajin membulli jomblo.
Aku ingat Bang Taufik yang selalu di buli, ia yang tekun belajar Filsafat, ia yang juga baik dan mau berbicara hal-hal tak jelas padaku. Ia yang tak pelit membagikan makalah luar biasa.
Aku ingat Bang Merah yang luar biasa jenius, iya yang mengkritik banyak hal yang membuka pandanganku. Ia yang kecewa, ia yang masih mau menjalani hidup.
Aku ingat Bang Arifin yang bersedia menjadi agen neptunus ku. Ia yang sudah tujuh kali mengirimkan surat ke markas. Ia yang tak kehilangan mimpinya.

Aku ingat ka Risna yang suka berbicara dengan semut sama sepertiku, ia yang perenungan nya dalam. Ia yang begitu lembut dan mau mengkritik beberapa hal dariku.
Aku ingat Bu Gayatri yang tulisanku membuat aku menuliskan hal yang sama disini. Ia yang luar biasa, ia yang tangguh, ia yang cerdas luar dalam.
Aku tak tahu mengapa aku bahagia mengenal dan bersama mereka. Mereka yang ikut menyumbangkan banyal hal dalam hidupku meskipun barangkali mereka tak menyadarinya.
Aku ingat aku kerap ketakutan jika harus sakit mati kesepian.
Aku yang telah lahir dan merenungi kelahiran.

Jakarta 16 Juli 2015

Blog at WordPress.com.

Up ↑